Oleh : Rengganis Santika A. S.TP. 

Mediaoposisi.com- Sekarang rakyat indonesia sudah semakin kritis meskipun kian hari disuguhkan aneka krisis.  Diantara rakyat (termasuk saya yang ibu rumah tangga) ada yang mempertanyakan, "Kenapa penyelenggaraan pertemuan IMF-World Bank kali ini, di Indonesia??" dan "kenapa harus Indonesia yang membiayai pertemuan tersebut?" sebab logikanya, yang punya hajat, mestilah yang membiayai pesta.

Sungguh Ironis disaat indonesia menurut standar dari world bank sendiri, mengalami peningkatan angka kemiskinan. Demikian pula realitas kemiskinan dan kesulitan hidup kian  jelas di seantero negeri. Tapi justru pemerintah indonesia rela (malah dengan bangga) mengeluarkan anggaran  800 milyar untuk biaya pertemuan tersebut!! Semua biaya berasal dari APBN... artinya itu uang milik rakyat. !!

Maka, karena itu uang milik rakyat. Atas nama rakyat Indonesia, wajar bila bertanya, apa alasan pemerintah "berbaik hati" pada IMF dan world bank?  Mengingat rekam jejak mereka di negeri ini.  Janji pemulihan ekonomi liberal ala IMF di Indonesia terbukti GAGAL! Dan saat itu Indonesia semakin dalam masuk "Debt Trap" (perangkap hutang).

Demikian pula tekanan dan dikte berbasis kapitalistik demokrasinya world bank pada proyek-proyek pengentasan kemiskinan. "Milenium Development Goals"  nya world Bank, terbukti hanya menambah hutang negara dan kemiskinan pun tetap adanya.

Mari kita berpikir jernih, menggunakan logika sehat. Apa keuntungan bagi rakyat dan negeri ini? Dengan menjadikan Indonesia sebagai tempat pertemuan IMF-world bank. Betulkah alasan pemerintah, melalui mentrinya Luhut Binsar Panjaitan (LBP), yang mengatakan bahwa Indonesia akan menjadi terkenal, disorot dunia selama seminggu acara, meningkatkan sektor pariwisata yang lesu di Bali pada bulan oktober.

Bagi si kapitalis dibuat nyaman sambil berwisata di Bali, sementara rakyat menanggung beban pencabutan berbagai subsidi atas nasehat IMF. Rakyat juga dibebani pajak demi menggenjot APBN...itupun harus disisihkan demi si kapitalis.

Masih menurut LBP, anggaran 800 milyar itu sangat hemat! Dibanding "cost return" yang akan diterima Indonesia dari kedatangan 15.000 peserta selama seminggu di Bali. Dan indonesia dijanjikan "kucuran dana segar" alias pinjaman baru sebesar 1,5 triyun US dollar. Ternyata memang ada udang dibalik batu. Semua argumen pemerintah ini, tak lebih cuma jawaban dangkal, bagi yang tak memahami substansi.

IMF dan World bank adalah alat kapitalisme. Dan hakekat kapitalisme adalah berkuasa nya pemodal. Dengan serakahnya kapitalisme mencengkram semua sumber-sumber aset yang ingin dia kuasai. Metode alami kapitalisme sejak dulu adalah imperialisme (menjajah).

Dunia tengah mempertontonkan jejak kapitalisme dari sejak imperialisme kuno di sekitar abad  ke 15 dulu hingga kini, yang kita sebut dengan neoimperialisme. Ya...penjajahan baru itu adalah penjajahan ekonomi.

Mereka merekayasa krisis menciptakan negara-negara penghutang yang tergantung hidupnya dan mau didikte si tuan kapital. Betapa kuatnya negeri ini dicengkram dan dijajah kapitalisme. Negara jajahan tak boleh lepas...diikat dengan hutang-hutang yang kian menggila, hingga tak mampu lagi membayar kecuali menyerahkan seluruh aset negeri yang sejatinya milik rakyat.[MO]

Posting Komentar