Oleh : Metia Nur Hidayah

Mediaoposisi.com- Berita menggemparkan datang dari perusahaan jasa lelang keperawanan di Jerman, Cinderella Escort. Menurut  pendiri, pemilik sekaligus pengelola Cinderella Escorts Jan Zakobielski yang berusia 27 tahun tersebut terkuak bahwa terdapat 350 perawan Indonesia yang mengajukan lamaran untuk menjual keperawanannya dengan harga tinggi kepada dirinya.

Pemilik Situs pelelangan keperawanan tersebut juga mengungkapakan rentang usia yang mengajukan diri berkisar 18-23 tahun. Dimana calon pembeli lelang berasal dari seluruh dunia. Dan lebih mengejutkan lagi pihak yang menawar lelang keperawanan gadis lewat Cinderella Escort juga datang dari politisi terkenal di Indonesia, yang tidak bisa disebutkan namanya. Disamping para orang kaya Indonesia seperti pengusaha yang menjadi langganannya.

Fakta ini tentu membuat miris. Bagaimana tidak, sebab Indonesia adalah negeri muslim terbesar di dunia. Jika muncul realitas yang bertolak belakang dengan pemahaman agama mayoritas di tengah masyarakatnya  maka fenomena banyaknya perempuan Indonesia yang  secara terbuka menjual dirinya tentu menjadi momok.

Keperawanan sendiri pada awalnya adalah hal yang masih tabu dibicarakan oleh masyarakat Indonesia. Hal demikian karena latar belakang mayoritas masyarakatnya yang masih menjadikan sandaran agama dan budaya ketimuran sebagai tolak ukurnya.

Namun seiring berkembangnya zaman dan munculnya fakta tersebut menguak bahwa telah terjadi pergeseran nilai dan sudut pandang kehidupan terutama di kalangan perempuannya. Sejumlah 350 perempun yang menawarkan diri di situs pelelangan keperawanan tersebut tentu bukan jumlah yang sedikit dan mungkin ini laksana fenomena gunung es.

Dari penuturan Jan Zakobeilski sendiri, perempuan yang telah menjual keperawanannya akan mendapat prosentase 80% dari harga lelang yang bisa mencapai jutaan dollar.  Seorang perempuan Inggris, Jasmin (26) menjual keperawanannya dengan harga sekitar 21 miliar kepada seorang aktor terkenal Hollywood. Jasmin diketahui melelang keperawanannya melalui Cinderella Escort.

Bulan april tahun lalu Cinderella Escort berhasil menjual wanita Rumania alexandria Khefren (18) dengan harga 2,4 juta dolar yang dibeli pengusaha Hong Kong. Tentu hal ini sangat menggiurkan para perempuan yang mendaftar untuk melelang keperawanannya, tak terkecuali perempuan Indonesia.

Di tengah himpitan ekonomi yang serba sulit dan gempuaran gaya hidup jet set maka lelang keperawanan dijadikan solusi alternatif yang cepat dan termudah untuk menggalang dana. Terbayang pundi-pundi rupiah yang akan didapatkan.

Jerat Sekulerisme dan Materialisme
Sekulerisme memandang kebahagian hidup adalah terpenuhinya kebutuhan materi. Apapun cara akan ditempuh demi terpenuhinya kebutuhan materi tersebut. Kehidupan yang kaya raya, bergelimang dengan harta,  tampil gaya dan mempesona, seperti itulah disebut bahagia.

Memiliki kendaraan mewah, rumah indah dengan perabotan yang serba wah, busana dengan harga dan model terbaru, gadget tercanggih, bisa jalan-jalan ke seluruh penjuru dunia, itulah dikatakan bahagai. Maka tak heran jika demi terwujudnya kebahagian berupa materi tersebut jalan yang ditempuh dengan melelang keperawanan.

Ideologi kapitalis sekuler berpandangan, manusia harus dibebaskkan dari belengu agama. Aturan-aturan agama hanya dianggap mengekang dan menghambat terwujudnya kebahagiaan manusia. Maka 350 perempuan Indonesia yang mendaftarkan diri melelang keperawanannya jangan ditanya soal agama bagi mereka.

Jerat sekulerisme dan materialisme sudah merasuk di benak kepalanya. Sehingga aturan agama sudah tidak dianggap sebagai pemandu kehidupnnya. Apalagi halal dan haramnya sudah tidak ada dalam kamusnya. Beginilah bobroknya sistem sekuler kapitalis. Perempuan hanya dianggap layaknya komoditi atau aset ekonomi yang menguntungkan. Dan negara membiarkan perempuan-perempuan dijadikan pemuas nafsu syahwat pria kaya namun bejat perilakunya.

Perlindungan Negara, Wajib!
Negara adalah institusi yang berkewajiban untuk mengatur rakyatnya. Dialah perisai penjaga umat dari segala serangan, baik fisik maupun non fisik. Tidak seharusnya peran itu dicabut, meskipun atas nama kerjasama atau solidaritas kawasan. Sungguh sangat tidak layak negara berlepas tangan membiarkan rakyatnya berjibaku memenuhi kebutuhan dan bertahan di atas himpitan kerasnya kehidupan.

Munculnya fenomena lelang keperawanan yang dilakukan perempuan Indonesia harusnya membuat pemerintah segera bersikap dan melakukan upaya serius. Terbayang bagaimana nasib masa depan bangsa Indonesia dan generasi yang dihasilkan jika perempuannya sudah mengalami kerusakan pemikiran dan tingkah lakunya. Teracuni dengan kesesatan sekulerisme dan materialisme serta budaya liberalisme. Pelan tapi pasti negara akan berada dalam jurang kehancuran.

Namun, selama standar penyelesaian negara masih menggunakan kerangka yang sama yaitu pandangan negara adidaya sekuler kapitalis juga maka selama itu pula harapan akan sia-sia. Saatnya beralih kepada sistem yang aturan kehidupannya berasal dari  Sang Pencipta manusia, yang pasti terjamin kebaikannya dan terbukti penerapannya.[MO]

Posting Komentar