Ilustrasi

Oleh: Arifatul Hasanah

(Mahasiswi Jember)

Mediaoposisi.com- “Indonesia Darurat Pelecehan Seksual”, nampaknya sering kita dengar di abad 21 ini ungkapan seperti ini. “Darurat” kok tiap tahun?.

Di awal 2018 ini, terulang kembali kasus pelecahan seksual seperti yang terjadi di salah satu SD di Surabaya, “Seorang guru Sekolah Dasar (SD) di Surabaya, Jawa Timur, mencabuli 65 siswa laki-lakinya” (news.okezone.com,22/02/18).

Sebuah angka yang fantastis, cambukan bagi dunia pendidikan. Di Jember juga tak kalah mengherankan, “seorang guru ngaji di Jember diamankan setelah dilaporkan mencabuli sejumlah santrinya. MD (50), warga Kelurahan Gebang, Kecamatan Patrang, diduga telah mencabuli tujuh santrinya dengan cara mencubit dan meremas bagian intim.

Pencabulan dilakukan dengan dalih pendisiplinan. (news.detik.com, 15/03/18). Dari pendidikan formal hingga informal, tempat yang harusnya aman bagi anak, dan pelaku yang mestinya menjadi pengaman dan panutan bagi anak pun tak menjamin masa depan cerah bagi anak.

Mendeteksi Akar Permasalahan

Jika kita perhatikan, kasus pelecehan seksual ini mencakup berbagai lini di dunia pendidikan. Ada guru yang mencabuli murid. Ada murid yang mencabuli guru. Ada Staf keamanan yang mencabuli siswa, ada ustadz mencabuli santri.

Bahkan belakangan ini marak terjadi pelecehan seksual sesama jenis. Maka dari sini terbukti bahwa kasus pelecehan seksual terjadi menimpa segala lini dunia pendidikan.

Berarti permasalahan terjadi secara sistematis.  “Faktor-faktor yang dapat membangkitkan naluri ada dua macam:
 (1) Fakta yang dapat diindera
(2) pikiran yang dapat mengundang makna - makna (bayangan-bayangan dalam benak).

Jika salah satu dari kedua faktor itu tidak ada, naluri tidak akan bergejolak.” (Taqiyuddin An-Nabhani, 2003). Kita pahami bahwa kondisi yang ada di Indonesia hari ini banyak terpengaruh dari budaya Barat, seperti sekulerisme, liberalisme, hedonisme.

Ini bisa kita lihat dari tidak diberi ruangnya agama untuk menyelesaikan permasalahan kehidupan (sekulerisme), maraknya gempuran video porno dari luar.

Maraknya tontonan televisi ataupun drama dari dalam maupun luar negeri yang tidak mengedukasi cenderung membangkitkan naluri dari generasi muda, ditambah minimnya pemahaman umat tentang sistem pergaulan dalam agamanya sehingga wajar bila pelecehan seksual marak terjadi sekalipun di lingkungan pendidikan.

Dengan berbagai penyebab tersebut, bukan hanya menjadi tugas individu dan keluarga saja, akan tetapi butuh upaya yang serius dari negara dalam hal ini pemerintah.

Pemerintah Tidak Diam

 Sejauh ini solusi dari pemerintah diantaranya, dipidana, direhabilitasi, menaikkan pajak pelaku. “Komisi KPAI bidang Pendidikan, Retno Listyarti meminta agar Kemenag dan Kemendikbud menciptakan formulasi untuk membentengi anak-anak dari ancaman tindak asusila.” (jatim.tribunnews.com, 27/02//18).

Disisi lain juga orangtua dihimbau agar lebih menjaga lagi siswa siswinya dengan memberikan pendidikan seks sejak dini.

Selama pemerintah memelihara sistem sekulerisme dengan tidak melibatkan agama mengatur kehidupan, tidak menindak tegas faktor  faktor yang bisa membangkitkan naluri maka mustahil jika pelecehan seksual akan sirna. Pada akhirnya rakyatlah yang menjadi tumbal pelecehan seksual.

Islam Sebagai Problem Solving

Mengutip perkataan dari Imam Ghozali, “agama adalah pondasi dan kekuasaan adalah penjaga. Sesuatu tanpa pondasi pasti runtuh. Sedangkan sesuatu tanpa kekuasaan, pasti hilang.”

Akidah jelas merupakan pondasi bagi kehidupan, tak hanya individu melainkan masyarakat maupun negara.

Halal haram menjadi tolok ukur perbuatan individu, masyarakat maupun negara. Negara yang memiliki wewenang menerapkan hukum dari Allah, akan memfiltrasi barang dan jasa yang diproduksi, dikonsumsi, didistribusikan di tengah masyarakat agar terjamin kehalalannya.

Sehingga tak akan ditemui video porno, situs, tabloid, acara televisi dan semua hal yang bisa membangkitkan naluri. Kalaupun ditemui, pastilah dianggap sebagai tindak kriminal. Islam juga memerintahkan agar pergaulan sehat dalam artian berhubungan sesuai syariat yakni tanpa berkhalwat maupun ikhtilath.

Juga ada kewajiban menutup aurat bagi pria maupun wanita, juga diharamkan berdandan untuk menarik lawan jenis (tabarruj). Semua hal ini diatur karena semangatnya Islam dalam menutup rapat pintu perzinahan.

Kemudian jika terjadi pelanggaran akan diberikan sanksi tegas sesuai syariat Islam. Seperti hukuman cambukan 100 kali bagi orang yang melakukan zina akan tetapi belum menikah (ghairu muhshan).[MO/br]


Posting Komentar