Oleh : Meltalia Tumanduk, S.Pi 
(Pemerhati Perempuan dan Generasi)

Mediaoposisi.com- Perempuan atau wanita atau cewek adalah hal yang paling menarik untuk diperbincangkan dan seakan-akan tidak pernah ada habisnya untuk dibahas. Begitu banyak cerita tentang mereka, begitu banyak persoalan hidup yang mereka hadapi.

Di era digital sekarang ini tuntutan hidup kepada sosok perempuan semakin tinggi. Perempuan dituntut untuk "cantik" sesuai dengan standar cantik ala kapitalis, dituntut untuk memenuhi gaya hidup yang hedonis, dll.

Tidak heran jika banyak perempuan yang akhirnya memilih keluar rumah untuk bekerja memenuhi "tuntutan" tersebut, walaupun banyak juga perempuan yang bekerja membantu perekonomian keluarga bahkan menjadi tulang punggung keluarga.

Perempuan-perempuan yang bekerja untuk memenuhi tuntutan gaya hidup ala kapitalis tidak sedikit yang mengambil jalur instan misalnya menjadi Pekerja seks komersial (PSK). Bahkan bukan hanya dalam negeri mereka melakukan pekerjaan ini, tetapi sampai dengan luar negeri.

Baru - baru ini kita dikejutkan dengan Cinderella Escorrs (CE) situs pelelangan keperawanan yang berpusat di Jerman.

Tidak sedikit perempuan Indonesia yang melamar ke Cinderella Escorts (CE), situs pelelangan keperawanan yang berpusat di Jerman. Jumlahnya mencapai sekitar 350 orang dengan usia antara 18 sampai 23 tahun. Tribunnews.com mewawancarai owner Cinderella Escorts, Jan Zakobielski secara khusus. (Tribunnews.com, 31 Maret 2018)



Sebelumnya juga heboh pemberitaan Prostitusi On Line, bukan hanya di Ibu Kota tetapi merambah sampai Daerah terpencil.

Terjadinya hal tersebut dikarenakan butanya para perempuan akan materi. Mereka sibuk memenuhi gaya hidup yang hedonis. Mereka tertipu memenuhi standar kecantikan ala Kapitalis misal harus memiliki body yang langsing, kulit putih, wajah putih tidak berjerawat dan flek.

Padahal kita tahu untuk perawatan tubuh saja, tidak cukup 1juta dalam 1 bulan jika pergi ke salon. Belum lagi memakai perawatan diluar salon, ditambah harus mengikuti tren pakaian, tas, sepatu, dan lain sebagainya. Jadi wajar perempuan menghalalkan berbagau cara untuk menghasilkan banyak uang.

Negara harusnya mampu mensejahterahkan perempuan dengan menyediakan lapangan pekerjaan yang layak bagi laki-laki dan gaji yang bisa mencukupi kebutuhan keluarga.

Selain itu juga negara memberikan fasilitas umum terutama pendidikan dan kesehatan dengan gratis kepada masyarakat, agar perempuan tidak keluar rumah untuk membantu perekonomian keluarga denga bekerja.

Negara telah abai mensejahterahkan perempuan, sehingga tidak sedikit perempuan keluar rumah untuk mencari kerja. Karena begitu sulit mencari pekerjaan dan begitu berat beban yang ditanggung oleh perempuan ketika bekerja, maka tidak sedikit perempuan mencari pekerjaan yang instan tersebut.

Selain mereka yang bekerja untuk memenuhi tuntutan hidup yang hedonis seperti yang telah disampaikan diatas.

Islam begitu memuliakan perempuan. Tidak ada standar cantik fisik dalam Islam. Tapi cantiknya seorang perempuan adalah ketika dia tunduk pada aturan Rabbnya. Seperti menutup aurat ketika  keluar rumah atau bertemu dengan orang asing. Tidak bertabarruj (Bersolek berlebihan) ditempat umum.

Islam telah memuliakan kaum wanita dengan memerintahkan mereka untuk tetap tinggal dalam rumahnya. Ini merupakan ketentuan yang telah Allah syari’atkan. Dijelaskan dalam Al-Qur’an Surah Qs. Al-Ahzab: 33 yang artinya :

“Dan hendaklah kamu tetap berada di rumahmu, dan janganlah kalian berhias dan bertingkah laku seperti model berhias dan bertingkah lakunya orang-orang jahiliyah dahulu (tabarruj model jahiliyah).”

Ini bukan berarti Islam mengekang dan mengintimidasi perempuan. Dimasa Rasulullah dan para Sahabat, perempuan diberikan hak untuk bersuara menyampaikan pendapat serta terlibat dalam politik.

Seperti kisah seorang shahabiyah yang mendapatkan gelar dzaatun nithaaqain (pemilik dua ikat pinggang), Asma' binti Abu Bakar. Wanita muda yang sedang hamil tua memainkan peran politik krusial melindungi seorang Rasul yang juga seorang revolusioner.

Asma' binti Abu Bakar berhasil menyediakan logistik bagi Rasulullah dan Abu Bakar yang mendampingi Rasulullah SAW Hijrah ke madinah, sehingga berdirilah Negara Islam pertama di Madinah.

Dan luar biasanya Asma' binti Abu Bakar adalah seorang muslimah yang turut berkontribusi dalam peristiwa tersebut dengan sangat baik. Ini adalah salah satu kisah dari shahabiyah dimasa Rasulullah yang turut andil dalam ranah publik.

Sungguh telah dijelaskan di dalam Al-Qur’an betapa pentingnya peran perempuan, baik sebagai ibu, istri, saudara perempuan, maupun sebagai anak. Demikian pula yang berkenaan dengan hak-hak dan kewajiban-kewajibannya. Adanya hal-hal tersebut juga telah dijelaskan dalam sunnah Rasul.

Sesungguhnya wanita muslimah memiliki kedudukan yang tinggi dalam Islam dan pengaruh yang besar dalam kehidupan setiap muslim. Dia akan menjadi madrasah pertama dalam membangun masyarakat yang shalih, tatkala dia berjalan di atas petunjuk Al-Qur’an dan sunnah Nabi.

Karena berpegang dengan keduanya akan menjauhkan setiap muslim dan muslimah dari kesesatan dalam segala hal.

Kesesatan dan penyimpangan umat tidaklah terjadi melainkan karena jauhnya mereka dari petunjuk Allah dan dari ajaran yang dibawa oleh para nabi dan rasul-Nya.

Rasulullah bersabda, “Aku tinggalkan pada kalian dua perkara, di mana kalian tidak akan tersesat selama berpegang dengan keduanya, yaitu Kitab Allah dan sunnahku.” (HR. Imam Malik)

Tidak sedikitnya perempuan menjadi Pekerja Seks Komersial (PSK) apalagi dalam skala internasional adalah buah dari rusaknya sistem sekuler yang telah berhasil memisahkan agama dari kehidupan.

Sudah saatnya kaum perempuan keluar dari belenggu kapitalisme-sekulerisme dengan memperjuangkan Islam Kaffah dalam bingkai Khilafah, karena hanya Khilafahlah yang bisa menerapkan Islam secara menyuluruh dalam aspek kehidupan.[MO/br]

Posting Komentar