Oleh : Eli Marlinda, S.Pd.I 
(Guru di Ponpes Mpuri)

Mediaoposisi.com-Pembentukan poros koalisi mulai menggeliat. Poros pertama adalah poros koalisi pendukung Presiden Joko Widodo sebagai petahana. Lima partai politik sudah mendeklarasikan secara resmi dukungan ke Jokowi, yakni PDI-P, Partai Golkar, Partai Nasdem, PPP, dan Partai Hanura.

Poros kedua yakni Partai Gerindra dan PKS. Poros ketiga kemungkinan terdiri dari Partai Demokrat, PKB, dan PAN meski dua partai terakhir saat ini adalah pendukung pemerintahan Jokowi-Jusuf Kalla. Ini berarti, peta politik 2019 mulai tampak dan terlihat.

Tiga poros koalisi itu belum bisa dipastikan karena Ketua Umum Partai Demokrat yang juga Presiden keenam RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) memberikan sinyal kesiapan partainya mendukung Presiden Joko Widodo dalam Pilpres 2019.

Meskipun SBY menyatakan Demokrat belum menentukan capres dan cawapres yang akan diusung pada Pemilu 2019, dalam pidatonya, ia berulang kali menampilkan sinyal dukungan terhadap Jokowi.

Sinyal dari SBY tentu membuat beberapa pengamat dan rival politik 2004 mencoba mengingat masa lalu. Saat itu pertarungan politik antara pimpinan melawan “eks anak buah” yaitu saat Megawati menjadi presiden dan SBY diangkat menjadi Menkopolkam.

Akan tetapi, pada 11 maret 2004, SBY mengundurkan diri dan maju mencalonkan diri sebagai capres dari partai Demokrat yang otomatis memperebutkan kekuasaan dengan mantan pimpinan sendiri.

Benih-benih perseteruan politik pun mulai memanas. Namun itu semua seolah-olah sirna dengan sinyal SBY mendukung Joko Widodo untuk Pilpres 2019 karena PDIP adalah partai penguasa.

Sebagian pengamat menilai peta politik 2019 mirip dengan peta politik DKI kemarin yaitu ada poros Islam dan poros sekuler. Koalisi tersebut sangat kental nuansa ideologi tapi sangat disayangkan lagi-lagi hanya sebatas slogan dan jargon.

Buktinya, poros tersebut tidak hadir di daerah-daerah. partai di Pilkada DKI bisa jadi musuh namun di daerah menjadi mesra dan menjadi kawan koalisi.

Politik dalam demokrasi bisa berubah dalam waktu yang cepat tergantung kesepakatan-kesepakatan politik (baca: bagi-bagi kekuasaan) yang saling menguntungkan. Ini persis yang disampaikan oleh Wakil Sekretaris Jendral DPP PDIP, Achmad Basarah tahun 2014, "Sejak awal kami berpandangan tidak ada kawan abadi dalam politik."

Politik dalam Islam adalah siyasah. Siyasah bermakna riayah li su’unil ummah bi nidzomin muayyanin (mengurus urusan rakyat dengan aturan tertentu). Dari sini bisa dilihat, partai politik berarti partai yang memiliki idealisme mengurus dan memihak kepentingan rakyat.

Maka loyalitas partai politik baik sebelum berkuasa maupun saat berkuasa harus kepada kemaslahatan rakyat bukan pada kepentingan pragmatis semata. Partai politik juga harus memiliki tujuan yang jelas yakni semangat menjadikan Islam sebagai rahmat seluruh alam bisa diterapkan dalam segala lini kehidupan masyarakat dan negara.

Idealisme Islam harus kembali tumbuh dan bersemi pada jiwa kaum muslimin, terutama parpol yang menyemat Islam sebagai identitasnya. Akidah Islam harus tertancap kuat, hingga menghapuskan pola pikir pragmatis dan kompromistis terhadap fakta kerusakan.

Masyarakat kini sudah bosan bahkan “muak” dengan basa-basi pencitraan para politisi yang mengemis suara namun dibayar derita pada akhirnya. Jangan sampai rakyat gigit jari untuk yang kesekian kali.

Menaruh harapan perubahan namun jauh dari kenyataan bagai pungguk merindukan bulan. Karena permasalahan sesungguhnya bukan sebatas pada siapa yang berkuasa atau partai apa yang menang pemilu. Kebijakan yang dibuat serta supra sistem yang menaungi dan menyanggalah akar keruwetan dari segalanya.

Dengan demikian, parpol yang menang akan mendapatkan kemenangan hakiki. Itu  karena selain meraih kemenangan di hadapan manusia juga kemenangan di hadapan Sang Pencipta, Allah SWT. Mereka mampu membimbing rakyatnya kepada jalan hidup yang benar dan mewujudkan kebangkitan dan peradaban mulia.

Bagi parpol  yang kalah, nothing to lose. Karena niat perjuangan adalah memperjuangkan hak, kesejahteraan dan kemuliaan rakyat, dan memperjuangkan aturan Sang Pembuat Aturan. semua telah dicatat sebagai amal baik.

Penghargaan terbaik pun telah disiapkan oleh Sang Pemberi Penghargaan untuk mereka terima kelak di hari tidak ada naungan selain naungan dari-Nya.[MO/br]

Posting Komentar