Oleh: Siti Rahmah

Mediaoposisi.com-Berada di tahun yang sudah mulai memanas, sepertinya semua ucapan tokoh menjadi menarik untuk di kuliti, dan menjadi pemantik reaksi aktor - aktor politik.

Misalnya saja terkait pernyataan Wakil Koordinator Nasional Gerakan Indonesia Sholat Subuh (GIS),  Eggi Sudjana yang akrab di panggil Bang Eggi, memberikan ceramah shubuhnya mengenai "Presiden bikin rakyat miskin". Sebab sumber daya alam Indonesia di kuasai asing.

Tapi kenapa kita mendapatkan (emas) 10 persen, kan perintah UU untuk rakyat Indonesia bukan rakyat Amerika.

Dengan kondisi seperti ini siapa yang membuat miskin, Allah atau Presiden? Kenapa kiyai - kiyai kalau miskin terima saja, takdir, masih kita begitu menyalahkan Allah membuat kita miskin, bukan begitu? 

Padahal kita di kasih emas, minyak bumi, gas dan kelapa sawit. Kaya raya Indonesia, dulu rempah - rempah kita di perebutkan." Ujar Eggi saat memberikan tausiyah setelah mengikuti GIS berjamaah di Masjid Dzarratul Muthmainnah, Tangerang Selatan, Minggu 15/04/2018. DetikNews.com

Sebenarnya apa yang di nyatakan oleh Bang Eggi benar adanya, beliau bicara fakta dan realita. Betapa anugerah yang Allah berikan berupa kekayaan alam di bumi Indonesia begitu melimpah ruah, hanya saja sepertinya semuanya berbanding terbalik dengan kondisi rakyat Indonesia.



Tapi bukan politik namanya jika tidak merespon hal - hal yang dianggap sensitif. Tentu saja pihak Istana tidak bisa mendiamkan pernyataan tersebut, apalagi pernyataan tersebut dianggap sebagai upaya untuk melemahkan elektabilitas Presiden Jokowi.

Sontak Istana langsung meresponnya dan memberikan jawaban atas pernyataannya Bang Eggi.

Melalui Juru Bicara Kepresidenan Johan Budi SP saat di mintai konfirmasi, mengatakan; "Tidak banar, di era pemerintahan Presiden Jokowi bangsa dan masyarakat Indonesia dari berbagai indikator ekonomi maupun sosial mengarah pada arah yang lebih baik." detik.news.com 15/04/2018

Abu - abu Standar Kemiskinan

Bicara masalah kemiskinan saat ini memang memiliki standar ganda, bahkan standar karet. Orang bisa mengutak - ngatik data masyarakat miskin sesuai dengan kepentingannya.

Menurut data BPS yang memenuhi standar masyarakat miskin itu ada 14 ciri diantaranya adalah yang memiliki tempat tinggal di bawah standar kelayakan, ukuran rumah 8m2/orang, lantai tanah, tidak memiliki tempat buang air besar sendiri, tidak memiliki listrik, penghasilan di bawah 600.000 per bulan.

Sedangakan menurut standar  undang - undanga tahun 2011 fakir miskin adalah orang yang tidak mempunya sumber mata pencaharian dan /atau mempunyai sumber mata pencaharian tetapi tidak punya kemampuan memenuhi kebutuhan dasar yang layak bagi kehidupan diri dan/atau keluarga. 

Indikatornya  yang di katakan hidup layak itu yang sudah mendapatkan upah minimum, diluar itu berarti disebut rakyat miskin.

Sedangkan ketika mengacu kepada standar  Bank Dunia dengan melakukan pengaturan yang multi dimensi, untuk menentukan standar miskin.

Di simpulkanlah bahwa Bank Dunia menggunakan kriteria penentuan kemiskinan dengan 2  hal, pertama dari pola konsumsi dan yang kedua garis kemiskinan Internasional berdasarkan PPP (Purchasing, Power, Parity).

Baca : Indonesia Bubar Akankah Sebuah Keniscayaan ?

Dari pengamatan tersebut di dapatkanlah data bahwasanya rakyat Indonesia yang aman dari kemiskinan hanya 30% dari total penduduk Indonesia.

Dari perbedaan kriteria tersebut akhirnya menyulitkan untuk menetapkan indikasi kemiskinan yang sesungguhnya.

Jika itu yang terjadi lantas bagaimana negeri ini bisa menyelesaikan masalah kemiskinan? 

Bagaimana pula pemerintah bisa membuat strategi - strategi untuk membebaskan masyarakat dari jeratan kemiskinan, sedangkan penyebab terjadinya kemiskinan saja tidak tau, kejelasan data dan indikator - indikator yang menjadi penyebabnya juga tidak ada?

Indikasi Miskin dalam Islam

Sebagai seorang muslim wajib kiranya kita mengacu dalam segala hal kepada aturan yang Allah turunkan, termasuk dalam menentukan standar miskin.

Islam memiliki standar yang jelas dalam menentukan kriteria miskin. Miskin berasal dari bahasa arab yang mengandung arti kefakiran yang sangat. Sebagaimana firman Allah dalam surat Al Balad ayat 16 yang artinya: 

"atau orang miskin yang sangat fakir".

Syekh Taqiyuddin An Nabhani didalam kitab Nidzomul Iqtishodi fil Islam, mengkategorikan bahwasanya orang fakir adalah orang yang memiliki harta (uang) tapi tidak dapat mencukupi kebutuhan hidupnya.

Sedangkan orng miskin adalah orang yang tidak memiliki harta atau tidak memiliki pengahasilan. 

Selain itu Islam memandang bahwa masalah kemiskinan adalah masalah tidak terpenuhinya kebutuhan pokok, adapun yang menjadi Barometer kebutuhan pokok adalah sandang, pangan, papan. 

Sehingga jelas ketika tiga hal tadi tidak terpenuhi maka masyarakat tersebut terkategori miskin. Demikianlah ketika Islam menggariskan standarnya begitu jelas. 

Begitupun ketika bicara yang menjadi penyebab kemiskinan, maka ada tiga indikator. 

Pertama kemiskinan karena bawaan, misal karena fisik yang cacat, ada juga karena faktor usia yang sudah tidak produktif lagi.

Kedua kemiskinan karena sunatulloh, yang ketiga adalah kemiskinan yang struktural. Kemiskinan struktural ini adalah kemiskinan yang di sebabkan keslahan dari tata kelola, harta dan kekayaan banyak tapi rakyat tidak menikmati bahkan jauh dari kesejahteraan.

Kemiskinan struktural ini bisa di lihat dari besarnya jumalah rakyat miskin di suatu wilayah.

Baca : Felix Siauw : Al-Qur'an Itu Kalamullah

Mungkin itulah kiranya yang di maksud Bang Eggi, meluasnya kemiskinan bahkan miskin yang sistemik, miskin terstruktur yang di alami rakyat Indonesia di tengah - tengah melimpahnya kekayaan negeri ini. 

Kesalahan tata kelola akan harta dan SDA yang ada, tentu semua karena kesalahan dari pemimpin yang memiliki otoritas penuh dalam mengontrol semua kebijakan dan memberlakukan undang - undang.

Semua keputusan yang di jalankan tentu berdasarkan perintahnya. Dalam sistem yang di terapkan di Indonesia saat ini pemimpin negara Republik Indonesia di sebut Presiden.

Sehingga tidak salah kiranya ketika Bang Eggi mengatakan Presiden bikin rakyat miskin, karena pada dasarnya dan realitanya Presidenlah yang menjadi penentu dalam mengambil kebijakan.[MO/un]
.

Posting Komentar