Oleh : Muhammad Reza Santirta

Mediaoposisi.com- Setiap Negara berkembang tidak pernah sepi dari intervensi Negara lain, terutama Indonesia. Beberapa kebijakan yang diberlakukan diantaranya adalah kebijakan kelistrikan. Terjadi penambahan tarif listrik setiap bulannya yang menyebabkan kerugian di kalangan masyarakat.

Ada juga kebijakan penyebaran Film Hollywood sebagai kompensasi atas kegiatan impor tekstil dari Indonesia. Sebagian contoh intervensi di atas setidaknya menjadi gambaran atas lemahnya Indonesia akibat lemahnya kebijakan rezim yang berkuasa.

Menurut Muhammad Rahmad Kurnia, intervensi suatu Negara bisa dilalukan melalui tiga hal. Pertama, aturan dan kebijakan. Suatu negara memberikan pinjaman dana dalam jumlah banyak. Akibatnya, Negara tersebut menjadi tergantung dan akhirnya harus membayar hutang Negara yang jumlahnya sangat banyak. Jika tidak membayar, Negara tersebut akan diperangi.

Kedua adalah dengan penetapan pemimpin. Sangat jelas contohnya yang tampak pada Hasil Pemilihan Presiden RI pada tahun 2004. Polling yang telah ditetapkan pasca Pemilu tersebut membuahkan hasil perolehan yang sangat berbeda pada beberapa calon presiden.

Akibatnya, para pasangan calon saat itu mendesak KPU agar membatasi gerak pemantauan asing. Ketiga, dapat dilakukan melalui jalur militer apabila langkah pertama dinilai gagal.

Bisa dilihat pada Negara Indonesia yang saat ini terus mengalami intervensi dari Negara lain yang memiliki pengaruh besar. Amerika Serikat merupakan pemain utama dalam memberikan pengaruh bagi kebijakan pemerintah Indonesia.

Bahkan, contoh ekstrim dapat terlihat pada kasus penempatan pasukan Angkatan Laut Amerika Serikat di Laut Natuna pada tahun 2004. Keadaan tersebut tentu membuat keadaan Negara bisa terancam karena intimidasi dari Negara tersebut melalui armada militer Negara kuat tersebut.

Indonesia termasuk Negara yang sangat diperhitungkan dari segi kekayaan alamnya. Indonesia dianggap potensial karena memiliki sumber kekayaan yang sangat melimpah. Contohnya saja Sumber Daya Alam yang terkandung di dalamnya.

Sudah sejak lama Indonesia dikenal memiliki kekayaan alam tersebut. Mulai dari hasil perkebunan yang melimpah, fauna, hingga sumber tambang yang juga melimpah.

Faktor-faktor di atas sudah cukup menggambarkan bahwa Indonesia sangat potensial untuk dikuasai Negara lain. Untuk itu, diperlukan suatu kebijakan yang dibuat di Indonesia namun menguntungkan pihak asing. Sangat ironis akibatnya jika Indonesia dimanfaatkan oleh kekuatan asing. Apalagi, jika rezim yang berganti tidak memberikan solusi apapun untuk merubah negaranya.

Bagaimana Khalifah menghadapi tekanan atau intervensi dari Negara lain yang ingin menguasai Negara tersebut? Bahkan sampai pada taraf pembodohan pada rakyatnya demi bisa memengaruhi mereka untuk dapat melayani keinginan Negara asing tersebut.

Khilafah memiliki kebijakan politik dalam hubungan bilateral antar Negara. Tujuan yang diagendakan adalah dakwah dengan perluasan pesan Islam ke seluruh dunia. Khilafah juga bertujuan menghancurkan penghalang yang dianggap potensial dalam menghancurkan cahaya Islam tersebut.

Penghancur tersebut sangat berbahaya jika dibiarkan karena berakibat pada kemudharatan bagi suatu peradaban. Istilahnya adalah penaklukan sebagai jihad untuk mendapat Ridha Allah Subhanahu wa ta’ala.

Berkaitan dengan hubungan bilateral, terdapat aspek yang sangat mendukung terkait pengaturan suatu kebijakan. Hal ini bertolak dari agenda suatu Negara ketika mengadakan perjanjian terkait suatu kebijakan untuk mendukung visi Negara yang menjalin kerjasama. Masalahnya, ketika hokum tersebut memberikan dampak buruk hingga mengakibatkan kerugian dari suatu Negara.

Agenda politik Khilafah adalah ketika mengadakan penaklukkan dengan suatu wilayah yang mayoritas penduduknya adalah kafir. Penaklukkan di sini bukan semata penghancuran suatu wilayah hingga menyebabkan kerugian di pihak lawan.

 Penaklukkan dilakukan dengan dakwah sebagai bagian dari jihad. Dakwah yang dilakukan di suatu wilayah dapat dilakukan dengan berbagai macam bentuk. Sebagaimana Indonesia dahulu ketika masih di bawah kekuasaan Hindu-Buddha, mereka melakukan kegiatan muamalah seperti perdagangan, pendidikan, hingga pernikahan.

Mereka biasanya terdiri dari para ulama atau cerdik cendekia. Dakwah yang dilakukan biasanya dapat diwujudkan dengan menunjukkan akhlak Islami dengan tidak membedakan masyarakat dari berbagai segi. Seperti dalam Hindu dikenal dengan adanya system Kasta, Islam tidak mengenal system tersebut.

Mereka tidak melakukan suatu intimidasi dengan memaksa hingga melakukan penyerangan. Kecuali, jika mereka bersedia masuk Islam namun kemudian menolak pada akhirnya. Orang tersebut pantas diperangi oleh Khilafah karena bisa berdampak buruk bagi kelangsungan umat Islam.

Islam menunjukkan akhlak mulia dengan menghormati hak-hak umat manusia. Baik Muslim maupun Kafir, sama-sama diberi hak yang proporsional tanpa ada yang terzhalimi. Mereka tidak dibedakan menurut kasta, status social, hingga jenis kelamin. Semuanya sama-sama mendapat perlakuan yang adil.

Terkait kemudharatan akibat keinginan dari suatu kaum yang dapat merusak umat Islam, mereka dapat diperangi oleh Khalifah dan tidak ada perlakukan baik sedikitpun. Terutama dilakukan oleh Kaum Kafir Harbi yang berkeinginan merusak umat islam karena kebencian yang sangat dalam.

Mereka dapat meminta bantuan umat muslim lain untuk memuluskan langkahnya. Maka dari itu, kaum muslim tersebut dikenal sebagai kaum Munafik. Berbeda dengan kaum Kafir Dzimmi yang mendapat perlindungan dari Khalifah dan mereka tunduk pada kekuasaan.

Mereka dapat diperangi dengan menggunakan senjata yang dapat melemahkan kekuatan musuh. Jika mereka menggunakan serangan fisik, pertahanan yang digunakan adalah serangan fisik juga. Berbeda dengan zaman sekarang ini yang sudah terjadi kerusakan dari segi pemikiran. Hal itu dapat disebut sebagai Ghazmul Fikr.

Kaum muda tidak lagi diperkuat motivasinya untuk bertahan dari serangan kaum yang ingin merusak Islam. Penghancur yang dapat ditempuh adalah dengan memberi kesenangan yang membuat gaya hidup mereka semakin hedon.

Siaran televisi untuk kaum muda selalu berisi tentang maksiat seperti pacaran. Begitu juga orang tuanya, mereka ditumbuhkan sebuah keyakinan bahwa anak yang dilahirkan memiliki kebebasan untuk melakukan apapun. Akibatnya, hilang kepedulian dari orang tua akibat pengaruh buruk pemikiran yang merusak.

Hal tersebut dapat berakibat pada lemahnya umat Islam dalam berkehidupan. Mereka bahkan sampai tidak lagi mengenal kewajiban agama yang dibebankan padanya. Akibat pengaruh pemikiran yang penuh dengan kebebasan semu dan merusak tersebutlah yang menyebabkan rusaknya moral umat Islam. Hal itu dapat membahayakan suatu kaum hingga hilangnya peradaban. Maka dari itu, diperlukan tindakan tegas untuk mencegah kemudharatan.


Hal itu tidak bisa dibiarkan terjadi apabila Khilafah berdiri. Khalifah tidak memberikan akses apapun kepada kaum Kafir untuk merusak umat Islam. Mereka bahkan diperangi sampai kaum perusak tersebut menyerah dan kembali meninggalkan tanah yang akan mereka kuasai tersebut.

Selain itu, mereka juga menghukum penghianat selayaknya musuh perang. Hal tersebut dilakukan sebagai upaya preventif untuk melindungi umat islam dan wilayahnya.[MO]

Posting Komentar