Mediaoposisi.com- Dalam kitab, al-Mustadrak ‘ala as-Sahihain, al-Hakim mengeluarkan hadits:

» سَيَأْتِيَ عَلَى الناَّسِ سَنَوَاتٌ خَدَّاعَاتٌ يُصَدَّقُ فِيْهَا الْكَاذِبُ وَيُكَذَّبُ فِيْهَا الصَّادِقُ وَيُؤْتَمَنُ فِيْهَا الْخَائِنُ وَيُخَوَّنُ فِيْهَا الأَمِيْنُ وَيَنْطِقُ فِيْهَا الرُّوَيْبِضَةُ قِيْلَ وَمَا الرُّوَيْبِضَةُ قَالَ الرَّجُلُ التَّافِهُ فِي أَمْرِ الْعَامَّةِ» [رواه الحاكم في المستدرك، ج 5/465]

“Akan tiba pada manusia tahun-tahun penuh kebohongan. Saat itu, orang bohong dianggap jujur. Orang jujur dianggap bohong. Pengkhianat dianggap amanah. Orang amanah dianggap pengkhianat. Ketika itu, orang “Ruwaibidhah” berbicara. Ada yang bertanya, “Siapa Ruwaibidhah itu?” Nabi menjawab, “Orang bodoh yang mengurusi urusan orang umum.” (Hr. al-Hakim, al-Mustadrak ‘ala as-Shahihain, V/465).

Hadits berikut menjelaskan tentang sebuah kondisi yang diberitakan oleh Rasulullah Saw. Masa dimana segalanya seolah diputar balikkan. Yang salah ditindak benar. Sebaliknya, Kebenaran justru dianggap kriminal.

Lalu, pada masa itu kekuasaan-kekuasaan akan digenggam oleh penguasa Ruwaibidhah. Yakni, para pemimpin yang bodoh dalam perkara agama. Bahkan menjual agama demi secuil kenikmatan dunia.

Kehidupan dalam sistem demokrasi sebagai buah dari ideologi kapitalisme saat ini lah yang tepat menggambarkan kondisi yang dituturkan oleh hadits tersebut. Sosok penguasa yang berilmu dan bijaksana hanyalah topeng belaka. Sesungguhnya dibalik itu ada kemungkaran yang nyata.

Dicampakkannya wahyu Illahi digantikan dengan sistem kufur buatan manusia. Penguasa yang notabene berstatus muslim namun menerapkan sistem kehidupan yang bertentangan dengan ajaran agamanya.

Hak dan bathil dicampur adukkan. Halal dan haram menurut Tuhan yang Maha Esa tak kasat mata dimata rakyat. Kebijakannya melahirkan generasi pemuja nafsu dan syahwat. Lalai dalam urusan akhirat.

Baca Juga : Simak, Ini Karkater Khalifah Umar !

Seorang penguasa yang berkewajiban memanggul amanah mengayomi rakyat dipundaknya justru malah membebani kehidupan rakyatnya. Akibatnya, lahirlah kerusakan diberbagai lini kehidupan. Sebab bodohnya orang-orang yang memegang tampuk kekuasaan.

Tak mampu lahirkan peraturan yang menyejahterakan. Karakternya yang anti kritik, Berbagai nasehat dan tuntutan dianggap sebuah penghinaan. Yang dapat menghancurkan figur kehormatan.

Kemudian penguasa dalam sistem demokrasi kapitalisme ini menjadi antek para penjajah. Seringkali kebijakannya tak berpihak kepada rakyat. Apalagi kepentingan Islam dan umatnya. Namun lebih mengutamakan kepentingan penjajah baik itu Asing maupun Aseng.

Perkataannya penuh dusta. Ketika diberi amanah ia berkhianat. Jika berjanji ujungnya mengingkari. Kezaliman dan otoriternya terhadap rakyat tampak nyata. Sejelas terik matahari di siang bolong.

Mereka senantiasa mengelabui umat dengan berbagai kedustaan secara politis. Berjalan selaku antek dibalik kedok nasionalisme, patriotisme, sosialisme, dan beragam isme lainnya yang merupakan hasil rancangan para penjajah.

Baca Juga : Alangkah Lucunya PDIP (1)

Inilah berbagai karakter seorang penguasa ruwaibidhah dan penguasa antek. Betapa karekteristik mereka sangat bertolak belakang dengan sifat-sifat penguasa adil. Yang melaksanakan amanahnya mengurus dan menyejahterakan rakyat bukan sebagai pencitraan untuk mendapatkan simpati rakyat.

Juga bukan untuk melanggengkan kekuasannya semata. Demi meraih ambisinya atas kenikmatan dunia. Namun semata-mata ikhlas sebagai bentuk amanah besar yang akan dipertanggung jawabkan dihadapan Allah SWT kelak.[MO/ns]


Posting Komentar