Jokowi, Megawati dan Puan Maharani

Oleh: Nasrudin Joha

Mediaoposisi.com-Lagi, hati kaum muslimin dibuat remuk redam, jiwanya Goncang, pikirannya melayang, kemarahannya memuncak pada titik ubunnya. Seorang Ibu mendeskreditkan Hijab dan Adzan, berdalil Konde dan Kidung.

Ini persoalan besar, karenanya umat Islam harus bergerak secara kolektif untuk mengajukan tuntutan. Penista Agama harus berujung penjara. Tidak ada pilihan !

Ini juga ujian bagi Polri, apakah akan bergerak mengikuti rel hukum dan tuntutan umat, sehingga segera menetapkan Tersangka bagi Penista Berkonde, atau harus mengulang sejarah. Menunggu tekanan umat Islam.



Tetapi meskipun demikian, Sadarilah wahai aparat penyelenggara negara. Umat Islam sudah sangat siap, untuk kembali tumpah ruah ke Monas, bahkan tanpa kasus konde dan kidung pun mereka sudah sangat rindu bertemu saudara seperjuangan. Apalagi si BU SUK ma membakar sumbu perjuangannya.

Langkah yang paling bijak adalah segera menangkap Penista berkonde dan segera menahannya. Jika tidak, sama saja negara untuk kedua kalinya melakukan Pembiaran. Sama saja negara untuk kedua kalinya menginginkan umat Islam berkumpul di Monas untuk menuntut hak atas dasar pembelaan akidahnya.

Sama dengan kejadian penistaan agama oleh Ahok yang lalu, sampai detik ini pun tidak ada satu patah pun kata dari panglima tertinggi yang memberikan apresiasi dan empati kepada umat Islam. Tidak ada untaian redaksi, yang menunjukan rasa keprihatinan atas adanya penodaan keyakinan.

Jika saja yang dinodai agama gereja, agama pura, mungkin sudah gegap gempita media menceritakannya. Pimpinan tertinggi pemerintahan, segera mengambil mic dan minta seluruh corong diedarkan diseluruh penjuru negeri. Negara menyatakan "Pemerintah prihatin dan menyayangkan" sekaligus meminta aparat kepolisian segera menindak Penista agama.

Tetapi ini penodaan agama Islam, penodaan terhadap hijab, penodaan terhadap adzan, maka wajar saja semua diam membisu. Semua tutup mulut dan mengunci pintu. Bahkan ada  yang merasa lega, karena hiruk pikuk Penista agama menutup kasus bancakan duit e KTP.

Padahal, baru saja terngiang di telinga publik. Bagaimana Ibu Suri turun langsung memberikan pembelaan kepada Puan Putri maharani. Setelah putri mahkota dan hulubalangnya disebut menerima duit e KTP, ibu Suri berang dan mengeluarkan ujaran pembelaan.

Bahkan, sang petugas partai dihadirkan. Dengan gagah berani, si petugas partai meminta KPK segera mengusut dan memeriksa. Padahal ini adalah gaya sastra lama, memerintah tetapi maksudnya melarang.

Sama saja ketika orang tua melihat anaknya main di jalan dan tidak mau kembali ke rumah, si orang Tua berkata:"Ayo teruskan, main ke jalan sana !".

Padahal, maksud orang tua buka memerintahkan tetapi melarang. Sebab, tidak mungkin orang tua memerintah anak main ke jalan yang membuat sang anak cilaka.

Demikian pula ujaran petugas partai, ujaran itu esensinya bukan dakwaan tetapi pembelaan. Atas pledoi yang langsung dibacakan petugas partai yang berakting menjadi panglima tertinggi angkatan bersenjata, KPK ciut.

KPK buru-buru menyatakan penelusuran fakta persidangan sulit. Pernyataan Papah yang menyebut hulubalang dan puan Puteri mendapat duit e KTP, bisa kandas ditengah jalan.

Artinya, mimpi saja berharap hukum ini dijalankan secara adil, equal, tanpa tebang pilih dan tidak pilih tebang. Golok KPK akan tajam dan dihunus untuk mengejar koruptor kelas teri, koruptor yang tidak bertaji, sekedar setoran dan laporan pertanggungjawaban untuk menegaskan KPK telah bekerja.

Sementara itu, jika kasus itu dilakukan penguasa, partai berkuasa, pengemplang tingkat Wahid, aseng yang merugikan ratusan triliunan, KPK akan berubah menjadi lembaga kajian yang hanya sibuk berwacana dan beretorika. Bukan lembaga pemberantas korupsi.

Wahai umat, wahai kaum muslimin. Tidakkah cukup nyata dihadapan kalian, betapa hukum sekuler yang diterapkan di negeri ini rusak dan merusak ?

Wahai umat, wahai kaum muslimin. Tidakkah kalian tergerak untuk segera menerapkan syariat Islam, yang karenanya agama dan kehidupan Anda dimuliakan ?

Wahai umat, wahai kaum muslimin. Bukankah telah tegas perintah dari Tuhan Anda, yang meminta Anda untuk memenuhi seruan Allah SWT dan Rasul-Nya jika itu untuk kebaikan kalian ? [MO/br].

Posting Komentar