Oleh Chusnatul Jannah
 (Lingkar Studi Perempuan Peradaban)

Mediaoposisi.com- Palestina, bumi para Nabi kembali bergejolak. Sebanyak 15 warga Palestina tewas karena agresi milter Israel di perbatasan Gaza. Aksi brutal itu terjadi ketika puluhan ribu warga Palestina berdemonstrasi menuntut Israel mengembalikan tanah yang direbutnya saat perang Arab – Israel 1948 kepada para pengungsi Palestina.

Perdana menteri Israel, Benyamin Netanyahu bahkan memuji aksi yang dilakukan tentara militer Israel. Berbagai kecaman dan kutukan pun datang dari dunia. Gelombang kecaman itu segera direspon oleh PBB. Namun, bukan solusi yang disepakati, AS justru menampakkan keberpihakannya kepada Israel.

AS memblokir rancangan pernyataan Dewan Keamanan PBB yang mendesak penghentian serangan dan menyerukan penyelidikan setelah tentara Israel menembak para demonstran Palestina yang tidak bersenjata di sepanjang perbatasan Gaza-Israel. (republika.co.id). Mungkinkah terwujud solusi untuk Palestina di saat PBB tak menunjukkan perannya?

Akar Persoalan Palestina

Duka Palestina dimulai sejak deklarasi PBB tahun 1948  yang menyatakan negara Israel resmi berdiri di atas tanah Palestina. Solusi dua negara menjadi dasar pembagian tanah Palestina untuk Arab dan Yahudi.

Hingga saat ini solusi itu masih saja menjadi solusi paling solutif bagi Israel dan Palestina. Setelah memenangkan perang Arab, arogansi Israel semakin kentara. Pencaplokan yang makin lebar mereka lakukan hingga tak ada yang tersisa dari Palestina kecuali Gaza dan Tepi Barat.

Padahal two – state solution yang digaungkan, tak dipatuhi sendiri oleh Israel dan AS. AS malah menyatakan Yerusalem sebagai ibukota Israel. Pembelaan AS terhadap Israel tak lagi membuatnya layak menjadi negosiator perdamaian Israel – Palestina.

Dewan Keamanan PBB yang selalu menjadi andalan terdepan dalam misi perdamaian tak berhasil mewujudkan perdamaian itu sendiri. Peran negara Arab pun mandul. Dialog, diplomasi, dan gencatan senjata sudah sering menjadi pembahasan. Namun, hasilnya tak memberi pengaruh apa-apa. Israel justru semakin arogan dibawah perlindungan AS. 

Kaum kafir penjajah seperti Israel dan AS tidak akan bergeming hanya dengan kecaman dan kutukan. Persoalan Palestina sesungguhnya berpusat pada bangsa yahudi yang menjadi benalu di bumi Nabi. Ditambah dukungan AS, mereka semakin menjadi.

Selamanya nasib Palestina dan negeri muslim lainnya terjajah jika kaum muslimin tak memiliki junnah yang melindungi mereka.

Palestina, Bumi Yang Diberkahi

Sejarah Palestina sangat erat kaitannya dengan kaum muslimin. Disanalah tempat para Nabi singgah. Itulah mengapa Palestina disebut bumi para anbiya’.

Baitul Maqdis menjadi kota suci ketiga umat islam setelah Makkah dan Madinah. Kiblat pertama kaum muslimin berada. Dalam surah Saba [34] ayat 18, dijelaskan;

‘’Dan Kami jadikan antara mereka dan antara negeri-negeri yang Kami limpahkan berkah kepadanya, beberapa negeri yang berdekatan dan Kami tetapkan antara negeri-negeri itu (jarak-jarak) perjalanan.

Berjalanlah kamu di kota-kota itu pada malam dan siang hari dengan aman.’’ (QS Saba [34]: 18). Para Mufassir menjelasakan yang dimaksud ‘ke negeri yang Kami telah memberkatinya’ yakni negeri Syam (Yordania, Syria, Lebanon, Palestina) daerah Kerajaan Nabi Sulaiman AS.

Sedangkan maksud ‘beberapa negeri yang berdekatan’ (Adna al-Ardli) adalah daerah-daerah antara Syam dan Yaman.

Betapa istimewa Palestina menjadi bagian dari Syam. Warisan sang Khalifah Umar yang terjaga sepanjang peradaban Islam menaunginya.

Namun, istimewanya tak lagi menunjukkan marwahnya. Ketika Khilafah dihancurkan oleh persekongkolan jahat kaum kafir penjajah, sejak itulah kaum muslim terpecah belah menjadi banyak negara.

Tak mampu menolong saudaranya yang terjajah. Atas nama negara bangsa, hal itu menjadi kendala bagi mereka.

Sudah saatnya mengembalikan Palestina pada marwahnya. Menyelamatkan kaum muslimin yang tersandera oleh yahudi durjana.

Palestina akan kembali menjadi bumi yang diberkahi tatkala kekuasaan Islam menaungi seluruh negeri. Kekuasaan itu pernah ada dari ujung Eropa hingga Afrika. Khilafah namanya. Dengan Khilafah, negeri muslim yang terjajah akan kembali ke pangkuan Islam dan kaum muslimin.[MO/br]

Posting Komentar