Oleh: Anindia Safitri 
(Mahasiswi Universitas Mataram)

Mediaoposisi.com- Miris melihat kondisi negeri dengan mayoritas penduduk muslim saat ini, diperebutkan oleh banyak pihak. Bukan karena baik moralnya, tapi diincar potensi manusianya dari hulu ke hilir. Penguasa negeri ini tak ubahnya boneka yang bisa diatur sekehendak hati pemilik kepentingan. Sebut saja para pemilik modal, merekalah yang mengatur jalannya pemerintahan Indonesia.

Kapitalis memetakan kondisi kaum muslimin dan merencanakan kehancuran di negeri-negeri umat islam. Berbagai cara mereka lakukan untuk mempercepat kehancuran tersebut. Mereka menanamkan paham kapitalisme, sekularisme dan liberalisme sehingga kaum muslimin makin jauh dari ajaran islamnya.

Fakta saat ini menunjukkan kaum muslimin berhasil dilumpuhkan oleh permainan para pemilik kepentingan. Kondisi remaja muslim pun mengkhawatirkan, realitas pergaulan bebas hingga kebebasan berperilaku semakin hari semakin menakutkan.

Generasi muda kita hari ini terperosok ke dalam jurang pergaulan bebas. Sudah kadung bebas, pemerintah malah tak memberikan solusi pasti. Penguasa justru menyediakan dan membiarkan merebaknya kemaksiatan dimana-mana seolah tak terkontrol.

Maraknya pergaulan bebas semakin membuka kran penyimpangan baru dengan munculnya penyakit LGBT. Parahnya lagi, beredar VGK (Video Gay Kids) yang justru dikomersialisasikan oleh pihak tertentu demi meraup lembaran rupiah.

Belum lagi kasus narkoba tak pernah diselesaikan secara tuntas, bahkan tak sedikit remaja merangkap sebagai korban sekaligus pelaku utama peredaran zat terlarang. Akhirnya karakter remaja kita hari ini semakin menghinakan, karena kebodohan itu nyata-nyata diwarisi turun-temurun oleh penguasa.

Salah satu contoh kebodohan yang dibiarkan dalam institusi pendidikan adalah memfasilitasi penyebaran kunci jawaban Ujian Nasional. Demikianlah pemimpin di negeri demokrasi memberikan akses bagi siapapun untuk menjadi penjahat secara terstruktur dan terorganisir.

Penggunaan kondom alih-alih dikampanyekan sebagai jalan keluar, malah menjerumuskan generasi muda terjerat bahaya pergaulan bebas. Situs-situs pornografi dibiarkan merajalela, sehingga wajar dalam banyak kasus remaja melakukan hubungan intim di luar pernikahan. Hasilnya, mereka tak siap secara mental dan fisik sehingga terjadilah aborsi disana-sini.

Lagi-lagi, pemerintah abai. Pemerintah sepertinya tidak serius memikirkan jalan penyelesaian terbaik untuk menyelamatkan generasi mudanya. Mereka justru menutup kran-kran pengajaran nilai moral di sekolah, kantor, sampai ke tempat-tempat ibadah.

Masyarakat dipaksa menjauh dari ajaran agama mereka, hal ini berdampak pada sikap ceroboh penguasa dengan menutup situs-situs bernuansa dakwah dan syiar Islam. Pelarangan penggunaan cadar dan pakaian penutup aurat makin digalakkan oleh petinggi kampus yang seharusnya menjadi sumber pendidikan karakter diajarkan.

Berbagai agenda umat islam dipersekusi dan diintimidasi dari masjid hingga ke majelis ilmu. Tampak sekali ketakutan pemilik modal melihat kesadaran masyarakat terhadap ajaran agamanya. Berbagai tudingan dilemparkan ke arah ulama’ dan umat islam, mulai isu teroris hingga paham radikal dijadikan gorengan oleh penguasa anti islam.

Sejatinya memang paham liberal, sekuler dan kapitalisme lah yang mereka kehendaki tetap eksis. Padahal paham sesat tersebut bak memberikan solusi tambal sulam yang tidak akan pernah membereskan kain berlubang.

Pemerintahan negeri ini dimainkan oleh dalang dengan mengikuti skenario borjuis kapitalis. Undang-undang diimpor dari negeri asing tanpa ada pemeriksaan detail. Perpanjangan kontrak PT. Freeport Indonesia sampai tahun 2040, liberalisasi minyak dan gas bumi, penanaman modal asing, eksploitasi sumber daya alam, sampai ke proyek reklamasi merupakan buah pesanan asing dan aseng.

Belum lagi dana haji yang digunakan untuk keperluan infrastruktur justru menambah runyam problematika rakyat Indonesia. Maka dampak semua pertunjukan wayang di Nusantara semata untuk membuat para pemilik modal senang, sayangnya rakyat pribumi justru terkena getahnya.

Kaum muslimin di negeri ini tak ubahnya seperti boneka yang diperalat si dalang. Terlebih wakil rakyat, Undang-Undang yang dipesan asing mereka legalkan demi memainkan skenario jahat kapitalis liberal. Merekalah sebetulnya pihak yang sangat membenci Islam dan berusaha mengendalikan kaum muslimin melalui penerapan ideologi dan aturan compang-camping.

 Berbagai kebijakan pro asing dan melawan hak rakyat terus digempur demi meraup keuntungan berlipat. Bentuk penjajahan gaya baru ini terus digalakkan agar rakyat perlahan kehilangan hak-haknya tanpa disadari.

Islam Layak Memimpin
Sebagai manusia semua orang mempunyai pilihan masing-masing, bukan malah menerima dengan pasrah keputusan dalang. Seorang dalang tidak bebas menentukan pilihannya tanpa memperhatikan kewajiban sebagai pengendali situasi. Potensi akal yang dimiliki manusia mengarahkannya pada keputusan tepat yang diperoleh dari proses berpikir.

Untuk persoalan sepele seperti menghilangkan debu yang menempel pada pelipis saja bisa dibersihkan dengan basuhan air, karenanya manusia senantiasa menggunakan akal untuk menemukan solusi. Bahkan rasa sayang dan benci pada penguasa pun diperoleh dengan jalan berpikir, semata untuk memperbaiki keadaan negeri ini. Menasehati penguasa merupakan sikap kontrol yang harusnya kita tunjukkan sebagai masyarakat berakal agar pemimpinnya lebih berhati-hati mengemudikan kapal.

Penguasa harusnya bertekad tidak menjadi boneka mainan asing dan aseng, sebab nafsu dan kemampuannya terbatas. Seperti halnya Amerika, Undang-Undang Anti Miras yang mereka terapkan selama 14 tahun berhasil menghukum mati 300 pelaku dan memenjarakan sekitar 500.000 orang.

Namun, masyarakat liberal di negeri itu semakin lama menyukai miras dan mendesak pemerintah mencabut UU tersebut. Akhirnya tahun 1933 UU Anti Miras dicabut dan miras dibebaskan beredar. Inilah bukti bahwa nafsu dan kemampuan manusia sifatnya lemah dan terbatas.

Belakangan masyarakat muslim berlomba-lomba menawarkan solusi pasti pada penguasa hari ini. Ideologi islam dijamin mampu membawa kebaikan di segala sisi, tidak terkonsentrasi untuk memberi manfaat pada golongan tertentu saja.

Seharusnya aturan yang diterapkan di bumi ini berasal dari sesuatu yang memang pasti kesuksesannya. Sayang sekali, tawaran itu dimentahkan dan dikriminalisasi oleh rezim anti islam. Padahal Islam merupakan rahmatan lil ‘alamin, rahmat bagi semesta dan isinya.

Solusi atas berbagai permasalahan masa kini sudah disiapkan oleh Syariat Islam. Sifatnya tetap dan tidak berubah, tidak dibatasi waktu atau tempat. Status hukum riba yang haram akan tetap haram, begitu juga dengan perzinahan, perjudian, pencurian dan perkara apapun tidak akan berubah walau berganti zaman. Peraturan hakiki yang tinggi nilai kebenarannya terbukti selama 14 abad selalu tepat dalam setiap kondisi dan situasi.

Sayang, aturan Islam tidak dapat diterapkan saat ini dikarenakan ketiadaan wadahnya. Ibarat ikan laut tidak dapat bertahan hidup lebih lama di empang, apabila dipaksakan niscaya akan mati. Sehingga untuk menerapkan aturan Islam, seluruh elemen mesti berangkulan untuk mengembalikan wadah penerapnya terlebih dahulu. Wadah inilah yang disebut Khilafah.

Khilafah Islam, sebuah negara berbasis akidah islam dengan penerapan syari'at Islam secara total yang dipimpin oleh seorang Khalifah. Syariat Islam mencakup seluruh aspek kehidupan tanpa terkecuali. Inilah yang harus kita perjuangkan.[MO]

Posting Komentar