Oleh: Arin RM, S.Si

Mediaoposisi.com-April, identik dengan peringatan hari Kartini atau yang dikenal dengan Kartinian. Iya, Kartini adalah sosok yang populer sebagai pejuang wanita dengan semboyan “Habis Gelap Terbitlah Terang”. 

Sejarah tentang Kartini selama ini disampaikan berdasarkan kaca mata liberal, yang cenderung menjadikan sosok Kartini sebagai icon perjuangan kesetaraan gender. 

Kartini dijadikan tokoh yang seolah membenarkan para wanita menduduki posisi setara dengan laki-laki di semua bidang. Padahal sebagai seorang Muslim tentu kita tidak asing dengan kutipan “Habis Gelap Terbitlah Terang”. 

Al Quran telah menyebutkannya dalam surat Al Baqarah ayat 257. Sekiranya dengan momen Kartinian ini, tepat kiranya jika melakukan pengkajian kembali terhadap apa yang sebenarnya diinginkan Kartini kala itu.

Kajian objektif terhadap surat-surat yang pernah di tulis oleh Kartini, didapati bahwa Kartini hendak membebaskan ketimpangan perlakuan kala itu. Terdapat sekat perolehan hak bangsawan dan pribumi yang sengaja diberlakukan oleh penjajah, agar supaya pribumi tak pandai, tak mampu melakukan perlawanan. 

Surat Kartini kepada Stella pada awalnya mengisahkan keinginan kuat Kartini untuk belajar hingga ia pun berambisi besar sampai di Eropa, Negara yang menurutnya maju di masa itu. Namun, shahabat Kartini tak memberikan jalan. 

Dan arah pandang Kartini pun berubah ketika di tahun-tahun terakhir hidupnya ia bertemu dengan Kyai Sholeh Darat. Atas bimbingan kajian al Quran beserta maknanya yang disampaikan sang Kyai, perlahan tapi pasti Kartini mendapatkan jawaban atas apa yang hendak diperjuangkannya. 

Pengkajiannya terus berlanjut, bahkan Sang Kyai menghadiahinya al Quran beserta terjemahnya sebanyak 13 juz tepat di hari pernikahannya. Namun, beberapa saat kemudian sang Kyai wafat, sehingga penerjemahan untuk kajian Kartini tidak selesai.

Banyak perubahan yang dialami Kartini setelah mengkaji Islam, termasuk urusan poligami yang dulu sempat ditolaknya. Perubahan pemikirannya tentang Eropa pun berubah, Kartini memandang Eropa bukan lagi peradaban yang sempurna. 

Bahkan yang lebih menonjol, pandangannya terhadap perlunya wanita terdidik juga turut berubah, sebagaimana yang terbaca dari suratnya kepada kepada Prof. Anton dan Nyonya, 4 Oktober 1902:

“Kami di sini memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan anak perempuan, bukan sekali-kali karena kami menginginkan anak-anak perempuan itu menjadi saingan laki-laki dalam perjuangan hidupnya. 

Tapi karena kami yakin sekali bagi kaum wanita, agar wanita lebih cakap melakukan kewajibannya, kewajiban yang diserahkan alam sendiri ke dalam tangannya: menjadi ibu, pendidik manusia yang pertama-tama”.

Sepenggal pandangan hidup berharga dari surat-surat inilah yang tersembunyi dari sosok Kartini.

Kartini melakukan pengkajian yang mendalam terhadap Islam, meski dengannya ia harus melawan kebiasaan adat yang melarang wanita berilmu tinggi. Kartini mengupayakan wanita terdidik bukan untuk menyaingi lelaki sebagaimana yang disuarakan oleh Barat. 

Ia ingin mengajak wanita terdidik agar bisa menjalankan fitrahnya secara cakap, menjadi ibu yang siap mencetak dan mengkader generasi dengan kebaikan. 

Jika Kartini panjang umur dan lanjut pengkajiannya hingga bertemu annur di juz 18 dan al ahzab di juz 21, tidak menutup kemungkinan ia akan mengenakan hijab secara sempurna bukan? 

Jadi berdasarkan teladan perjuangan Kartini yang konsisten mengamalkan alQuran yang ia kaji, maka sangat layak jika spirit menghargai Kartini dilakukan dengan mengikuti jejaknya secara utuh.

Memperingatinya dengan giat melakukan pengkajian Islam dari al Quran lalu mengamalkannya. Bukan dengan sebatas mencukupkan pada kegiatan rutin berkebaya sekaligus kondean.[MO/sr]

*penulis adalah pemerhati perempuan, keluarga, dan generasi

Posting Komentar