Cinderella Escorts !


Oleh: Astia Putriana, SE
Mahasiswi Pascasarjana FEB UB Malang dan 
Anggota Komunitas Penulis “Pena Langit”

Mediaoposisi.com- Pernahkah anda menonton film Ayat-Ayat Cinta 2 yang sempat booming pada Desember 2017 lalu. Disana anda akan menemui potongan kisah tentang Keira, seorang remaja putri yang bertalenta dan berambisi menjadi violist terkenal. Namun, kendala ekonomi menjadikan ia bersedia menjual dirinya demi memenuhi hasrat menggapai cita-cita.

Tidak, nyatanya kisah ini tidak hanya sekedar drama film, namun terjadi di dunia nyata. Inilah yang terjadi pada para wanita yang melelang keperawanannya di situs Cinderella Escorts yang merupakan pionir dan pemain terbesar dalam ‘bisnis’ pelelangan keperawanan..

Mirisnya, wanita Indonesia tak ketinggalan didalamnya. Sebagaimana dikutip dari Tribunnews.com (31/3), terungkap bahwa sebanyak 350 wanita Indonesia telah mendaftarkan diri untuk melelang keperawanannya di situs tersebut. Fakta ini didapat setelah Jan Zakobielski, pemilik bisnis ini menyatakan dalam wawancara terbatas.



Ia pun menyebutkan bahwa ada politisi kenamaan yang ikut serta dalam transaksi lelang perawan ini bahkan berani membayar dengan harga tinggi.

Wanita Indonesia, Mengapa Terjadi?

Permasalahan yang menimpa wanita Indonesia sejatinya hanya berputar pada hal yang itu-itu saja, yakni masalah pemenuhan kebutuhan. Masih berkaca pada kasus lelang keperawanan pada situs Cinderella Escort, didapat fakta bahwa wanita yang melelang keperawanan ini merupakan orang-orang yang terlibat dalam masalah ekonomi dan pendidikan.

Ada juga yang beralasan bahwa melelang keperawanan melalui agensi dianggap sebagai opsi yang jauh lebih baik dibandingkan harus memberikan secara “gratis” kepada orang yang salah.

Wanita yang menjual keperawanannya dijamin akan mendapatkan 80% pendapatan, sedangkan agensi mendapatkan sisanya. Pria pemenang lelang pun dijamin tidak akan ditipu karena agensi menjamin adanya sertifikat keperawanan dari ahli kesehatan atas wanita tersebut.

Sungguh ironi !! Wanita Indonesia tidak hanya terbelit dalam pemenuhan kebutuhan dasarnya, melainkan pula telah terkontaminasi dengan paham sekularisme dan materialisme. Sekularisme telah menjadikan manusia terjebak dalam urusan dunia dan mengesampingkan nilai agama dalam aktivitasnya.



Wajar saja, agama tak dijadikan landasan, maka kerusakan perilaku lahir darinya. Ditambah lagi, prinsip simbiosis mutualisme seolah menjadi pembenaran perilaku maksiat tersebut, menganggap “tubuhku otoritasku” dan merelakan tubuh menjadi komoditas tanpa memandang hal tersebut melanggar syariat. Inilah ciri generasi hedonis dan liberalis.

Terlebih, wanita pun telah dibutakan dengan orientasi materi, bahwa kebahagiaan diukur dengan kemampuan mendapatkan apa-apa yang diinginkan, tak peduli jika harus menghalalkan segala cara termasuk dengan menjual kehormatan. 

Selain itu, pandangan bahwa pendidikan sebagai jembatan penyelamat dari kemiskinan menuju kekayaan telah menjadikan wanita bersikeras untuk mencapainya.

Kesalahan fatal adalah belum sempurnanya pemahaman mengenai makna pendidikan sejati ditambah lagi akses pendidikan yang masih belum merata dan mahal menjadikan wanita harus berusaha keras pula untuk mencapainya, meski dengan cara yang tidak halal.

Islam Memuliakan Wanita

Kehormatan diri seorang wanita merupakan sesuatu yang harusnya dijaga. Islam pun telah secara jelas memberikan perlindungan terbaik kepada wanita melalui syariatNya. Syariat Islam memberikan standar nilai yang jelas tentang suatu perbuatan, tidak datang hanya dari hawa nafsu melainkan dari ALLAH SWT yang memiliki otoritas penuh atas diri hamba.

Kesejahtaraan wanita juga menjadi aspek yang tak luput dari pengaturan Islam. Negara memang dituntut untuk mewujudkan kesejahteraan rakyat, tak terkecuali wanita.

Wanita dijamin pemenuhan pendidikan, kesehatan dan keamanan. Tepat kiranya menyatakan bahwa Islam adalah Rahmatan lil Alamin.




Ironi lelang perawan saat ini sejatinya menunjukkan lemahnya negara dalam melindungi kehormatan wanita. Beratnya tekanan kehidupan mendorong wanita untuk mengambil jalan instan demi memenuhi standar kesejahteraan yang diharapkan.

Hanya penerapan syariat Islam secara total yang mampu menjamin kesejahteraan wanita hingga mampu menjaga kehormatan dan kemuliaan wanita.[MO/br]


Posting Komentar