Mediaoposisi.com-  Seperti  dilansir dari tempo.co.id. Ketua DPP Partai Demokrasi Indonesia  Perjuangan Bidang Kemaritiman, Rokhmin Dahuri, mengatakan Joko Widodo  atau Jokowi merupakan sosok yang mirip Umar bin Khattab.

Sebab, antara  Jokowi dan Umar, menurut dia, memiliki kesamaan dalam mendekati rakyat. "Leadership style Jokowi ke mana saja salaman enggak ada protokoler, beliau kayak Umar bin Khattab dan datang ke sana-ke mari, gitu, ya," kata Rokhmin di kantor PDIP, Lenteng Agung, Jakarta Selatan, Ahad, 8 April 2018.

Demikianlah pernyataan salah satu anggota parpol PDIP,  menganggap leadership style jokowi persis dengan kepemimpinan Umar bin Khtab.  Padahal,  untuk menilai style aspek kepemimpinan bukan hanya dilihat dari satu aspek saja.

Kepemimpinan yang dicintai rakyat,  tidak sekedar ada protokoler atau tidak,  turun ke got atau blusukan dan apapun yang semisalnya.  Namun sejatinya pemimpin dalam Islam adalah pelayan,  pengayom setiap kepentingan urusan rakyatnya.

Tidak sekedar penampilan merakyat,  akan tetapi harusnya kebijakan yang diambil mengutamakan kepentingan rakyat.

Baca Juga : Mengenal Penguasa Ruwaibidhah

Selayang Pandang Kisah Khalifah Umar bin Khatab RA

Khalifah Umar bin Khatab adalah khalifah yang kedua menggantikan khalifah Abu Bakar RA. Umar pernah memutuskan untuk mencoba membunuh Nabi Muhammad SAW, namun saat dalam perjalanannya ia bertemu dengan salah seorang pengikut Nabi Muhammad SAW bernama Nu'aim bin Abdullah yang kemudian memberinya kabar bahwa saudara perempuan Umar telah memeluk Islam, ajaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW yang ingin dibunuhnya saat itu.

Karena berita itu, Umar terkejut dan pulang ke rumahnya dengan dengan maksud untuk menghukum adiknya, diriwayatkan bahwa Umar menjumpai saudarinya itu sedang membaca Al Qur'an surat Thoha ayat 1-8, ia semakin marah akan hal tersebut dan memukul saudarinya.

Sebelum menjadi khalifah,  Umar merupakan penasehat Abu Bakar. Beliau ditunjuk menggantikan Abu Bakar setelah wafatnya Abu Bakar pada tahun 634, Umar ditunjuk untuk menggantikan Abu Bakar sebagai khalifah kedua dalam sejarah Islam.

Masa pemerintahannya, kekuasaan Islam tumbuh dan berkembang dengan sangat pesat. Islam mengambil alih Mesopotamia dan sebagian Persia dari tangan dinasti Sassanid dari Persia (yang mengakhiri masa kekaisaran sassanid) serta mengambil alih Mesir, Palestina, Syria, Afrika Utara dan Armenia dari kekaisaran Romawi (Byzantium). Saat itu ada dua negara adi daya yaitu Persia dan Romawi.

Namun keduanya telah ditaklukkan oleh kekhalifahan Islam dibawah pimpinan Umar. Sejarah mencatat banyak pertempuran besar yang menjadi awal penaklukan ini

Keutamaan Umar bin Khatab RA. 

Sejarah mencatat sahabat Rasulullah saw ini digelar sebagai al-Faruq sang pembeda yang haq dan bathil. Kepemimpinan beliau dikenang dalam peradaban sebagai khalifah yang sangat mencintai rakyatnya.

Senantiasa melakukan ronda malam keliling kampung untuk melihat kondisi rakyatnya sendiri, enggan hidup mewah dan makan enak,  karena khawatir rakyat justru sedang lapar, dan terhadap non muslimpun selalu bijak setiap memyelesaikan masalah mereka.

 Sebut saja kisah baju besi beliau yang dicuri oleh seorang yahudi, dan Umar tidak mampu menunjukkan bukti bahwa seorang yahudi tersebut telah mencuri baju besinya.

Dan qadhipun menetapkan bahwa yahudi tetaebut menang di peradilan.  Dan inilah yang membuat terenyah rakyatnya sendiri yang non muslim,  dan juatru memberi hidayah kepada seorang yahudi tadi untuk memeluk Islam.

Berikut keutamaan-kautamaan Khalifah Umar bin Khatab,  yang bisa menjadi landasan. Mengapa kitapun hari ini bisa mencontoh dan meneladani kepemimpinan beliau.

Pertama. Umar bib Khatab adalah sahabat yang mendapat pujian langsung dari Rasulullah saw dallam sabda beliau :

لَقَدْ كَانَ فِيمَا قَبْلَكُمْ مِنَ الْأُمَمِ مُحَدَّثُونَ، فَإِنْ يَكُ فِي أُمَّتِي أَحَدٌ فَإِنَّهُ عُمَرُ

"Sungguh dahulu di antara umat sebelum kalian ada beberapa Muhaddatsun (yaitu orang-orang yang diberi ilham / firasat yang benar). Seandainya ada seseorang di antara umatku, maka sesungguhnya dia adalah Umar.” (HR al-Bukhari)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:

لَوْ كَانَ بَعْدِيْ نَبِيٌّ، لَكَانَ عُمَرُ

"Jika seandainya ada Nabi setelahku, maka ia adalah ‘Umar.”
 (HR at-Tirmidzi, Al-Hakim, Ahmad)

Kedua. Laki-laki yang ditakuti oleh setan.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنِّي لَأَنْظُرُ إِلَى شَيَاطِيْنِ الْإِنْسِ وَالْجِنِّ قَدْ فَرُّوْا مِنْ عُمَرَ

"Sungguh aku melihat setan-setan dari kalangan jin dan manusia lari (kabur) dari Umar.” (HR at-Tirmidzi, hadits ini dinilai hasan oleh Syaikh al-Albani di dalam Misykatul Mashabih yang ditahqiq oleh beliau.)

إِيْهًا يَا ابْنَ الْخَطَّابِ، وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ مَا لَقِيَكَ الشَّيْطَانُ سَالِكًا فَجًّا قَطُّ إِلَّا سَلَكَ فَجًّا غَيْرَ فَجِّكَ

"Wahai ‘Umar bin Al-Khaththab, demi Dzat yang jiwaku ada di tanganNya, tidaklah ada satu pun setan yang bertemu denganmu di suatu jalan melainkan dia akan mencari jalan yang lain yang tidak dilalui olehmu.” (HR al-Bukhari dan Muslim).

Baca Juga : Benarkah Jokowi Antek

Keberanian dan ketegasan khalifah Umar bin Khatab RA jangankan manusia,  syetan saja terpirit-pirit berlari karena ketakutan.  Keimanan, keberanian,  dan ketegasan menjadikan manusia yang lainnya segan dan menghormati beliau.

Ketiga.   Dicintai oleh Allah dan RasulNya serta segenap kaum Muslimin.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Ya Allah, muliakanlah Islam dengan salah satu di antara kedua orang yang paling Engkau cintai, yaitu Abu Jahal bin Hisyam atau Umar bin Al-Khaththab.

Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata: “Dan ternyata yang lebih Allah cintai di antara keduanya adalah Umar bin al-Khattab radhiyallahu ‘anhu.”” (HR at-Tirmidzi, Ibnu Hibban, dan Imam Ahmad. Hadits ini dishahihkan oleh Syaikh al-Albani.)

Doa yang diucapkan oleh Rasulullah saw mampu menggerakkan hati umar yang sangat keras,  akan tetapi lunak dengan kebenaran.

Keempat,  dijamin syurga atas keimanannya.

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

دَخَلْتُ الْجَنَّةَ فَإِذَا أَنَا بِقَصْرٍ مِنْ ذَهَبٍ، فَقُلْتُ: لِمَنْ هَذَا الْقَصْرُ؟ قَالُوا: لِشَابٍّ مِنْ قُرَيْشٍ فَظَنَنْتُ أَنِّي أَنَا هُوَ. فَقُلْتُ: وَمَنْ هُوَ؟ فَقَالُوا: عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ

Ketika aku masuk surga, tiba-tiba aku melihat istana dari emas. Maka aku pun bertanya, “Untuk siapa ini?”  Para malaikat pun menjawab, “Untuk seorang pemuda dari suku Quraisy.” Aku pun mengira bahwa itu adalah aku, maka aku bertanya, “Siapa dia?” Para malaikat menjawab, “‘Umar bin Khattab.”” (HR at-Tirmidzi, Ibnu Hibban, dan Ahmad. Hadits ini dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah no. 1423.)

Bagaimana dengan kepemimpinan hari ini? Sepatutnya harus mengevaluasi dan berbenah agar negara ini bangkit dan mengalami kemajuan dalam seluruh aspek kehidupan.  Dan menyadari,  Islam dengan peraturan hidupnya akan melahirkan sosok pemimpin yang amanah dan bertanggung jawab. Jangankan rakyatnya,  hewan saja dilindungi oleh negara.

Baca Juga : Mengupas Kelayakan Jokowi Sebagai Antek

Jika ingin bercermin dan meneladani style leadership Khalifah Umar, tidak ada salahnya. Justru sepatutnya dilakukan.  Namun jika dianggap sama,  maka evaluasi kembali,  dimana letak kesamaannya?.

Sebab akar landasanya berbeda. Sistem saat ini adalah sekuler-kapitalis,  maka otomatis gaya kepemimpinannya akan mengikuti ideologi yang dianut oleh sistem negara.

Sedangkan Khalifah Umar hanya menjadikan sistem khilafah yang sesuai alquran dan assunnah untuk mengatur kenegaraannya, sedikitpun tidak mengambil siatem kufur lainnya. [MO/ar]

Posting Komentar