Oleh : Diana Septiani 
(Revowriter Bogor)

Mediaoposisi.com-Viral sebuah video yang menunjukkan seorang muslimah memelihara belasan anjing. Adalah Hesti Sutrisno, wanita bercadar yang akhir-akhir ini menghebohkan lini masa sosial media. Berbagai tanggapan dan respon muncul dari netizen, baik pro maupun kontra.

Ada yang menyebutnya sebagai fitnah akhir zaman, ada pula yang mendukungnya.

Pengakuan Hesti, sebenarnya ia bermula tak memiliki niat merawat anjing. Hanya karena merasa iba, melihat anjing-anjing yang ia temukan dalam kondisi lapar. Akhirnya ia memboyong satu per satu anjing yang ditemukannya ke rumah.

Suami Hesti pecinta binatang, ia pun tak risih dengan kehadiran anjing di rumah mereka.

Di awal memelihara, tetangga sekitar merasa terganggu dengan gongongan anjing peliharan Hesti. Namun, karena sudah merasa terbiasa jadilah biasa. Selain belasan anjing, Hesti dan keluarga juga memelihara kucing. Hesti merasa tertunjuki oleh Allah, untuk memelihara hewan-hewan termasuk anjing. (kumparan.com)

Ketika Iba lebih Diunggulkan Dari Pada Syara' 

Dengan berdalih rasa iba, Hesti dan keluarga akhirnya memelihara anjing di rumah mereka. Hesti muslimah bercadar ini, faham bila ia memiliki resiko untuk membersihkan rumahnya berulangkali. Dalam sehari saja, ia harus membersihkan rumahnya 5 kali bahkan lebih. Padahal pada faktanya, kita tidak pernah tau benda dan tempat mana saja yang terkena najis.

Dari Abi Hurairah ra bahwa Rasulullah SAW bersabda,`Bila seekor anjing minum dari wadah milik kalian, maka cucilah 7 kali. (HR Bukhari 172, Muslim 279, 90).

Lantas bagaimana hukum syara' memandang keluarga muslim memelihara anjing?

Para ulama berbeda pendapat tentang hal ini. Ada yang membolehkan, ada pula yang mengharamkannya. Keduanya dengan syarat. Namun demikian, Rasulullah shalallahu 'alaihi wa salam telah mengingatkan kita bahwa keberadaan anjing di rumah, akan menjauhkan malaikat memasuki rumah kita.

Dari Aisyah ra berkata bahwa Rasulullah SAW menunggu Jibril as pda saat yang telah ditentukan.

Namun Jibril tidak datang pada saatnya, sehingga nabi melempar tongkat dari tangannya dan berkata, “Allah tidak mengingkari janjinya, demikian juga dengan rasulnya.

” Kemudian beliau SAW menoleh dan mendapati seekor anjing di kolong tempat tidurnya. “Wahai Aisyah, sejak kapan anjing itu masuk ke sini?”

 Aisyah menjawab, “Aku tidak tahu.” Maka beliau SAW memerintahkan agar anjing itu dikeluarkan. Maka datanglah jibril dan Rasulullah SAW bertanya, “Engkau telah janji dan aku telah duduk menunggu, tapi Engkau tidak datang, mengapa?”

 Jibril menjawab, “Anjing di dalam rumahmu itu telah mencegahku. Sesungguhnya kami tidak masuk ke dalam rumah yang ada anjing dan gambar.” (HR Muslim)

Hubungan Cadar Dengan Anjing 

Framing buruk media mainstream, telah melekat dan mencoba dibentuk sedemikian rupa. Sungguh, tak ada kaitannya, antara cadar dengan anjing. Belum lama ini, tentu kita masih ingat pelarangan cadar di sebuah universitas Islam di Indonesia. Mencitraburukkan muslimah yang ta'at dengan sesuatu yang buruk.

Dalam Islam sebenarnya, anjing disebut dalam beberapa kisah. Semisal dalam Hadits riwayat Muslim di atas. Begitupula kisah tentang seorang wanita pelacur yang masuk surga karena memberikan minum anjing. Bukan berarti pelegalan kemaksiatan terhadap Allah, melainkan tak lain hanya bukti bahwa setiap kebaikan kita sekecil apapun akan diberikan balasannya. Begitupun sebaliknya. (Q.S. Az Zalzalah : 7-8)

Juga dalam kisah Ashhabul Kahfi (penghuni gua). Mereka memiliki seekor anjing yang mengikuti pelarian dan persembunyian mereka. (Q.S. Al Kahf : 9)

Sebenarnya, Rasulullah membolehkan kita memelihara anjing, namun hanya diperuntukkan untuk menjaga ladang dan berburu. Dan dengan syarat, tidak berada di dalam rumah. Oleh karena itu, jika hendak memelihara anjing dengan peruntukan tersebut, sebaiknya dibuatkan tempat tersendiri yang jauh dari lingkungan rumah.

"Barangsiapa memanfaatkan anjing, bukan untuk maksud menjaga hewan ternak atau bukan maksud dilatih sebagai anjing untuk berburu, maka setiap hari pahala amalannya berkurang sebesar dua qiroth.” (HR. Bukhari no. 5480 dan Muslim no. 1574)[MO/br]

Posting Komentar