Oleh: Riva Ummu Layyin, S.Pd

Mediaoposisi.com- Pengelola Cinderella Escorst di Jerman mengatakan ada ratusan wanita Indonesia mengajukan lamaran untuk menjual keperawanan dengan harga tinggi. Yang mengejutkan, jumlah perawan dari Indonesia yang mengajukan dirinya ada sekitar 350 orang. Calon pembelinya berasal dari seluruh dunia, dan banyak juga dari Indonesia.

Wanita Indonesia yang mayoritas muslim, ternyata turut terjebak dalam prostitusi internasional.
Menjual diri hingga ke luar negeri. Kehormatan diri sudah tidak dimiliki. Mengapa ini terjadi?
Kehidupan kapitalis serba materi. 

Seakan bahagia, hanya jika mampu meraih materi-materi duniawi. Mobil mewah, rumah megah dan emas berlian adalah lambang kebahagiaannya. Hidup hanya untuk foya-foya, menikmati dunia.

Bahagia semu inilah yang dikejar wanita dengan menghalalkan segala cara. Tidak peduli norma
dan agama. Gemerlap dunia telah membutakannya. Akhirnya prostitusi menjadi pilihan. Apalagi
taraf internasional, tentu tarifnya juga kelas dunia.

Cara pintas untuk meraih materi dunia. Miris.Disisi lain, beban hidup wanita dalam cengkraman kapitalis saat ini tidaklah ringan. Berbagai
kebutuhan hidup harus dipenuhinya sendiri. 

Sandang, pangan, papan bahkan kesehatan,pendidikan dan keamanan harus dipenuhi dengan mandiri. Dalam kapitalis tidak ada pengaturan terkait nafkah untuk wanita. Setiap individu, laki-laki maupun perempuan ditutut bekerja.

Hingga semua kebutuhan mampu mandiri dipenuhinya. Sementara itu lapangan kerja yang
sempit, menjebak wanita dalam lembah hina prostitusi.

Sungguh sistem kapitalis telah melahirkan wanita-wanita hina yang tidak paham makna bahagia
hakiki. Juga wanita-wanita lemah ekonomi yang terbiarkan tanpa solusi. Sistem ini gagal
mendidik wanita menuju mulia. Juga gagal mensejahterakannya.

Saatnya mencampakkan kapitalisme, menggantinya dengan sistem kehidupan Islam. Islam
sangat memuliakan wanita, bak mahkota yang senantiasa dijaga.

Islam mengajarkan bahwa bahagia tidak semata dunia. Bahagia yang harus diraih adalah dunia
dan akhirat. Hanya dengan satu cara yaitu taat pada seluruh aturan Islam. Maka dunia didapat,
akhiratpun demikian. Indahnya surga akan ditancapkan dalam-dalam. 

Sehingga kerinduan membuncah. Mendorongnya untuk selalu berbuat taat. Demikian pula gambaran dasyatnya siksa neraka, sehingga mampu mencegahnya berbuat nista.

Islam juga memiliki aturan yang sangat komprehensif yang mampu menjadikan kesejahteraan
menjadi nyata. Wanita senantiasa dinafkahi. Tidak dipaksa bekerja. Walinya adalah penanggung
nafkahnya. Jika wali penanggung nafkah tidak ada atau tidak mampu, maka negara akan ambil
peran.

Sebagaimana diceritakan dalam sejarah kholifah Umar bin Khatab. Saat beliau menemukan
rakyatnya, wanita dan dua anaknya yang kelaparan, beliau dengan penuh rasa bersalah segera
mengambil bahan pangan untuk diberikan. 

Bahkan beliau memasaknya dan menghidangkannya sendiri. Sungguh fakta sejarah yang indah. Seorang penguasa yang sangat berkhikmat pada hidup
rakyatnya.

Peraturan yang rinci terkait ekonomi menjadikan hidup sejahtera tidak hanya ilusi. Sistem Islam
meniscayakan setiap laki-laki dewasa bekerja, karena ini adalah kewajiban yang harus ditunaikan.
Wajib baginya memenuhi sandang, pangan dan papan untuk keluarganya. Negara wajib
membuka lapangan kerja seluas-luasnya.

Sementara untuk kebutuhan pendidikan, kesehatan dan keamanan adalah tanggung jawab negara.
Negara wajib menyediakannya untuk semua rakyatnya secara cuma-cuma. Pembiayaannya
bukan dari pajak yang membebani rakyat. Tetapi dari hasil sumber daya alam yang dikelola
secara benar.

Inilah sistem kehidupan ilahiyah, yang memuliakan dan mensejahterakan setiap manusia. Solusi
tuntas semua problema yang saat ini mendera.[MO]

Posting Komentar