Oleh : Syifa Nurjanah

Mediaoposisi.com-Beberapa waktu lalu Donald Trump menyatakan  akan menaikkan bea impor untuk China, dari awalnya hanya memberlakukan kenaikan tersebut untuk besi dan alumunium saja, kini Trump juga memberlakukan untuk 1.300 jenis produk lainnya.


Hal ini imbas dari setelah diberlakukannya kenaikan bea impor untuk 106 jenis produk yang akan masuk ke China. Perang perdagangan ini sedang terjadi dan sangat kompetitif padahal kedua kubu akan sangat dirugikan dengan keputusannya masing-masing. 

Sekalipun Trump mengelak ini perang perdagangan, tapi mata masyarakat tidak tertutup untuk menyatakan bahwa hal ini adalah perang perdagangan.

China akan mendapati harga produk yang mahal dari AS, pun sebaliknya. Dengan harga yang mahal tersebut bukan tidak mungkin pasar dari masing-masing negara akan hilang dan Indonesia akan menjadi salah satu bidikan pasar mereka.

Perilaku sebagian masyarakat Indonesia yang sudah mulai konsumtif akan menjadi keuntungan bagi mereka. Karena masyarakat Indonesia cenderung akan memenuhi kebutuhannya, primer maupun sekunder. Ironisnya, masyarakat Indonesia tidak menyadari bahwa mereka sedang dijadikan target pasar oleh China & AS. 

China & AS akan untung besar jika produk yang mereka pasarkan laris dan bukan hal yang mustahil pengusaha lokal Indonesia akan kalah oleh produk yang dipasarkan AS dan China.

Masyarakat harus mulai menyadari, bahwa dari segi ekonomipun Indonesia sedang dijajah oleh kedua negara tersebut. Selain dari perdagangan, secara ekonomi AS telah menjajah Indonesia melalui utang yang terus digelontorkan hingga Indonesia saat ini sudah memiliki hutang lebih dari 7 Triliun.

Sementara China selain menjerat Indonesia dengan utang, merekapun gencar dengan perdagangan dan penyaluran tenaga kerjanya ke Indonesia.

Kekayaan alam yang dimiliki Indonesia tidak diragukan lagi. Hal tersebut menjadi pemikat bagi kedua negara. Keduanya berusaha untuk memilki pengaruh di negeri ini untuk mengekploitasi segala sumber daya yang ada.

Penerapan sistem kapitalisme di Indonesia sangat memudahkan kedua negara tersebut untuk ikut campur dalam perekonomian Indonesia, sampai-sampai rakyat Indonesia kesulitan dalam mengecap manisnya hasil sumberdaya yang mereka miliki. 

Berbeda dengan sistem Islam yang mampu mengelola apa yang dimilki umat. Hal ini ditegaskan Rasulullah melalui hadist :

 “ Kaum Muslim berserikat dalam tiga hal yaitu padang rumput, api dan air” (HR. Abu Dawud dan Ahmad).

Disini Islam menuntut negara untuk mengelola keyaan alam secara mandiri, tidak bergabung dan tidak terikat dengan asing sehingga keuntungannya dapat dinikmati oleh seluruh rakyat. 

Sistem ekenomi Islam yang begitu apik, mengatur tentang jual beli, impor dan ekspor tentu berdasarkan syariat Allah. 

Ketika bekerjasama dengan pihak negara luar, maka Islam akan menilik, apakah negara tersebut memusuhi Islam atau tidak, jika memusuhi maka secara mutlak kerjasama dengan negara tersebut dilarang.

Kekuatan ekonomi suatu negara, bisa dilihat dari kemandiriannya dalam mengelola dan mengatasi berbagai permasalahan ekonomi yang ada. Hal ini hanya dapat dilakukan di dalam wadah negara Islam yaitu Khilafah, yaitu dengan cara sebagai berikut:

Sumber daya alam milik umum hanya boleh dikelola oleh negara, tidak boleh diserahkan kepada swasta dan asing.
Menghentikan utang luar negeri, baik dari negara lain, lembaga ekonomi internasional dan yang lainnya.
Menghentikan investasi asing yang berseberangan dengan syariah.
Menghentikan keanggotaan dengan persatuan-persatuan ekonomi kapitalis.
Membangun ketahanan pangan, yaitu dengan mengelola kebutuhan primer sendiri.

Dengan itulah, maka kemandirian secara ekonomi insyaAllah akan terwujud.[MO/sr]


Posting Komentar