Revolusi| Mediaoposisi.com- Jagat maya sedang dihebohkan oleh pernyataan pejabat partai di negeri ini. Ketua DPP PDIP Bidang Kemaritiman Rokhmin Dahuri mengumpamakan gaya kepemimpinan Presiden Joko Widodo (Jokowi) dengan Umar bin Khatab. Alasannya karena Jokowi dekat dengan rakyat.

Mirisnya, seorang presiden negara demokrasi dengan dengan khalifah sekaligus sahabat sekaliber Umar Bin Khatab RA.

Dari pernyataan itu kita memang harus menerima kenyataan bahwa hadits tentang tanda tanda kiamat memang sedang di depan mata, dimana mulai bermunculan manusia manusia ' bodoh' bersuara.

Selain itu , diantara tanda tanda kiamat yang lain adalah munculnya tahun tahun (sanawaat khodda'ats).

Dalam  hadits dikhabarkan pada tahun kebohongan itu akan muncul sosok Penguasa  Ruwaibidhah.

Dalam kitab, al-Mustadrak ‘ala as-Sahihain, al-Hakim mengeluarkan hadits:

» سَيَأْتِيَ عَلَى الناَّسِ سَنَوَاتٌ خَدَّاعَاتٌ يُصَدَّقُ فِيْهَا الْكَاذِبُ وَيُكَذَّبُ فِيْهَا الصَّادِقُ وَيُؤْتَمَنُ فِيْهَا الْخَائِنُ وَيُخَوَّنُ فِيْهَا الأَمِيْنُ وَيَنْطِقُ فِيْهَا الرُّوَيْبِضَةُ قِيْلَ وَمَا الرُّوَيْبِضَةُ قَالَ الرَّجُلُ التَّافِهُ فِي أَمْرِ الْعَامَّةِ» [رواه الحاكم في المستدرك، ج 5/465]

"Akan tiba pada manusia tahun-tahun penuh kebohongan. Saat itu, orang bohong dianggap jujur. Orang jujur dianggap bohong. Pengkhianat dianggap amanah. Orang amanah dianggap pengkhianat. Ketika itu, orang “Ruwaibidhah” berbicara. Ada yang bertanya, “Siapa Ruwaibidhah itu?” Nabi menjawab, “Orang bodoh yang mengurusi urusan orang umum.” (Hr. al-Hakim, al-Mustadrak ‘ala as-Shahihain, V/465).

Penguasa negeri ini telah mempertontonkan segala bentuk kebodohannya lengkap dengan kebohongannya. Berdalih mengurusi umat namun mencari keuntungan demi kepentingannya. Inilah Ruwaibidhah.

Tidak hanya satu kebohongan yang dipertontonkan pada ummat namun begitu banyak.

Berikut ini adalah beberapa kebohongannya:

Buyback Indosat
Presiden Jokwi berjanji untuk membeli kembali (buy back) saham PT Indosat yang dijual ke perusahaan asing pada masa pemerintahan Megawati Soekarnoputri. Saat ini, Indosat dikuasai perusahaan asal Qatar, Ooredoo Asia Pte Ltd, dengan kepemilikan saham sebesar 65 persen, pemerintah Republik Indonesia 14,29 persen, perusahaan Amerika Serikat Skagen sebesar 5,42 persen, selebihnya 15,29 persen dimiliki publik.

Baca Juga : Alangkah Lucunya PDIP (1)

Jokowi Janji Tidak Menaikkan Harga BBM
Sejak Oktober 2014, Presiden Jokowi sudah sekitar tujuh sampai delapan kali melakukan perubahan harga Bahan Bakar Minyak (BBM). Pada November 2014, Jokowi menaikkan harga BBM, lalu diturunkan pada Januari 2015.

Harga BBM kembali turun pada pertengahan Januari 2015. Awal Maret 2015, harga BBM kembali naik. Di penghujung Maret 2015, harga BBM dinaikkan lagi. Selanjutnya, pada  pertengahan Desember 2016, harga BBM jenis Pertamax, Pertalite, dan Dexlite kembali dinaikkan. Dan yang terbaru februari 2018 harga BBM dinaikkan kembali.

Tidak Hutang Luar Negeri
Berikutnya, Dalam kampanye pilpres tahun 2014, Tim Ekonomi Jokowi JK berjanji tidak akan pernah berhutang lagi. Jokowi tidak akan meminjam uang keluar negeri untuk membiayai pembangunan infrastruktur.

Faktanya, utang Indonesia malah semakin menumpuk saat Jokowi menjadi Presiden. Bank Indonesia (BI) mencatat Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia pada akhir November 2017 sebesar USD347,3 miliar atau sekitar Rp 4.363 triliun lebih.

Investasi Asing
Jokowi pernah menjnajikan mempersulit investasi asing, Namun faktanya kemudahan perizinan investasi asing diberikan oleh Presiden Jokowi dan ini menuai kritik. Janji yang digembar-gemborkan Jokowi di forum APEC dan G20 baru-baru ini dinilai melanggar janjinya saat kampanye pilpres lalu.

Jokowi Janji Tidak Impor Pangan   
Hingga kini Pemerintah Indonesia belum bisa menghentikan impor pangan. Padahal, impor pangan yang diterapkan pemerintah menyebabkan rusaknya kaum tani dan pertanian di Tanah Air. Impor pangan hanya menguntungkan para pelaku importir.

Dan masih banyak kebohongan jokowi sebagai presiden.

Maka apakah layak seorang pembohong disetarakan dengan khalifah Umar yang memiliki banyak kemulyaan dan prestasi kebanggaan sebagai penguasa kekhilafahan? jelas tidak !

Jokowi hanyalah sosok pemimpin yang dimunculkan serta  dijadikan alat oleh segelintir pemilik modal di negeri ini.

Jokowi melanggengkan sistem yang rusak yang dijajakan oleh barat, dengan politik internasionalnya.

Barat dalam hal ini Amerika Serikat sesuai dengan tabiat penjajahnya  sengaja menanamkan antek anteknya di negeri kaum muslimin untuk  memperkuat pegaruhnya.

Ditambah pula dengan pengaruh ekonomi Tiongkok yang secara nyata terasa semakin mencengkeram negeri ini.

Baca Juga : Haram Memilih Jokowi

Jokowi hanyalah kepanjangan tangan dari pembuat kebijakan internasional yang berbasis kapitalisme sekulerisme . Ini nampak dari kebijakan kebijakan dalam negeri yang dikeluarkan yang mencekik dan merugikan rakyat.

Maka sungguh tak layak dan menyakitkan mengumpamakan Jokowi dengan Khalifah Umar Bin Khatab kekasih Rosulullah yang telah mendapat keridhoan Allah SWT.[MO/na]







Posting Komentar