Oleh: Astia Putriana, SE
Mahasiswi Pascasarjana FEB UB Malang dan 
Anggota Komunitas Penulis “Pena Langit”


Gara-gara kamu orang bisa menjadi gila
Gara-gara kamu orang bisa putus sekolah
Gara-gara kamu orang bisa menjadi edan
Gara-gara kamu orang kehilangan masa depan

Mediaoposisi.com- Mari kita mulai dengan tebak-tebakkan. Siapa yang dimaksud dengan “kamu” dari kalimat-kalimat diatas? Silahkan senandungkan lagu Rhoma Irama tersebut dan anda akan menemukan jawabannya. Ya.. Mirasantika, Minuman Keras dan Narkotika.

Nyatanya, tidak hanya menjadikan gila, putus sekolah dan kehilangan masa depan, bahkan mirasantika mampu menghilangkan nyawa. Satu-satunya nyawa yang dimiliki. Fakta inilah yang memang terjadi belakangan. Adanya pesta miras oplosan di berbagai tempat telah menggemparkan masyarakat.

Banyak korban tewas yang berjatuhan. Tidak main-main korban tewas akibat miras oplosan bahkan mencapai 31 orang di wilayah Jakarta dan sekitarnya. (Tribunnews, 5/4) Tak berhenti sampai disini, tak berapa lama kejadian serupa terjadi di wilayah Jawa Barat yang menewaskan 58 orang (Detik.com, 12/4).

 Fakta Dibalik Tragedi Miras Maut

Tragedi banyaknya warga Jakarta dan Jawa Barat yang tewas akibat miras oplosan memang sangat disayangkan. Hal inipun tak luput dari perhatian Nurul Arifin, Calon Walikota Bandung. Ia menegaskan kejadian semacam ini tidaklah seharusnya terjadi.

Ia pun menghimbau agar warga yang ingin meminum minuman keras, minumlah miras yang telah legal yang dapat dipastikan originalitas dan jaminan takaran yang layak, sehingga tak membahayakan diri. (detiknews.com, 11/4)

Tak hanya Nurul Arifin, Bupati Bandung, Dadang M. Naser juga geram dengan kejadian yang menimpa warganya ini. Namun ia mengakui bahwa peredaran miras di Kab. Bandung memang sangat masif, terdapat banyak sekali orang-orang yang mem-back up sehingga sulit memutus mata rantai peredaran ini (detiknews, 10/4).

Praktik jual beli miras juga bukanlah praktik yang baru di tengah-tengah masyarakat. Masyarakat sendiri mengakui praktik ini sudah berlangsung bertahun-tahun, namun kuatnya orang-orang yang melindungi praktik ini menjadikan masyarakat ketakutan untuk terlibat lebih jauh apalagi berani melaporkan (Tribunnews, 12/4)

 Akar Masalah Miras

Alangkah lucunya ketika kita mengamati masalah ini hanya dari standar keaslian dan kepalsuan miras. Sejatinya, miras merupakan minuman yang berbahaya, entah asli ataupun oplosan. Miras dapat membawa banyak mudarat dan memang diharamkan.

Dokter Spesialis Penyakit Dalam RSUD Cicalengka, Amelia Andriani bahkan menyatakan Miras secara umum dapat merusak syaraf. (Kompas, 11/4). Selain itu dapat merusak akal hingga menjerumuskan pada tindakan amoral.

Ketidaktahuan dan ketidakpahaman dampak miras tidak cukup dijadikan landasan dalam memahami akar masalah. Kenyataannya, tak pernah jemu pada ulama dan pemuka agama menyerukan untuk menghindari miras.

Permasalahan miras merupakan permasalahan yang sistemik. Mengapa sistemik? Hal ini karena permasalahan ini tidak hanya menyangkut peran individu, namun juga peran masyakarat dan negara. Paham sekularisme yang memisahkan agama dan kehidupan telah meracuni masyarakat dan negara hingga tidak lagi menjadikan standar agama sebagai solusi.

 Sinergi Individu, Masyrakat Dan Negara

Bukti masalah miras tidak hanya masalah parsial tercermin dari keagungan Islam yang mampu mensolusikan masalah ini secara komprehensif. Hal ini dapat terlihat dari pengaturan Islam yang secara tegas mengharamkan minuman keras (khamr).

Tidak hanya peminumnya namun orang-orang yang terlibat dalam rantai peredaran, dari produsen hingga konsumen pun dilaknat oleh Allah SWT.

Telah dilaknat khamr dan peminumnya, pemberi minumnya, penjualnya, pembelinya, pembawanya, yang dibawakan kepadanya, pemerasnya, produsennya, yang memakan harganya (HR. Ahmad)

Sinergi individu, masyarakat dan negara sangat diperlukan dalam upaya penuntasan masalah miras ini. Terdapat tiga pilar utama yang ditekankan dalam Islam dalam rangka mewujudkan rahmatan lil alamin.

Pertama, individu yang bertakwa. Islam mendorong individu untuk menjadi individu yang bertakwa dengan menjalankan segala perintahNya dan menjauhi laranganNya.

Kedua, masyarakat yang peduli, artinya masyarakat didorong untuk melakukan amar ma’ruf nahi mungkar, yakni peka terhadap kemaksiatan yang ada disekitarnya serta senantiasa melakukan koreksi dan muhasabah.

Tak cukup sampai disini, pilar penting yang harus eksis adalah negara yang menerapkan syariat Islam secara total. Individu yang bertakwa saja ataupun plus masyarakat yang peduli tidak cukup mampu jika tidak diikat dalam satu aturan yang sama yakni aturan Islam.

Negara haruslah berperan dalam menegakkan aturan dan sanksi Islam bagi yang melanggar. Karena hanya aturan Islam yang berasal dari ALLAH SWT, Sang Maha Pencipta yang paling mengetahui diri ciptaanNya (manusia). [MO/br]





Posting Komentar