Oleh : Lita Lestiani

Mediaoposisi.com- Kasus travel umroh bermasalah kembali terjadi. Sejak heboh  penipuan jamaah umroh oleh First Travel, setelahnya kasus sejenis bermunculan.  Dengan keluhan yang sama terbengkalainya keberangkatan jamaah yang berujung aduan penipuan.

Keinginan berhaji dan umroh pasti ada dalam benak setiap muslim. Walaupun haji hanya di isyaratkan bagi yang mampu tetapi kerinduan menginjakan kaki di tanah suci pasti terpatri dalam setiap diri.

Itulah kenapa banyak orang rela berpeluh demi mengumpulkan rupiah untuk berkunjung ke tanah kelahiran nabi.

Besarnya animo di masyarakat dan kebijakan untuk melakukan deposit sejumlah uang demi mendapatkan nomor antrian haji, menjadi celah bagi para pelaku bisnis dan pemilik modal.  Mayoritas muslim penduduk negeri membuat mata para kapitalis jeli menilik bisnis yang menjanjikan mendulang rupiah.

Maka munculah dana talangan haji dan umroh yang seolah menjadi angin segar bagi kalangan yang terkendala biaya. Bujuk rayu kabah tinggal selangkah di depan mata seolah menjadi pelepas dahaga. Bak gayung bersambut dana talangan banyak menarik minat walaupun terdapat akad bathil atau harus dicicil dengan bunga yang mengandung riba di dalamnya.

Di satu sisi mungkin kendala materi bisa dilalui.  Tetapi ini tak berbanding dengan quota yang di berikan pemerintah saudi yang terbatas.  Antrianpun semakin panjang dan masyarakat mau tidak mau harus menunggu lebih lama.

Saat ini bahkan antrian haji di beberapa daerah sudah sampai belasan tahun. Memang ada pilihan haji plus atau ikut travel swasta yang menjanjikan langsung berangkat tanpa antrian tetapi biayanya pun sangat fantastis.

Lamanya antrian sementara kerinduan berkunjung ke rumah Allah tak terbendung mendorong banyak orang berbondong-bondong melakukan ibadah umroh. Lagi-lagi para pelaku bisnis (pemilik modal) jeli melihat peluang. Bayangan keuntungan yang besar begitu menggiurkan.

Di negara dimana kapitalisme sekularisme mengcengkram semua lini,  aturan agama tak diperkenankan mencampuri urusan kehidupan selain sebagai ritual ibadah penghambaan. Banyak oknum pelaku bisnis travel umroh tak berdaya dan menjadi hedonis.

Syariat tak di indahkan demi mencapai kepuasan materi bisnis bathil pun dijalankan. Demi keuntungan berlipat pundi-pundi rupiah di depan mata diputar untuk bisnis pribadi. Tak peduli bahwa itu akan merugikan jamaahnya.

Padahal jika syariat agama diterapkan secara kaffah tidak hanya untuk individu tetapi dalam bermasyarakat dan bernegara bisa menjadi benteng agar moral terjaga dan umat terhindar dari segala hal yang merugikan .

Syariat agama bisa menjadi pertahanan yang kuat dari godaan maksiat. Kita tentu masih ingat dengan kasus penyelewengan dana haji yang melibatkan oknum pejabat di departemen agama. Para pejabat yang seharusnya lebih mengerti agamapun tergoda juga melakukan korupsi. Itulah akibatnya jika syariat agama tak di pakai dalam aturan bernegara.

Saat ini ramai jamaah melaporkan travel umroh yang bermasalah. Para pelakunyapun tak dapat menghindar dari jerat hukuman.

Tetapi masalahnya apakah ini cukup membendung kasus sama tidak terulang.  Untuk menuntaskannya harus melihat akar penyebabnya.

Selama penyakit kapitalis sekuler menginfeksi masyarakat maka hal ini akan terus terjadi. Paham kapitalis sekuler yang saat ini telah menyusup ke ranah ibadah yang dibisniskan harus disingkirkan.

Penerapan Islam Kaffah Solusi Terbaik

Saat ini urusan haji dan umroh menjadi wewenang Saudi. Para jamaah yang ingin berkunjung harus patuh pada aturan yang telah ditetapkan oleh mereka. Padahal Kabah adalah simbol umat muslim sedunia tak hanya milik negara Arab saja.Haji  adalah perkara global yang menyangkut urusan jamaah seluruh dunia. Maka sudah selayaknya ditangani oleh institusi yang mendunia.

Yang menyatukan seluruh umat tak hanya pada saat umroh dan haji saja. Tapi sebuah institusi yang membawahi umat muslim di seluruh dunia yang  menerapkan Islam secara kaffah.

Ketika syariat islam diterapkan,  baik pengelola maupun jamaah akan terikat pada aturan.  Syariat menjadi kedaulatan tertinggi dalam memutuskan sebuah perkara. Dengan syariat segala perkara yang mengandung unsur ribapun pasti akan ditiadakan.  Maka perjalanan haji dan umroh akan kembali bersipat alamiah berdasarkan kemampuan.

Para pengelolanya juga akan betul-betul memikirkan bagaimana meriayah umat dan mengurusinya dengan  dasar  ketaqwaan.  Bukan karena memikirkan untung untuk mendulang rupiah semata.

Oleh karenanya penerapan islam secara kaffah menjadi solusi terbaik untuk mengatasi segala masalah tak hanya haji dan umroh , tetapi menyangkut seluruh urusan manusia. Karena hanya Allah lah sebaik-baik pengatur  yang pasti mendatangkan kemaslahatan dan keselamatan dunia dan akhirat.[MO/br]

Posting Komentar