Oleh : Nur San

Mediaoposisi.com- Suksesnya Manchester City menjuarai EPL sudah diprediksi sejak awal. Skuad yang terbilang mewah dan berkualitas, pelapis yang setara dengan pemain ini, pelatih kelas Wahid dalam diri Josep "Pep" Guardiola.

Adakah alasan penikmat bola untuk tidak menjagokan "The Citizen" menjadi juara selain ia telah menjadi fans klub lain?.

Start menjanjikan di awal musim, konsistensi di pertengahan musim lalu "orgasme" di akhir musim, membuktikan Manchester City memang layak juara !

Tak bisa dipungkiri terjadi kalah, menang, atau seri.. Itulah sepakbola, bola itu bundar bung !

Kritikus bola dan fans layar kaca ,tak sedikit yang mengamini Manchester City akan juara akibat faktor uang saja.. 

"Money can buy everything"

Benarkah demikian?
Tidak salah, tapi tidak tepat.. ada faktor lain yang menjadikan "Pep" Guardiola sukses menjadikan skuad glamor The Citizen menjadi juara

Ya... pada diri Pep sendiri, honorable mention pada skill manajerial eks pemain Barcelona tersebut dalam mengelola asset pemain yang nilainya fantastis. Tidak semua pelatih memilikinya.

Belum lupa dari ingatan kita, terseok seoknya  klub Everton, kontestan EPL lain di awal musik yang telah menghamburkan ratusan juta poundsterling untuk membuat skuad. Korbannya adalah pemecatan Ronald Koeman.

Dari ranah Italia, pemecatan Vincenzo Montella oleh AC Milan setelah di awal musim membeli 11 pemain baru membuktikan bahwa uang bukanlah segalanya.

Ketiadaan skill manajerial asset mewah sebagus "Pep" melahirkan pemecatan pada dua pelatih klub mewah tersebut.

Uang bukanlah jaminan juara.. tapi skill mengelola asset mewah, merupakan kelebihan "Pep". 

Barcelona , Bayern Muenchen hingga Manchester City sukses dijadikan kampiun olehnya.

Indonesia : Penguasa Tanpa Skill
Indonesia, sebagai negeri dengan pecinta bola yang tidak sedikit rasanya masih harus meningkatkan penilaiannya terhadap bola. Bola memang menjadi candu, tapi jarang dijadikan uslub untuk belajar. Terbukti di Indonesia tidak ditemukan penguasa yang memiliki kemampuan manajerial asset mewah seperti “Pep” Guardiola, bola mempunya image buru sebagai judi dan kekerasan.

Baik, saya tidak ingin menyamakan penguasa dan pelatih klub bola. Tapi keinginan untuk belajar dari hal "sepele" yaitu sepak bola, amat sangat dikebiri oleh rakyat dan penguasa.

Asset nan mewah negeri  ini justru diseahkan kepada kapitalis. Lalu masyarakat terpaksa menjadi pekerja rendahan dengan upah semenjana, lalu pemerintah hanya memperoleh secuil pajak dari kemewahan asset Indonesia.

Asset mewah yang sejatinya bisa dikelola, namun diserahkan kepada asing dengan berbagai dalil dan dalih.

Tiadanya keinginan serta keberanian penguasa untuk mengatur asset mewah negeri ini, yaitu emas perak, tambang ,pertanian, serta sdm dengan benar dan diridhoi oleh Allah.

Itu sama saja negeri ini pada kehancuran dan murka-Nya.

"This Is Your Opportunity" ujar penguasa kita. Sejatinya bermakna, selamat datang para kapitalis, silakan perkosa negeri kami !

Asset mewah merupakan modal negeri ini menjadi juara, tapi Jokowi nampaknya tak punya skill manajerial sehebat “Pep” Guardiola.[MO]

Posting Komentar