Illustrasi

Oleh: Ida Teliyana S.Pd

Mediaoposisi.com-Pemberitaan saat ini diramaikan dengan perbincangan utang negara yang luar biasa mencengangkan. Detikfinance melansir, belakangan, catatan utang pemerintah Indonesia sudah menembus angka Rp 4000 Triliun.

Bahkan ada pengamat ekonomi yang menilai bahwa utang pemerintah yang saat ini tembus Rp 4000 Triliun dianggap belum sepenuhnya tercatat secara keseluruhan.

Seperti yang diujarkan Enny Sri Hartati direktur eksekutif Indef (Institute for Development of Economics and Finance) “Total utang atau outstanding Indonesia setidaknya telah mencapai lebih dari Rp 7000 Triliun, terdiri dari total utang pemerintah dan swasta,” Jakarta, Rabu 21/3/2018 (Financedetik.com).

Namun kondisi utang Indonesia yang makin memburuk ini ditanggapi datar oleh Sri Mulyani selaku menteri keuangan.

Sri Mulyani menganggap utang Indonesia masih aman karena rasio utang Indonesia per Februari 2018 29,2 persen dari PDB (Pendapatan Domestik Bruto). 

Sri Mulyani berdalih hal tersebut masih diperbolehkan jika mengacu pada UU No.17 tahun 2003 tentang Keuangan Negara, batas maksimal porsi utang sebesar 60 persen dari PDB.

Nilai utang yang mencapai angka Rp 4000 Triliun bahkan diprediksi lebih dari itu yakni mencapai Rp7000 Triliun tidaklah bisa dianggap sepele.

Tidakkah ingat dengan kejadian krisis ekonomi yang menerpa Indonesia di tahun 1997-1998. Tentu rakyatlah yang menjadi korban.

Pemerintah dengan mudahnya mengambil kebijakkan menambah utang dengan alasan defisit anggaran.

Dan yang menanggung berat kehidupan kembali kepada rakyat karena dengan rajinnya pemerintah berhutang juga akhirnya pemerintah rajin memotong subsidi yang merupakan hak rakyat dan rajin menambah hal yang dipajak

.Imbasnya rakyatlah yang kembali menderita menghadapi biaya hidup yang semakin mahal.

Bagi pemerintah beserta jajarannya, utang ini memang tidak mempersulit kehidupan mereka karena mereka punya kekayaan (baca: gaji dari rakyat) yang mencukupi kebutuhan mereka. Sedang rakyat bagaimana nasibnya?

Tatkala pengamat ekonomi maupun masyarakat menyoroti utang negara ini jangan dipandang ingin memperkeruh situasi yang ada.

Justru ini merupakan rasa kepeduliaan agar Indonesia tidak jatuh ke dalam keterpurukan seperti negara-negara yang dilanda kebangkrutan karena dililit utang.

Apalagi jeratan utang luar negeri ini sebenarnya memiliki bahaya yang luar biasa dibaliknya.

Dimana dengan utang tersebut negara yang menghutangi dapat mengintervensi kebijakkan di dalam negeri penghutang.

Begitu mudah terjadi privatisasi dan swastanisasi, kepemilikan pun berpindah menjadi kepemilikan asing dan aseng, bahkan kekayaan alam yang dimiliki Indonesia pun sudah banyak yang dikuasai oleh pihak asing.

Kondisi Indonesia akan terus berkubang dengan utang selama mengikuti aturan main sistem kapitalisme. Pembiayaan negara hanya ditopang dari pajak dan utang.

Sehingga Negara yang punya modal kuat akan mampu menyetir negara lain yang lemah ekoniminya, seperti Indonesia.

Sebenarnya mewujudkan negara yang sejahtera dan rakyat hidup makmur sentosa bukanlah mimpi karena hal tersebut pernah terjadi pada masa kejayaan Islam yang menerapkan sistem Islam yang membawa rahmatan lil ‘Alamin.

Diantaranya pada masa kekhilafahan Harun Ar-Rasyid, dimana pada masa itu sampai tidak ditemukan mustahiq zakat (orang yang menerima zakat), menjadi indikator bahwa pada masa itu semua rakyat hidup makmur berkecukupan.

Indonesia yang kaya akan sumber daya alamnya sebenarnya mampu membuat rakyatnya sejahtera. Aturan kapitalisme lah yang selama ini jelas-jelas telah menyengsarakan rakyat.

Sehingga yang menikmati kekayaan alam Indonesia hanya para pemilik modal. Seharusnya kekayaan alam yang dimiliki Indonesia dikelola sungguh-sungguh oleh negara karena itu memang kewajiban negara

Sehingga tidak ada lagi privatisasi dan swastanisasi kekayaan alam yang hanya menguntungkan segelintir orang maupun pihak asing.

Juga menghilangkan riba dalam segala praktek ekonomi karena riba inilah biang keburukan dalam perekonomian.

Itulah yang diarahkan oleh Islam dalam menata perekonomian. Ketika aturan Islam yang diambil sebagai aturan kehidupan niscaya akan mampu menyelesaikan segala permasalahan manusia dan pastinya menghadirkan berkah dari langit dan bumi.[MO]

Posting Komentar