Jokowi

Oleh Fani Ratu Rahmani
(Mahasiswi Universitas Balikpapan)

Mediaoposisi.com- Negeri ini lagi-lagi diterpa dengan isu menarik. Kali ini melibatkan orang nomor satu di negeri ini. Belakangan ini muncul tagar #2019GantiPresiden. Tagar yang viral di media sosial ini menjadi sorotan warganet di suasana tahun politik saat ini.

Sebelumnya diberitakan, PKS mencetuskan gerakan #2019GantiPresiden sebagai bentuk perlawanan atas gerakan dukungan 'Dua Periode' oleh pihak pendukung Joko Widodo.

"Gerakan #2019GantiPresiden merupakan antitesa dari gerakan yang sudah bergulir yaitu 'Dua Periode' untuk Pak Jokowi. Ini juga gerakan sah, legal dan konstitusional," kata Mardani, Politisi PKS dalam keterangan tertulis, Rabu (4/3/18). (Sumber : liputan6.com)

Melihat fakta ini, Jokowi pun ikut angkat bicara walau dengan respon sederhana. Ia pun menggencarkan bahwa menjadi pemimpin itu harus optimis. Mantan Gubernur DKI Jakarta itu menambahkan, bahwa hanya Tuhan dan rakyatlah yang mampu mengganti presiden dalam pemilihan presiden 2019 mendatang. "Juga ada kehendak dari Allah SWT. Masak pakai kaus itu bisa ganti presiden, enggak bisa," lanjut Jokowi. (Sumber : Teropong)

Tahun politik memang hangat akan bergulirnya isu terkait pemimpin. Semua menunjukkan potensi dan retorika dalam diri untuk memimpin negeri ini di periode nanti. Tapi, ada yang terlupa dari mereka yang 'bersemangat' di panggung politik, bahwa masyarakat masih dilingkupi permasalahan yang belum juga usai.

Baca Ini: 2019 Ganti Presiden Atau Ganti Sistem ?

Masalah di negeri ini semakin kompleks. Kerusakan pun sudah semakin parah dimulai dari perpolitikan yang diwarnai dengan kompetisi memanas menjelang pesta demokrasi. Dari segi ekonomi pun utang luar negeri yang membengkak hingga keterpurukan masyarakat dalam lembah kemiskinan.

Pendidikan pun tak kalah ramai dengan masalah mulai dari kegagalan membentuk generasi yang cemerlang hingga biaya pendidikan yang mahal.  Ranah sanksi hukum pun kerap elastis dalam pelaksanaannya yang menjadikan tidak ada muncul jera bagi pelaku kejahatan.

Masyarakat pun jenuh dengan beragam kesempitan hidup dan kezhaliman yang terjadi. Ada yang cenderung apatis dengan persoalan yang bermunculan. Potret masyarakat apatis ini tercermin dari sikap individualisme yang tertanam kuat dalam diri.

Adapun selain apatis, masyarakat ada juga yang berfikir untuk memberikan solusi atas segala masalah. Alih-alih tuntas permasalahan, ternyata kebanyakan solusi hanya sebatas ‘obat penahan sakit’. Padahal, tentu masyarakat menginginkan masalah segera usai dengan solusi yang hakiki.

Tak sedikit pula yang berfikir segala masalah ini imbas dari kesalahan memilih pemimpin. Oleh mereka yang berpendapat demikian biasanya akan bertindak oposisi terhadap rezim yang kini masih berada di puncaknya. Tagar #2019GantiPresiden itu salah satu wujudnya.

Mereka tak segan menawarkan pengganti pemimpin saat ini yang dinilai gagal dalam mengurus rakyatnya.

Tapi, apa kesalahan hanya terletak pada pemimpinnya? Dan kita hanya menawarkan solusi ganti pemimpin? Jika kita mau berfikir jernih bahwa negeri ini sudah berulang kali mengalami pergantian pemimpin.

Para pemimpin yang pernah menjabat presiden pun berasal dari kalangan yang berbeda, tapi kondisi bangsa ini tidak mengalami perubahan signifikan. Malah, semakin terpuruk.

Sejatinya pemimpin hanya 'pemain' yang mengikuti 'sistem permainan'. Kegagalan seorang pemimpin tidak bisa lepas dari sistem apa yang menaungi kepemimpinannya. Ia tentu akan diwarnai dengan ideologi yang menancap kuat di negeri ini.

Sebaik-baik latar belakang pemimpinnya akan terwarnai dengan sistem busuk kapitalis-sekuler ini. Sistem yang menjadikan aturan Allah hanya sebatas urusan diri pribadi bukan diterapkan di semua lini.

Tentu sebagai muslim yang beriman dan bertaqwa pada Allah SWT mengindahkan syariat Allah nan sempurna. Dalam hal ini tidak hanya meyakini kebenaran syariat tetapi berupaya maksimal agar syariat ini diterapkan secara totalitas dan sempurna. Untuk menerapkan syariat kita tidak hanya butuh pemimpin yang muslim, tapi sistem yang berdasarkan islam.

Sistem selain islam, dalam hal ini sistem politik demokrasi tidak memberi ruang berarti bagi penerapan islam. Sekalipun demokrasi dihuni para ahli agama dan dipimpin oleh seorang yang paham agama.

Demokrasi hanya memberi kedaulatan pada manusia bukan aturan dari Allah untuk memimpin manusia.

Selain itu, dalam perjuangan penegakan syariah islam kita wajib mengikuti bagaimana thariqah (metode) yang telah dicontohkan oleh Rasulullah. Rasulullah tidak bersifat kompromis terhadap siapapun yang berusaha untuk tawar menawar dalam kekuasaan dan agama. Rasulullah tidak mencontohkan untuk 'bermain' di dalam sistem kufur untuk menegakkan syariat islam.

Jadi, wahai kaum muslim jangan terjebak dengan tagar atau narasi #2019GantiPresiden. Jangan membelokkan thariqah dengan mencukupkan diri dalam reshuffle kepemimpinan presiden. Ganti presiden? Fokus Ganti sistem ! Hancurkan Kapitalisme, Tegakkan Ideologi Islam.[Mo/br]


Posting Komentar