Revolusi| Mediaoposisi.com- Terpilihnya Indonesia sebagai tuan rumah IMF-WB Annual Meetings 2018 (AM 2018) menjadi kebanggan tersendiri bagi negara yang sudah mencapai pertumbuhan ekonomi sebesar 5 persen. Begitulah kiranya komentar Christine Lagarde, direktur IMF.

Perempuan ini meyakini Indonesia akan menjadi negara yang sangat besar dalam aspek ekonomi dengan potensi populasi dan kekayaan alam yang besar. Dikutip dari bi.go.id, Pertemuan ini diharapkan akan memberikan manfaat bagi Indonesia baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang, khususnya dalam peningkatan cadangan devisa, perdagangan dan investasi, pariwisata serta kepemimpinan Indonesia di kawasan.

Mengulik IMF
IMF (International Monetary Fund) terbentuk secara resmi pada tahun 1945. Organisasi ini bermarkas di Washington, D.C, Amerika Serikat. Dilansir dari imf.org, tanggung jawab utama IMF adalah memberikan pinjaman kepada negara-negara anggota yang sedang mengalami atau berpotensi mengalami masalah neraca pembayaran.

Baca Juga : IMF Pemicu Krisis

Bantuan keuangan ini membantu negara-negara anggota dalam upaya membangun kembali cadangan internasional mereka, menstabilkan mata uang mereka, melanjutkan pembayaran untuk impor, dan memulihkan kondisi guna pertumbuhan ekonomi yang kuat, sambil mengupayakan kebijakan-kebijakan untuk mengoreksi penyebab masalah-masalah tersebut.

Artinya, lawatan IMF ke Indonesia tak sekedar reuni akbar atau hanya ingin memuji Tanah Abang. Kunjungan sekelas Christine Lagarde tak akan lepas dari kebijakan IMF dalam memberi pinjaman kepada suatu negara.

Terlalu naif bila perhelatan Annual Meeting-IMF dipandang memberi keuntungan bagi Indonesia untuk mengenalkan pariwisatanya. Padahal, kunjungan IMF pasti berdampak pada kebijakan fiskal di setiap negara yang dikunjunginya.

Contohnya Yunani. Pada tahun 2010, pemimpin Uni Eropa bersama dengan IMF memberikan pinjaman ratusan miliar euro kepada Yunani dan beberapa negara lain agar bisa membayar utang yang sudah jatuh tempo waktu itu.

Suntikan dana yang diberikan  Uni Eropa dan IMF bersyarat. Diantara syaratnya adalah pemangkasan anggaran dan membuat ekonominya lebih efisien.

Contoh pemangkasan anggaran yang dilakukan Yunani saat itu adalah pemangkasan gaji PNS, menaikkan pajak, membekukan anggaran pensiun, melarang pensiun dini.

 Setelah itu apa yang terjadi? Pasca pinjaman  IMF, Yunani semakin terpuruk. Harga-harga naik, biaya hidup semakin mahal, dan ekonomi porak poranda.

Hal itu pernah terjadi di Indonesia pada masa pemerintahan Soeharto. Indonesia mendapat pinjaman dari IMF, sehari setelahnya kenaikan bahan bakar dan sembako massif dilakukan akibat rencana bailout IMF, pecahlah krisis moneter yang berakhir dengan kejatuhan rezim orde baru.

Resep Pinjaman  IMF 
Persyaratan pinjaman IMF dituangkan melalui syarat penyesuaian struktural yang dikenal dengan sebagai Konsensus Washington, yang meliputi:


  1. Pemangkasan belanja, biasa dikenal dengan istilah austeritas atau pengetatan anggaran. 
  2. Mengutamakan ekspor langsung dan ekstraksi sumber daya, 
  3. Devaluasi mata uang, 
  4. Liberalisasi perdagangan, atau penghapusan hambatan impor dan ekspor,
  5. Meningkatkan kestabilan investasi (membantu investasi asing langsung dengan membuka bursa saham dalam negeri), 
  6. Menyeimbangkan anggaran dan tidak belanja berlebihan, 
  7. Menghapus pengendalian harga dan subsidi negara, 
  8. Swastanisasi, atau divestasi seluruh atau sebagian BUMN, 
  9. Memperluas hak investor asing dalam perundang-undangan nasional, 
  10. Memperbaiki tata kelola pemerintahan dan memberantas korupsi. 


Penyumbang dana terbesar IMF adalah negara besar seperti AS, Inggris, dan Jepang. Lembaga ini adalah kendaraan bagi negara-negara kapitalis untuk menjerat negara yang sedang dilanda krisis dengan memberikan utang luar negeri dan domestik bagi negara yang membutuhkannya. 

Baca Juga : Kedok Hitam IMF

Kucuran dana mengalir dengan persyaratan yang sesuai ketentuan Structural Adjustment Program (SAP) IMF: pencabutan subsidi, privatisasi, perdagangan bebas, dan pembatasan intervensi negara dalam ranah ekonomi.

Masihkah menganggap lawatan Lagarde sebagai hal positif yang tak perlu dicurigai dan diwaspadai?[MO/cj]




Posting Komentar