aksi Gema Pembebasan 11/4 Sultra

Oleh: Sitti Sarni,S.P

Mediaoposisi.com- Lagi-lagi penistaan terhadap islam terjadi. Masih belum kering luka atas penghinaan Al-Maidah 51 yang dilakukan oleh ahok, kini muncul lagi penistaan agama oleh Sukmawati Soekarnoputri.

Penistaan agama yang dilakukan oleh Sukmawati Soekarnoputri viral di media massa. Alumni Persaudaraan 212 menilai Sukmawati Soekarnoputri telah melakukan penodaan agama dalam pembacaan puisinya yang berjudul “Ibu Indonesia”.

Bahkan, kasus Sukmawati Soekarnoputri dinilai lebih parah dari pada penodaan agama oleh mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias ahok.(Tempo com, 6 April 2018).

Gema Pembebasan SULTRA dan Royatul Islam SULTRA, yang tergabung dalam Aksi Bela Islam, berunjuk rasa menuntut agar Sukmawati Soekarnoputri ditangkap dan dihukum.

“Tangkap Sukmawati Soekarnoputri,” kata pengunjuk rasa, Rabu, 11/4 2018. Selain memekikkan takbir, mereka menyanyikan bait lirik berbunyi,”Tangkap,tangkap,tangkap si busuk,tangkap sibusuk sekarang juga.

Puisi Sukmawati menuai polemic lantaran dinilai melecehkan agama islam, karena ia membandingkan cadar dengan konde serta azan dengan kidung. Sejumlah pihak pun telah melaporkan Sukmawati ke polisi atas dugaan penistaan agama

Inilah akibat system kapitalisme-demokrasi yang diterapkan. Hukuman yang diberikan kepada penista agama islam tidak memberi jera. Hukum yang diterapkan adalah hukum buatan manusia yang bisa direvisi bila itu bertentangan dengan para kapitalis.

Pandangan Islam terhadap Penista Agama

Berbeda dengan kapitalisme. Islam telah menetapkan hukuman bagi penista agama islam adalah hukuman mati. Para ulama tak berbeda pendapat bahwa muslim yang melakukan penghinaan terhadap Al-Qur’an, dalam keadaan dia tahu telah melakukan penghinaan terhadap Al-Qur’an, maka dia telah murtad dan layak mendapatkan hukuman mati.

Imam Nawawi berkata: “Para ulama sepakat bahwa barang siapa yang menghina Al-Qur’an, atau mendustakan suatu hokum atau berita yang dibawa Al-Qur’an, atau menafikan sesuatu yang telah ditetapkan Al-Qur’an, atau menetapkan sesuatu yang telah dinafikan oleh Al-Qur’an atau meragukan sesuatu dari yang demikian itu, sedang dia mengetahuinya, maka dia telah kafir (Imam Nawawi Al Majmu’, Juz II,hal,170: (Ahmad Salim Malham, Fadhurahman fi Al Ahkam Al Fiqiyyah Al Khashshah bil Qur’an, hal.480).

Demikian pula non muslim yang melakukan penghinaan terhadap Al-Qur’an, maka hukumannya adalah hukuman mati, sama dengan hukuman untuk orang muslim yang menghina Al-Qur’an.

Berdasarkan kesamaan kedudukan non muslim dan muslim dihadapan hokum islam dalam Negara islam (khilafah) Syekh Ali bin Nayit  Al Syahdud dalam kitabnya Al Khulashah fi Ahkam ahli Al Dzimmah wa Al Musta manin berkata:

“Jika seorang dari Ahludz Dzalimah (warga Negara non muslim) melakukan suatu kejahatan yang terkategori huduud seperti berzina,menuduh zina,mencuri atau berbagai (qath’ut thariq), maka dia dijatuhi hukuman dengan hukuman yang telah ditentukan untuk kejahatan-kejahatan tersebut, kedudukan mereka dalam hal ini sama dengan kaum muslim.’
(Ali bin Nayit  Al Syahdud dalam kitabnya Al Khulashah fi Ahkam ahli Al Dzimmah wa Al Musta manin hal.36).

Imam Ibnu Qoyyim telah menjelaskan dengan rinci dalam kitabnya Ahkam Ahli Al Dzimmah, bahwa jumhur utama (yaitu mazhab maliki, syafi’I,hambali) sepakat jika seorang ahlidz dzimmah melakukan penhginaan kepada islam, maka batallah perjanjiannya sebagai warga Negara dan layak dihukum mati ( Ibnu Qoyyim Al Jauziyyah,Ahkam Ahlidz Dzalimah,hal.1356-1376).

Hanya saja perlu ditegaskan disini, bahwa yang berhak yang menjatuhkan hukuman mati untuk penghina Al-Qur’an bukan sembarang individu atau kelompok, melainkan hanyalah imam (khalifah).

Atau wakilnya dalam Negara islam (khilafah) setelah imam atau wakilnya melakukan proses pembuktian di peradilan dan melakukan istitabah (meminta terpidana untuk bertaubat /masuk islam ) tapi perpidana tidak mau bertaubat. (Al Mausu’ah Al Fiqhiyyah, Juz XXII, hal.194).[MO/br]

Posting Komentar