ilustrasi

Oleh: Rizki Ika Sahana
(Blogger dan Member Akademi Menulis Kreatif)

Mediaoposisi.com- Jagad perpolitikan negeri ini terhenyak, panggungnya pun tersentak. Bagaimana tidak, Ketua Umum Partai Gerindra, Prabowo Subianto, menyatakan bahwa Indonesia akan bubar di tahun 2030. Pernyataan itu disampaikan oleh Prabowo dalam video yang dimuat akun Facebook resmi Partai Gerindra pada Senin (19/3/2018).

"Saudara-saudara! Kita masih upacara, kita masih menyanyikan lagu kebangsaan, kita masih pakai lambang-lambang negara, gambar-gambar pendiri bangsa masih ada di sini, tetapi di negara lain mereka sudah bikin kajian-kajian, di mana Republik Indonesia sudah dinyatakan tidak ada lagi tahun 2030."

Prabowo Subianto menegaskan, pernyataannya soal Indonesia tidak ada lagi tahun 2030 didasarkan pada scenario writing pihak asing.

"Jadi di luar negeri itu ada scenario writing, yang nulis itu ahli-ahli intelijen strategis. Dibuka dong, baca dong," ujar Prabowo di Hotel Millenium, Jakarta, Kamis (22/3/2018).

Menurut Prabowo, skenario tersebut adalah peringatan bagi Pemerintah Indonesia untuk tidak menganggap enteng berbagai persoalan, seperti kemiskinan, kesenjangan ekonomi, penguasaan sumber daya, hingga persoalan lingkungan. Lebih lanjut ia mengatakan, banyak pihak asing yang hingga kini berusaha mengganggu kedaulatan Indonesia.

Meski Prabowo tidak menyebutkan, banyak pihak menduga scenario writing yang dimaksud adalah 'Ghost Fleet: A Novel of the Next World War' yang ditulis oleh PW Singer dan August Cole yang diterbitkan pada 2015. Novel tersebut pernah dibahas oleh Prabowo saat menghadiri peresmian dan bedah buku 'Nasionalisme Sosialisme dan Pragmatisme Pemikiran Ekonomi Politik Soemitro Djojohadikusumo' pada 18 September 2017.

Di tengah sambutannya, Prabowo menunjukkan novel yang berjudul 'Ghost Fleet'. Prabowo lalu mengungkap isi novel tersebut, salah satunya ramalan soal Indonesia pada 2030.

Novel 'Ghost Fleet' yang ditulis oleh dua ahli strategi dan kebijakan pertahanan AS ini menceritakan skenario perang dunia berikutnya, yaitu Amerika Serikat melawan China dan Rusia yang bersekutu. Diceritakan bagaimana perang dingin berubah jadi panas dengan pertempuran militer hingga persaingan di luar angkasa juga secara siber. Menariknya, dalam novel 'Ghost Fleet' Indonesia hanya disebut sebagai 'bekas Republik Indonesia' atau wilayah 'yang sebelumnya merupakan Indonesia'.

Kontan pernyataan Prabowo menuai kontroversi. Berbagai kalangan pun angkat bicara. Bahkan istana dan Presiden juga ikut memberikan komentar.

Ketua Umum Partai Hanura, Oesman Sapta Odang, misalnya, menampik pernyataan Prabowo. Menurut Oesman, Indonesia tak akan pernah bubar sampai kapan pun. "Enggak. Mana mungkin Indonesia bisa bubar. Sampai kiamat Indonesia enggak bubar," kata Oesman di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (21/3/2018).

Sementara itu, Idrus Marham (Ketua Koordinator Bidang Kelembagaan DPP Partai Golkar) menyatakan bahwa seorang pemimpin, semestinya mengedepankan sikap optimis, menjadi motivator dan bukan sebaliknya. "Pemimpin itu harus (jadi) inspirator, bukan pesimis dan membuat rakyat jadi loyo. Itu bukan pemimpin," kata Idrus.

Idrus pribadi meyakini, pada tahun 2030 mendatang, Indonesia akan menjadi negara yang jauh lebih maju dibanding saat ini. "Kita akan pastikan bahwa Indonesia tahun 2030 justru akan menjadi Indonesia yang lebih maju, bukan yang bubar, ini komitmen," kata Menteri Sosial RI tersebut.

Setali tiga uang dengan Idrus, Presiden Jokowi pun menyatakan bahwa memandang ke depan itu harus memandang dengan rasa optimisme. “Kita memandang ke depan itu harus juga memberikan sebuah harapan yang lebih baik kepada anak-anak muda kita, kepada rakyat kita," Ia mengakui, sebagai bangsa, Indonesia pasti akan menghadapi sejumlah tantangan serta hambatan. Namun, sebagai bangsa yang besar, Indonesia harus tetap kuat menghadapi tantangan yang ada.

Staf Khusus Presiden Bidang Komunikasi Johan Budi mempertanyakan dasar Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto menyebut Indonesia terancam bubar pada 2030. "Kalau Pak Prabowo menyatakan 2030 Indonesia bubar itu dasarnya apa? Itu perlu ditanya juga, kan, harus ada kajian ilmiah, analisis," kata Johan Budi di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (21/3/2018). Yang pasti, lanjut Johan, pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla saat ini justru ingin menjadikan Indonesia negara maju. Bahkan, pemerintah mencanangkan program Indonesia Emas pada 2045.

Sementara itu, Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Fadli Zon menilai pernyataan Prabowo Subianto soal adanya kajian dari pihak asing yang menyatakan Indonesia tidak akan ada lagi pada 2030 merupakan peringatan bagi pemerintah untuk memperbaiki diri. "Itu namanya warning. Kami ingin Indonesia lebih dari 1.000 tahun, kalau perlu sampai kiamat.

Tetapi kalau cara memimpin Indonesia seperti sekarang ya bisa kacau," ujar Fadli Zon di Gedung DPP Partai Gerindra, Selasa (20/3/2018). Menurut Fadli, pernyataan Prabowo merupakan peringatan bagi pemerintah agar tidak salah jalan. Hal itu demi menjaga eksistensi Indonesia ke depannya. "Menurut saya kita sekarang ini sudah banyak salah jalan, masuk ke jurang, masuk ke jerat utang dan lain lain," ujar Fadli.

Sedangkan Panglima TNI, Jenderal Gatot Nurmantyo, dalam sebuah wawancara dengan CNN menyampaikan bahwa apa yang dikatakan Prabowo sangat mungkin terjadi. "Terkait dengan apa yang disampaikan Pak Prabowo, bangsa ini akan bubar pada tahun 2030, itu sangat mungkin terjadi, apa yang tidak mungkin?" ucapnya.

Pertanyaannya, akankah Indonesia bubar, atau sebaliknya, Indonesia terus eksis bahkan semakin kuat? Jawaban pertanyaan tersebut akan tepat jika mengacu kepada kondisi dan situasi Indonesia hari ini.

Hari ini Indonesia jelas berada di bawah cengkeraman asing. Bank Indonesia (BI) mencatat Utang Luar Negeri Indonesia pada akhir Januari 2018 meningkat 10,3 persen menjadi 357,5 miliar dollar AS atau sekitar Rp 4.915 triliun (kurs Rp 13.750 per dollar AS). Dengan jumlah hutang yang demikian besar tersebut, Indonesia sesungguhnya nyaris tidak berdaya terhadap berbagai intervensi asing. Kenapa? Karena hutang menjadi jalan tol bagi tergadainya kedaulatan negara.

Hutang yang diberikan oleh negara-negara kreditur juga oleh lembaga internasional faktanya tidaklah gratis. IMF misalnya, menyediakan dana taktis untuk disalurkan kepada negara-negara yang sedang mengalami krisis neraca pembayaran dengan syarat-syarat tertentu, diantaranya adalah mendorong privatisasi dan liberalisasi perdagangan.

Sementara itu, konstelasi politik global hari ini telah nyata menunjukkan perseteruan antara AS dengan Cina. Hal tersebut tampak kasat mata di negeri ini. AS dan Cina sama-sama bersikeras memperkuat pengaruhnya atas Indonesia dari sisi politik maupun ekonomi. Isu kebangkitan komunisme beberapa waktu yang lalu adalah bukti nyata tak terbantahkan perseteruan AS-Cina.

AS sebagai negara kapitalis adidaya yang telah lebih dulu menghegemoni Indonesia tidak tinggal diam terhadap berbagai upaya Cina memperluas pasar dan memperkuat pengaruhnya. Akhirnya ditiuplah isu kebangkitan komunisme sebagai senjata mematikan AS menghalangi upaya Cina.

Indonesia dengan SDM yang besar sekaligus SDA yang melimpah sesungguhnya mampu menjadi negara kuat dan berpengaruh. Sayangnya Indonesia gagal mengelola SDM dan SDA tersebut, justru terjerat hutang menggunung hingga harus mengikuti berbagai kesepakatan yang jelas merugikan kepentingan nasional.

Jika Indonesia tidak berupaya sungguh-sungguh keluar dari cengkeraman asing dan aseng, maka ‘ramalan’ Indonesia bubar bukan lagi isapan jempol. Karena faktanya, banyak negara-negara di dunia yang bubar dan namanya hilang, seperti Yugoslavia dan Tibet. Bahkan Uni Soviet yang adidaya sekalipun terhapus dari peta dunia.

Karenanya, upaya penyadaran umat terhadap potensi besar bangsa ini sekaligus terhadap sistem politik yang kokoh yang menjadi satu-satunya sistem kehidupan yang layak diadopsi dan diemban (yakni Islam) harus terus digalakkan.

Sungguh, untuk keluar dari problem multidimensi dan persoalan kedaulatan negeri ini, tidak ada alternatif solusi lain, kecuali dengan menegakkan Islam kaffah. Sosialisme-komunisme telah runtuh sementara kapitalisme telah menampakkan tanda-tanda kehancurannya. Sedangkan kebangkitan Islam, justru semakin terang benderang isyaratnya, sebagaimana bisyarah Nabi, bahwa nanti akan tegak khilafah, negara super power dunia, yang tentu akan menebarkan rahmat ke seluruh semesta, termasuk menyelamatkan Indonesia tercinta. Wallahu a’lam.[MO/vp]

Posting Komentar