Oleh : Asma Ridha 
(Member Revowriter Aceh)

Mediaoposisi.com- Kasus pencabulan serasa tidak asing lagi di telinga masyarakat Indonesia.  Hampir setiap wilayah kasus pencabulan ini selalu ada di pemberitaan media. Dan bahkan setiap tahun mengalami peningkatan.

Di awal tahun 2018 saja kasus pencabulan dan persetubuhan anak di satu wilayah sebut saja Kabupaten Banyumas, semakin mengkhawatirkan. Bahkan Kapolres Banyumas AKBP Bambang Yudhantara Salamun, menyebutkan sejak awal tahun 2018 hingga Selasa (23/1) ini, pihaknya sudah menerima laporan sebanyak delapan kasus persetubuhan anak dan satu kasus pencabulan anak-anak oleh kalangan LGBT.(Sumber : Republika. Co.id.  23/01/2018)

Dan ungkapnya "Ini memang memprihatinkan, dibanding tahun 2017, jumlah kasusnya melonjak sangat tinggi. Pada tahun 2017, hanya tercatat 14 kasus persetubuhan anak dan 8 kasus pencabulan anak. Namun pada tahun 2018 ini, di awal tahun saja sudah setinggi itu," katanya. (Sumber : Republika. Co.id.  23/01/2018)

Dan angka itu hanya pada satu wilayah yang ada di Indonesian dan bahkan baru-baru ini di negeri yang dikenal kental dengan suasana Islamnyapun tak lepas dari pemberitaan kejahatan pencabulan.

Di salah satu media Aceh memberitakan "Polres Aceh Barat, Rabu (28/3/2018) siang membekuk pria Jf (28) menetap sebuah desa di Kecamatan Samatiga Aceh Barat dalam kasus pencabulan terhadap dua bocah sebut saja namanya Jingga (11) dan Unggu (12) warga di Aceh Barat" (Sumber : Aceh Tribunnews. Com.  29/03/2018)

Seorang guru ngaji yang notabene di kenal sebagai "Tengku" sebutan bagi orang Aceh. Ternyata tidak bisa mengendalikan nafsunya dan hilang rasa iman sehingga berani melakukan pencabulan terhadap anak ngajinya sendiri yang masih di bawah umur.

Tentu berita-berita ini semakin memberi rasa phobia kepada setiap orang tua yang memiliki anak.  Pengontrolan dan pengawasan para orang tuapun tidak hanya cukup menghilangkan rasa khawatir ini.  Karena terkadang kejahatan itu dilakukan oleh orang yang tidak pernah kita sangkal sama sekali, yakni orang-orang terdekat dengan kita.

Sebagaimana kasus yang baru saja terjadi di Aceh Barat ini,  guru ngaji mencabuli anak justru di rumah si korban. "Pelaku selama ini mengajar ngaji dari rumah ke rumah. Saat sedang mengajar ngaji, pelaku berpura-pura mengelus tangan korban dengan alasan mengobati lalu tangan pelaku memegang kemaluan korban," kata Marzuki. (Sumber : AJJN. Net. 29/03/2018)

Waspada Pencabulan Anak

Faktor lemahnya iman dan ditambah lagi rangsangan seksualitas ada di mana-mana mengepung para lelaki untuk melampiaskan syahwatnya pada hal-hal yang diharamkan. Baik melalui media TV,  HP dan bahkan dengan mudahnya situs-situs porno di akses oleh seseorang sehingga memicu angka kriminalitas semakin meningkat. Baik pencabulan,  pemerkosaan dan bahkan prostitusipun terjadi pada anak.

Peran orang tua tidak boleh abai sama sekali dalam mengawasi anak-anaknya. Terutama yang memiliki anak perempuan agar tidak terjebak pada pergaulan bebas. Dan kepedulian masyarakat serta kebijakan negara terhadap para pelaku sepatutnya tegas dan memberi efek jera.

Menghilangkan Phobia Orang Tua Terhadap Kasus Pencabulan Anak

Dalam pandangan Islam pendidikan seks sejak usia dini adalah sesuatu yang penting untuk dididik kepada anak oleh orang tua. Sekalipun masih terkesan tabu,  namun hal ini sangat membantu anak dari tindakan kriminalitas seperti pencabulan ini.

Maka agar rasa phobia orang tua dapat berkurang dengan berbagai kasus pencabulan yang ada. Kedekatan orang tua dan anak seperti teman dan sahabat haruslah selalu terjalin. Dan pentingnya menamkan pendidikan seksuakitas sejak dini Sebagaimana Allah swt berfirman yang artinya :

"Hai orang-orang yang beriman, hendaklah budak-budak (lelaki dan wanita) yang kamu miliki, dan orang-orang yang belum balig di antara kamu, meminta izin kepada kamu tiga kali (dalam satu hari) Yaitu: sebelum sembahyang subuh, ketika kamu menanggalkan pakaian (luar)mu di tengah hari dan sesudah sembahyang Isya'. (Itulah) tiga 'aurat bagi kamu. tidak ada dosa atasmu dan tidak (pula) atas mereka selain dari (tiga waktu) itu.

Mereka melayani kamu, sebahagian kamu (ada keperluan) kepada sebahagian (yang lain). Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayat bagi kamu. dan Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana." (QS. An-Nur: 58)

Ayat ini mempertegas bahwa membudayakan sifat meminta izin ketika hendak memasuki kamar orang tua dan keluarga yang lainnya adalah keharusan.  Sekalipun masih anak-anak,  apatah lagi bagi anak yang sudah baligh. 

Dan ini menunjukkan pendidikan seks sejak dini harus diarahkan kepada anak.

Berikut ini ada beberapa hal pendidikan seks dini yang harus kita tanamkan pada anak. Diantaranya adalah :

1. Menanamkan rasa malu pada anak dengan memperkenalkan aurat sejak dini,  yakni batasan aurat yang boleh tampak dan tidak boleh.

2. Menanamkan jiwa maskulinitas pada anak laki-laki dan jiwa feminitas pada anak perempuan.

Sehingga mereka faham tidak boleh berdandan dan menyerupai dari lawan jenisnya.

3. Mengenalkan waktu berkunjung (meminta izin dalam 3 waktu). Yakni Tiga ketentuan waktu yang tidak diperbolehkan anak-anak untuk memasuki ruangan (kamar) orang dewasa kecuali meminta izin terlebih dulu adalah: sebelum shalat subuh, tengah hari, dan setelah shalat isya. Aturan ini ditetapkan mengingat di antara ketiga waktu tersebut merupakan waktu aurat, yakni waktu ketika badan atau aurat orang dewasa banyak terbuka (Lihat: QS al-Ahzab [33]: 13).

4. Memisahkan tempat tidur anak. Yaitu pada usia antara 7-10 tahun seorang anak harus di didik dengan memisahkan tempat tidur mereka. Karena pada usia ini,  kita mendidik anak sehingga anak akan belajar mandiri. Muncul sifat keberanian dan rasa malu yang lebih besar. Jika pemisahan tempat tidur dilakukan terhadap anak dengan saudaranya yang berbeda jenis kelamin, secara langsung ia telah ditumbuhkan kesadarannya tentang eksistensi perbedaan jenis kelamin.

5. Mengajarkan pendidikan kebersihan alat kelamin,  sehingga sejak dini anak sudah dengan diajarkan training toilet dan terbiasa buang hajat pada tempat sewajarnya.

6. Memperkenalkan mahram-nya.

Tidak semua perempuan berhak dinikahi oleh seorang laki-laki. Demikianpula sebaliknya. Siapa saja mahram tersebut, Allah Swt telah menjelaskannya dalam surat an-Nisa’ (4) ayat 22-23. Maka anak akan memiliki pemahaman, bahwa laki-laki selain dari mahramnya harus membatasi setiap interakai dengan mereka. 

7. Mendidik anak agar selalu menjaga pandangan mata, dan tidak pernah sama sekali terjebak melihat situs porno yang hari ini sangat mudah di akses.

8. Mendidik anak agar tidak melakukan ikhtilât.

Ikhtilât adalah bercampur-baurnya laki-laki dan perempuan bukan mahram tanpa adanya keperluan yang dibolehkan oleh syariah.

9. Mendidik anak agar tidak melakukan khalwat.

Menjelaskan kepada anak,  bahwa khalwat adalah jika seorang laki-laki dan wanita bukan mahram-nya berada di suatu tempat, hanya berdua saja. Biasanya mereka memilih tempat yang tersembunyi, yang tidak bisa dilihat oleh orang lain. Sebagaimana ikhtilât, khalwat pun merupakan perantara bagi terjadinya perbuatan zina.

Anak-anak sejak kecil harus diajari untuk menghindari perbuatan semacam ini. jika bermain, bermainlah dengan sesama jenis. Jika dengan yang berlainan jenis, harus diingatkan untuk tidak ber-khalwat.

10. Mendidik etika berhias. Berhias, jika tidak diatur secara islami, akan menjerumuskan seseorang pada perbuatan dosa.

11. Ihtilâm dan haid.

Ihtilâm adalah tanda anak laki-laki sudah mulai memasuki usia balig. Adapun haid dialami oleh anak perempuan. Mengenalkan anak tentang ihtilâm dan haid tidak hanya sekadar untuk bisa memahami anak dari pendekatan fisiologis dan psikologis semata.

 Jika terjadi ihtilâm dan haid, Islam telah mengatur beberapa ketentuan yang berkaitan dengan masalah tersebut, antara lain kewajiban untuk melakukan mandi.

Yang paling penting, harus ditekankan bahwa kini mereka telah menjadi Muslim dan Muslimah dewasa yang wajib terikat pada semua ketentuan syariah.

Inilah poin-poin pendidikan seks sejak dini yang harus dafahami oleh anak.  Sehingga dapat memberikan proteksi kepada mereka dari setiap kejahatan kriminal baik pencabulan maupun pemerkosaan. Dan bahkan termasuk kejahatan dari kaum sodom.

Maka peran orang tua, keluarga dan masyarakat memiliki peran penting agar kejahatan perilaku pencabulan anak ini bisa di atasi dan Islam memiliki seperangkat aturan yang sempurna. Dan kesempurnaan ini hanya akan bisa di rasakan ketika penerapan syariat Islam yang kkaffah itu diterapkan.[MO/br]


Posting Komentar