Oleh : Rindoe Arrayah
(Pelajar Kehidupan di Komunitas Jelajah Pena)

Mediaoposisi.com-Indonesia adalah sebuah negeri yang dikenal memiliki kekayaan Sumber Daya Alam (SDA) dan Sumber Daya Manusia (SDM) yang seolah tiada tandingannya. Sangat disayangkan, SDA nya banyak yang sudah digadaikan oleh penguasanya, pun begitu juga dengan SDM nya.

Kalau SDM nya tidak hanya digadaikan, akan tetapi ada yang "disingkirkan." Salah satu contohnya adalah Mayor Jenderal TNI dr. Terawan Agus Putranto, Sp.Rad, dokter Spesialis Radiologi Rumah Sakit Pusat Angakata Darat (RSPAD) Gatot Subroto.

Pemecatan sementara yang dilakukan oleh Ikatan Dokter Indinesia (IDI) terhadap dr. Terawan sejak 25 Februari 2018 dan terhitung selama 12 bulan itu juga dicabut izin praktik dokternya. Berita ini kian ramai dibicarakan.

Pemecatan ini dilakukan karena dr. Terawan dianggap melanggar kode etik yang berat, yaitu menemukan metode " cuci otak" dengan Digital Substracion Angiography (DSA) yang diklaim bisa membersihkan penyumbatan darah.

Dokter Terawan lulus gelar doktoral di Universitas Hasanudin pada tahun 2016 dengan disertasi berjudul "Efek Intra Arterial Heparin Flushing Terhadap Regional Celebral Blood Flow, Motor Evoked Potentials, dan Fungsi Motorik pada Pasien dengan  Stroke Iskemik Kronis," dengan promotor dekan FK Universitas Hasanudin yakni Prof. Irawan Yusuf, PhD. Temuannya ini kemudian  dikembangakan menjadi terapi cuci darah yang memicu perdebatan.
     
Dari surat yang beredar tertanggal 23 Maret 2018, Majelis Kehormatan Etik Kedokteran (MKEK) menetapkan dr. Terawan melakukan pelanggaran etik serius dari kode etik kedokteran. Surat tersebut ditandatangani oleh Ketua MKEK PB IDI, Prijo Sidipratomo.

Tak ada penjelasan mengenai pelanggaran etik yang dilakukan oleh dr. Terawan. Di tempat yang berbeda, dr. Terawan mengatakan belum menerima surat tersebut. Lebih lanjut ia mengatakan bahwa tentara itu satu komando.

Ia akan mengikuti komando dari atasannya di TNI. "Orang boleh memojokkan saya, orang boleh memfitnah saya, tapi bukan berarti saya harus melakukan hal yang sama. Itu prinsip hidup saya," kata dr. Terawan. (Tempo.co)
     
Penemuan metode "cuci otak" ini sudah dipraktikkan oleh dr. Terawan di RSPAD Gatot Subroto dengan pasien yang sangat banyak dan antri jauh-jauh hari. Sebagai tim dokter Kepresidenan, wajar kalau pasiennya rata-rata pejabat tinggi negara seperti Mahfudz MD, Hendropriyono, Marzuki Alie, Try Sutrisno, Sudi Silalahi, Aburizal Bakrie, Dahlan Iskan dan masih banyak lagi.

Jika dilihat dari beberapa nama di daftar pasiennya menunjukkan bahwa dr. Terawan memiliki keahlian yang seharusnya menjadi kebanggaan Indonesia. Namun, karena potensi yang dimilikinya itulah dr. Terawan diasingkan di negeri sendiri, justru pihak luar yang akhirnya mengakui metode "cuci otak" itu.
     
Peristiwa semacam ini bukanlah yang pertama kali terjadi di negeri ini. Mantan Presiden RI B.J. Habibie serta para ahli yang lainnya juga pernah mengalami hal serupa, di mana keahlian yang dimiliki tidak pernah diakui di negeri sendiri, justru pihak luar negeri yang mengapresiasinya.

Anehnya lagi, di negeri yang banyak ditemukan ahli ini justru mengambil ahli dari luar negeri yang tentunya membutuhkan biaya yang tidak sedikit untuk mendatangkannya.
     
Inilah fakta yang kita dapati dalam kehidupan kapitalis sekuleris. Segalanya dinilai dengan kemanfaatan dan keuntungan semata.

Hal ini sangat jauh berbeda manakala Islam yang diterapkan. Islam memandang, bahwa seseorang yang memiliki keahlian di suatu bidang keilmuwan untuk kemaslahatan umat tidak hanya sekedar diakui, akan tetapi dijamin juga kesejahteraan hidupnya, sehingga tidak ada keinginan bagi mereka (para ilmuwan) untuk berlari ke luar negeri.

Karena itulah, selama Islam diterapkan dalam kurun waktu lebih dari 13 abad lamanya pernah mengalami kemajuan yang sangat dahsyat di bidang keilmuannya.

Posting Komentar