Revolusi| Mediaoposisi.com- Jelang tahun politik 2019, suasana makin menghangat. Muncul semacam ajakan untuk mengganti pemimpin negeri ini. Bagi sebagian orang ini adalah harapan namun sebagian yang lain menudong ini sebagai ancaman. Dari kedua hal itu saya justru memandang ini tak lebih dari  kepentingan. Kepentingan para petarung dalam pesta demokrasi nanti.

Hal yang wajar jika setiap orang menginginkan perubahan ke arah yang lebih baik. Termasuk mau dibawa kemana sebenarnya arah negeri ini. Bagi yang tetap ingin  mempertahankan tak perlu pembahasan panjang lebar.

Karena bagi mereka ini adalah kondisi terbaik.Namun alangkah lebih bijaksana jika kita memandang lebih dalam apa sesungguhnya yang sedang terjadi dengan negeri ini.

Pertama, kondisi pemimpin bangsa
Beredar dan menjadi viral  tentang pemimpin sebuah negara bukanlah hal yang instimewa. Karena seorang pemimpin pastilan populer.. Namun apa jadinya jika yang menjadi viral adalah video tentang ‘kelucuan’serta kebingungan seorang kepala negara saat berkomunikasi  dihadapan  publik.

adalah yang tidak pantas  jika menjatuhkan wibawa.  Namun inilah risiko wajah demokrasi, kebebasan di atas segalanya. Sekalipun seorang kepala negara jika dipandang tak berwibawa akan menjadi bulan bulanan media.

Sebagai contoh, adalah saat presiden jokowi ditanyai pendapatnya tenyang film Dilan, atau saat ditanya tentang kasus penyiraman air keras pada Novel Baswedan.

Publik dibuat tercengang dengan jawaaban yang terlontar dari seorang kepala negara, maaf kalau saya katakan jawaban tak berbobot, berbelit belit dan sepeti tidak tahu harus menjawab apa.. Ini menggambarkan  ada yang masalah dalam hal berkomunikasi. Dan inilah kondisi pemimpin bangsa yang harus kita terima.


Baca Juga : Ilusi Janji Jokowi


Kedua, Kebijakan penguasa

Hampir setiap hari kita disuguhkan dengan berbagai kejutan kebijakan penguasa, mulai dari kenaikan harga BBM yang tiba tiba, membuka lapangan pekerjaan bagi TKA, memberikan kemudahan bagi investor asing, terbaru mendatangkan dosen dari luar negeri. Dan masih banyak lagi kebijakan yang sesunguhnya lebih banyak menguntungkan pihak asing dan penguasaha dibanding kepada rakyatnya

Dari dua kondisi di atas.Inilah sesunguhnya  yang tetjadi pada negeri ini.  kondisi yang   memunculkan sebuah persepsi di kalangan masyarakat bahwa pemimpin kita tidak berintegritas, kemampuan terbatas, serta memiliki kepercayaan diri yang hampir  kandas terutama dimata asing. Maka wajar ada sekelompok orang yang ingin berganti pemimpin.

Artinya hilanngnya wibawa, integritas, harga diri atau marwah menyebabkan sebuah bangsa berada di ambang kehancuran. Karena rakyat membutuhkan kejelasan dan ketenangan dalam menjadi kehidupan. Itulah mengapa, tugas dan tanggungjawab pemimpin sangatlah berat dan tidak main main. Dan jika itu tak didapatkan lagi lagi, wajar jika muncul tagar 2019 ganti presiden.

Hilangnya marwah bukan tanpa sebab, banyak hal yang menjadi faktornya. Tidak hanya bagi pemimpin namun bagi kita semua. Namun, Jika pemimpin yang kehilangan marwah akibatnya ditanggung oleh seluruh rakyat, bukan main beratnya. Saatnya bercermin masih adakah marwah itu wahai pemimpin negeri ini?

Baca Juga : Perpres TKA Anti Rakyat

Diriwayatkan dari Abu Hurairah RA bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah SWT bila mencintai hamba-Nya memanggil Jibril seraya berfirman, ‘Sesungguhnya Aku mencintai si fulan, maka cintailah dia.’

 Rasulullah bersabda, “Maka, Jibril pun mencintai si fulan.” Lalu, Jibril menyeru semua penduduk langit, “Sesungguhnya Allah mencintai si fulan.” Nabi bersabda, “Maka, si fulan dicintai penduduk langit dan dia pun diterima oleh penduduk bumi.”

Jika Allah membenci seorang hamba, Dia memanggil Jibril dan berfirman, “Sesungguhnya Aku membenci si fulan, maka bencilah dia sehingga Jibril pun membencinya.

” Rasulullah bersabda, “Lalu, Jibril menyeru penduduk langit, ‘Sesungguhnya Allah membenci si fulan, maka bencilah dia.’” Penduduk langit pun membenci si fulan, kemudian dia pun dibenci penduduk bumi. (HR Bukhari dan Muslim)


Orang yang sengsara adalah yang dihinakan Allah sehingga penduduk bumi pun akan membicarakan orang tersebut dengan kejelekan dan cercaan. “Dan barang siapa yang dihinakan Allah, maka tidak seorang pun yang memuliakannya. Sesungguhnya Allah berbuat apa yang Dia kehendaki.” (QS al-Hajj 18).

Maka, tak mudah mengembalikan marwah jika tindak tanduk kita masihlah bermasalah, mengutip tulisan Prof Dr Achmad Satori Ismail di laman REPUBLIKA.CO.ID (27/3/2012) ada 6 orang yang akan dihinakan Allah :

Pelaku kemaksiatan(QS Ghofir 82).
Orang yang menentang ajaran Islam (QS az-Zumar 55)
Menolak kebenaran karena kesombongan (QS Shad 12-15, al-Haqqah 4-8).
Sombong di hadapan makhluk (QS al-Qashash 83).
Orang  zalim (QS al-A’raf 165-166 , Yunus 13-14).
Penghamba harta dan kedudukan (QS al-An’am 44).

Lihatlah dan renungkan, jika hari ini pemimpin kita masih memiliki enam sifat di atas baik dalam berprilaku ataupun dalam mengambil kebijakan, maka kewibawaan (marwah) memang tak akan pernah didapatkan.

Cara terbaik menjadi pemimpin yang berwibawa adalah dengan kembali kepada ajaran Al Quran dan sunnah bukan yang lain.Menjalankan kepemimpinan dengan Landasan AlQuran dan Sunnah. Maka tak perlu diminta Akan Allah pancarkan kewibawaan dalam diri setiap pemimpin.

Tak ada jalan lain untuk  menyelamatkan negeri ini, carilah pemimpin yang amanah seraya menegakkan kalimat Allah (Islam)  dalam kehidupan berbangsa dan bernegara karena rakyat tak hanya butuh personal namun juga sistem yang handal.[MO/za]

Posting Komentar