Oleh : Riyanti 
(Mahasiswi Fakultas Syari’ah UIN BANTEN) 

Mediaoposisi.com- Beberapa waktu belakangan ini, kata 'hijrah' begitu populer di kalangan Muslim Tanah Air. Tidak sedikit warga dunia maya yang menyebarluaskan kata tersebut di laman media sosial untuk mengajak warga dunia maya lainnya ber'hijrah'.

Hijrah memiliki makna "berpindah" dari satu tempat ke tempat yang lain, dari satu keadaan ke keadaan yang lain, dan dari kondisi yg buruk pada kondisi yang baik . Dalam sejarah Islam, hijrah pernah dilakukan oleh Rasulullah dan para sahabat dari Kota Mekkah ke Madinah.

Tak lain tujuannya ialah untuk menerapkan aturan Islam dalam sebuah negara yang dipimpin oleh seorang pemimpin dan menyebarluaskan ajarannya lewat jihad dan dakwah.

Maka tak ayal pada saat moment hijrah tersebut Islam semakin berkembang dan ajarannya tersebarluas hampir ke 1/3 belahan dunia. Kesejahteraan, perdamaian, persaudaraan sangat terasa saat itu.

Lewat kebijakan satu pemimpin yang satu pemikiran, satu perasaan dan satu peraturan akhirnya ummat Islam bersatu. 1924 menjadi moment meyedihkan bagi ummat Islam, pasalnya saat itu Khilafah Islam runtuh di tangan munafiqun Musthafa Kemal Attatruk dan para anteknya. Demokrasi digaungkan untuk menjadi pengganti sistem Islam. Namun nyatanya sampai saat ini demokrasi hanyalah sebuah Ilusi.

Tidak diterapkannya aturan Islam menjadi faktor utama bagi pendidikan, hukum, politik, sosial di negeri demokrasi tidak mensejahterakan. Indonesia termasuk negara yang menerapkan sistem demokrasi.

Di Indonesia, perubahan sistem dan pemimpin sudah beberapa kali dilakukan. Mulai dari masa orde lama, orde baru hingga orde reformasi. Sudah bukan rahasia publik lagi bahwa dalam pergantian ketiga masa tersebut tak menjadikan Indonesia sebagai negeri yang sejahtera secara universal.

Pergantian pemimpin sudah dilakukan sebanyak 7 kali, namun lagi-lagi rakyat dikecewakan dengan janji-janji manis para calon saat kampanye. Sikap otoriter, penghinaan agama, pro-PKI, ketidakadilan hukum, kesenjangan sosial menjadi warna yang menyertai kehidupan Indonesia selama ini.

Tahun 2019 Indonesia akan kembali menggelar pesta demokrasi untuk memilih pemimpin negeri ini. Siapakah yang akan memimpin Indonesia? Tergantikah pemimpin lama atau masih tetap bertahan dengan segala kebijakannya? Viral pula tagar #2019GantiPresiden. Menjadi bukti bahwa rakyat Indonesia sudah gerah dengan kepemimpinan hari ini.

Maka sebenarnya pergantian pemimpin saja tak cukup menjadikan Indonesia dan negeri-negeri lainnya sejahtera. Diterapkannya sistem demokrasi yang  berasaskan nafsu menjadi faktor utama terjadinya setiap permasalahan dalam sebuah negara.

Seorang pemimpin muslim bahkan kyai sekalipun ketika mereka memimpin, mereka tak bisa lepas dari sistem yang diterapkan. Tak mungkin bisa menerapkan aturan-aturan Islam kaffah sementara sistem yang diterapkan bukan dari Islam.

Indonesia perlu hijrah total dari kondisi buruk ke kondisi yang lebih baik. Sebagaimana Allah memerintahkan kepada seluruh umat Islam untuk menerapkan aturan Islam secara kaffah keseluruhan.

" Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu".  (TQS. Al-Baqarah :208)

Perbaikan itu tak bisa hanya dengan mengganti pemimpin, karena itu hanya solusi parsial bukan universal. Solusi totalnya yaitu ganti pemimpin juga ganti sistem . Sistem yang datang dari Sang Maha pencipta, yang Maha tahu apa yang terbaik untuk Mahluk-Nya yaitu Sistem Islam.

Syari'at Islam hanya dapat diterapkan secara kaffah dalam negara Islam yaitu Khilafah yang menjadikan Al-Qur'an dan Assunah sebagai pedoman. Dan kesejahteraan akan terasa ke seluruh penjuru dunia oleh setiap Mahluk-Nya.

Sebagaimana Allah SWT berfirman dalam Q. S. Al-Anbiya : 107 "Dan tiadalah Kami mengutus kamu (Muhammad) , melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam" [MO/br]

Posting Komentar