Oleh Ventin Yurista 
(Pegiat Komunitas Revowriter)


Mediaoposisi.com- “Republik Indonesia sudah dinyatakan tidak ada lagi tahun 2030.” Begitulah pernyataan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto saat menyampaikan pidato di Universitas Indonesia. Pidato tersebut juga diunggah akun resmi Facebook Partai Gerindra.

Publik pun geger. Banyak yang merasa khawatir, namun tak sedikit pula yang menyebut prediksi itu tak berdasar.

Prabowo mengakui bahwa ia mengutip sebuah novel fiksi ilmiah berjudul Ghost Fleet: a Novel of the Next World War karya Peter W. Singer dan August Cole. Novel ini mengulas skenario Perang Dunia III, terutama perang antara China dan Amerika Serikat. Indonesia diceritakan mengalami kolaps dan bubar setelah kalah dalam Perang Timor kedua.

Bisa jadi, itu hanya novel fiksi. Namun, negara bubar bukanlah sekadar imajinasi. Sejarah mencatat, sebuah negara memang bisa bubar, terpecah menjadi beberapa negara kecil, hingga lenyap ditelan zaman.

Uni Soviet, misalnya. Negara bersistem sosialisme-komunisme ini berdiri pada tahun 1922, tetapi dibubarkan pada 1991. Uni Soviet pun terpecah menjadi Rusia, Belarusia, Ukraina, Estonia, dan negara-negara kecil lainnya.

Perang, sikap represif pemerintah, kekacauan politik, dan kemerosotan ekonomi menjadi penyebab bubarnya Uni Soviet. Ratusan juta nyawa melayang akibat penerapan sistem yang bengis ini. Sosialisme-komunisme terbukti tak mampu mewujudkan negara yang sejahtera.

Hal yang sama terjadi pada sistem sekulerisme-kapitalisme yang mendominasi dunia saat ini. Pelan tapi pasti, sekulerisme-kapitalisme menunjukkan tanda-tanda kehancurannya. Amerika Serikat sebagai negara pengemban utama ideologi ini telah digerogoti berbagai problematika pelik.
Frederick F. Clairmont dalam USA : The Crumbling of Empire menyebut AS telah kehilangan 16 trilyun dollar  dari tahun 2007-2010.

Tingkat pengangguran mencapai 17% dan setiap bulan 650 ribu warga AS kehilangan pekerjaan. Ekonomi kapitalisme telah menimbulkan kesenjangan sosial dan rentan krisis. Ahli ekonomi Inggris, Shabbir Razvi menyebut kapitalisme adalah biang dari berbagai krisis ekonomi global.

Sistem politik demokrasi yang diagung-agungkan AS pun tak bisa menjadi solusi. Demokrasi justru menjadi alat pemilik modal untuk melengangkan kekuasaan ekonominya melalui undang-undang. Jargon dari rakyat, oleh rakyat, untuk rakyat, hanya harapan palsu.

Presiden AS Rutherford B. Hayes pada 1876 mengatakan bahwa kondisi AS adalah from company, by company, and for company.

Secara moral, gaya hidup sekuler dan liberal telah merusak generasi AS. Mereka terjebak dalam seks bebas dan narkoba. Diperkirakan 1,1 juta orang di AS terkena HIV/AIDS. Kasus kekerasan pun makin menggila. Tercatat telah terjadi 13380 insiden penembakan sejak awal tahun 2018, termasuk penembakan massal di sekolah yang menewaskan ratusan remaja.

Kapitalisme akan segera berakhir. Negara-negara penganut sistem ini juga akan bubar sebagaimana Uni Soviet. Indonesia, diakui atau tidak, telah terjerumus dalam sistem ini. Berbagai undang-undang yang pro asing dan memisahkan agama dari kehidupan adalah bukti nyata.

Utang negara yang makin membengkak, sumber daya alam yang nyaris habis dikuras pihak asing, dan kerusakan moral adalah akibat riilnya.

Masalah utama adalah penerapan sistem sekuler-kapitalis di negeri ini. Maka tak cukup hanya dengan mengganti pemimpin saat ini. Jika tak ingin terseret dalam pusaran kehancuran sekuler-kapitalis, satu-satunya cara adalah dengan mengganti sistem ini. Selama sekuler-kapitalis masih bercokol di dalam negeri, ancaman bubar akan terus menghantui.

Dan harapan dunia saat ini hanyalah pada Islam. Sistem Islam terbukti mampu menyatukan dua pertiga dunia, menyejahterakan baik muslim maupun non muslim.
 
Islam mewujudkan peradaban gemilang selama 14 abad lamanya, menjadi pionir dalam segala bidang kehidupan. Sebuah pencapaian yang tak pernah bisa diraih sistem lainnya.[MO]

Posting Komentar