Oleh: Anisa Rahmi Tania
(Aktivis Muslimah Jakarta Utara)


Mediaoposisi.com- Gaza kembali membara. Bentrokan meletus ketika puluhan ribuan warga Gaza berbaris di dekat perbatasan Israel dalam unjuk rasa besar pada hari Jumat (30/3/2018).

Dilaporkan AFP, Kementerian Kesehatan Palestina mengatakan sedikitnya 16 warga Palestina tewas dan 1.000 lainnya terluka.

Pemerintah Israel menyebut sekitar 10 ribu warga Palestina melakukan aksi jalan ke pagar wilayah perbatasan Gaza–Israel. Aksi tersebut diberi nama Pawai Kepulangan, yang diperkirakan berlangsung hingga 15 Mei 2018 atau saat jatuhnya peringatan Nakba, yakni hari ketika ratusan ribu lebih warga Palestina terusir akibat perang. (Republika.co.id)

Tak habis-habisnya kabar sendu datang dari Gaza. Puluhan tahun warga Palestina terpuruk akibat penindasan Israel. Dunia sendiri seakan tak punya daya untuk menindak aksi brutal Israel.

Jika teroris itu bersembunyi rapat di hutan belantara, dunia seakan tak mau berhenti untuk menumpasnya. Namun, tatkala teroris itu berdasi dan berjas. Persenjataan mereka lengkap dengan pasukan tegap, dunia ciut. Mereka berkilah Israel bukan teroris.

Padahal di tengah peradaban saat ini, di mana HAM digembar-gemborkan, perdamaian dunia nyaring disuarakan PBB, dunia tak punya nyali memberikan tindakan tegas pada Israel.



Selalu saja cara-cara diplomatik dan perjanjian damai yang ditempuh untuk menyelesaikan penjajahaan di atas tanah palestina. Tak peduli berapa nyawa telah gugur. Tak peduli seberapa sadis gempuran yang mereka alami. Atau seberapa hancur kota Gaza saat ini. Dunia cukup memberikan kecaman dan peringatan.

Begitupun dengan para penguasa negeri-negeri kaum muslimin. Mereka mencukupkan diri dengan memberikan kecaman. Sementara pasukan bersenjata mereka tak pernah digerakkan untuk membantu rakyat Palestina dalam melawan Israel.

Mungkinkah kekejaman tentara Israel pada rakyat Palestina telah membuat para penguasa itu enggan berurusan panjang dengan Israel?
Ataukah para penguasa itu sudah tidak begitu peduli dengan nasib yang menimpa warga Palestina?

Kalau benar begitu, lantas dimana pengamalan ajaran Rasulullah saw yang bersabda bahwa umat muslim satu sama lain bersaudara, layaknya satu tubuh. Tatkala satu anggota tubuh terluka maka anggota tubuh lainnya ikut merasakan sakitnya.



Memang beginilah yang terjadi tatkala kaum muslim hidup dalam kungkungan sekularisme. Tak lagi terlalu risau dengan orang lain. Segala tindakan dilakukan untuk mengejar manfaat bukan atas dasar aqidah.

Dunia mendadak tuli dan buta dengan kebrutalan agresor israel karena tak ada kepentingan mereka di sana. Dengan sistem ini pula Israel mendapat pintu masuk yang mudah untuk menduduki tanah palestina dan mengusir dengan kejam warga Palestina.

Rasa-rasanya tidak ada perjuangan yang dilakukan melebihi perjuangan warga Palestina. Sepanjang masa sejarah Palestina, senantiasa dihiasi dengan cerita perjuangan hidup.

Fakta menyatakan bahwa hanya di bawah naungan khilafah islamiyah warga Palestina bisa hidup dengan tentram. Bahkan begitu pula dengan penganut agama lainnya seperti nasrani dan yahudi. Mereka bisa hidup berdampingan dengan aman.

Ingatkah kita pada catatan sejarah penaklukan Al Quds oleh Shalahudin Al Ayubi. Beliau menjadi pahlawan kaum muslimin karena berhasil merebut kembali tanah Palestina dari tangan kaum salibis.

Penaklukan yang berlangsung 3 bulan itu diakhiri dengan kemenangan pasukan Shalahudin. Tanah Palestina kembali ke pangkuan khilafah. Satu hal yang amat luar biasa ditunjukkan Shalahudin dan pasukannya perlihatkan pada dunia. Mereka melakukan penaklukan tanpa pembantaian, tanpa siksaan dan kedzaliman.



Shalahudin menunjukkan tidak ada dendam dalam jihad. Kaum muslimin hanya melaksanakan kewajiban untuk kembali menyelamatkan kaum muslim Palestina dan siapa saja yang tunduk pada kekhilafahan.

Jauh berbeda dengan tindakan kaum salibis tatkala sebelumnya berhasil menguasa Palestina. Tak pandang laki-laki atau perempuan, anak-anak maupun orang tua renta. Mereka habisi, mereka bantai tanpa ada rasa belas kasihan. Sehingga jalan-jalan dipenuhi dengan aliran darah dan jasad manusia. Rumah-rumah dibumihanguskan dan seluruh harta benda dirampas. Na’udzubillah.

Sementara keadilan dan kenegarawanan Shalahudin membuat umat Nasrani yang tinggal di Yerusalem saat itu berdecak kagum. Seorang tua penganut Kristen pun bertanya kepada Salahudin.

''Kenapa tuan tidak bertindak balas terhadap musuh-musuhmu?''

Salahudin menjawab,
''Islam bukanlah agama pendendam bahkan sangat mencegah dari melakukan perkara diluar perikemanusiaan, Islam menyuruh umatnya menepati janji, memaafkan kesalahan orang lain yang meminta maaf dan melupakan kekejaman musuh ketika berkuasa walaupun ketika musuh berkuasa, umat Islam ditindas.''

Mendengar jawaban itu, bergetarlah hati orang tua itu. Ia pun kemudian berkata, ''Sungguh indah agama tuan! Maka di akhir hayatku ini, bagaimana untuk aku memeluk agamamu?''
Shalahudin pun berkata,
''Ucapkanlah dua kalimah syahadah.''

Oleh karena itu, setelah berulang kali warga Palestina  bergejolak, setelah ratusan bahkan ribuan kalinya kesepakatan damai menjadi harapan penyelesaian. Setelah kecaman-kecaman terus digulirkan berbagai pihak. Percayalah itu semua bukan solusi sesungguhnya.

Palestina hanya akan kembali tentram dengan adanya perisai ummat, pemersatu ummat, dan pelindung sejati ummat yakni khilafah ala minhajin nubuwwah. [MO/br]





Posting Komentar