Oleh: Nasrudin Joha

Mediaoposisi.com- Gile bener politik di negeri ini. Bagi Anda para politisi, jangan merasa tenang kasus Anda tidak diproses, boleh jadi sedang di peti-es-kan. Jika suatu saat kepentingan politik menghendaki, kasus Anda akan dikeluarkan dari kulkas dan digoreng lagi oleh lawan politik Anda.

Ada jurus politik kuno, kaidahnya begini : "Menampakan sebagian untuk memukul lawan, dengan menyembunyikan bagian besarnya".

Contoh paling mudah untuk memahami jurus ini, adalah kasus Bupati Anas yang mundur dari Pilkada Jatim karena kasus paha ayam. Yang dinampakan hanya paha ayam, tetapi seluruh video jeroan ayam ada pada lawan politik Anas.

Jika saja Anas tidak mundur, boleh jadi lawan politik Anas akan mengumbar seluruh isi jeroan ayam pujaan Anas. Boleh jadi, isi jeroan Anas juga diumbar ke publik. Ini adalah jurus politik "menampakan sebagian, menyembunyikan bagian yang terbesar untuk memukul lawan".

Dan Anas pun, keok diadili oleh opini publik. Pilihan paling rasional, Anas mundur dari pencalonan. Siapa lawan Anas ? Belum tentu dari luar partai, boleh jadi rival internal partai.

Kasus praperadilan PN Jaksel yang menyebut Budiono agar disidik dalam kasus Century, boleh jadi juga jurus politik yang mengadopsi cara yang sama seperti pada kasus Anas.

Yang dinampakan sebagian, tetapi yang disembunyikan bagi kalangan tertentu tentu lebih fasih dan mengetahui.

Perseteruan PDIP dan Demokrat akibat nyanyian Papah, boleh jadi berbuntut panjang. Hasto, pasca penyebutan nama Puan dan Pramono membuat klarifikasi panjang. Diantara klarifikasinya isinya buang badan. Demokrat kebagian Sampur buang badan dari Hasto.

Demokrat pun berjibaku melawan, bahkan mempertimbangkan untuk tidak bergabung dengan koalisi Jokowi. Hubungan PDIP - Demokrat sedikit panas dingin.

Adapun kasus Century, Budiono itu bukan aktor utama. Banyak aktor besar dibalik budiono. Pengungkapan kasus budiono, boleh jadi membawa pesan besar "ANDA HARUS MUNDUR BUNG, ANDA IKUTI PERNAINAN SAYA BUNG, JIKA TIDAK KASUS CENTURY SAYA LEDAKAN !".

Timingnya dekat pemilu, dekat Pilpres, dekat musim kampanye, dekat tahun politik. Dalam kampanye, akan muncul ikhtiar untuk menampakan citra menyembunyikan fakta. Dalam kampanye, membongkar aib lawan dan mengubur aib sendiri itu lumrah.

Karena kampanye dapat didevinisikan sebagai ikhtiar membangun citra dan menutup kebusukan fakta, meraih simpati mendulang empati, membongkar aib lawan menutup aib pribadi untuk satu tujuan "ELEKTABILITAS".

Century, Budiono, dapat di intensifkan untuk membangun citra partai tertentu, mengungkap borok partai tertentu, mengalihkan kejengahan pada partai tertentu, menimbulkan simpati dan empati pada partai tertentu.

Namun, siapakah partai tertentu itu ? Saya tidak dapat sebutkan. Yang jelas, kasus Century terjadi pada saat SBY menjabat Presiden, Demokrat berkuasa. Sementara, putusan praperadilan PN Jakarta Pusat, terjadi saat Jokowi Presiden, dan PDIP sebagai partai penguasa.

Rasanya akan terjadi saling ngluruk, saling jegal, saling sandera, saling bermanuver menuju pemilu dan Pilpres 2019. Sulit untuk menepis isu, akan ada potensi besar (chaos) saat pemilu dan Pilpres.

Semua partai dan calon telah bersiap untuk menang, tetapi tidak SDA yang siap untuk kalah. Ahoker saja hingga sampai saat ini masih belum menerima kekalahan dan selalu bikin ulah. Bagaimana nanti jika cebong junjungannya kalah ? Apa mau Legowo terima atau bikin ulah seperti ahoker ? Disitulah letak potensi chaosnya.

Para penguasa dzalim itu khawatir jika kalah lawan politiknya akan membalas kedzaliman yang telah diperbuatnya. Tidak ada pilihan, POKOKNYA HARUS MENANG ! 

Makanya, kepada umat Islam udah fokus aja berjuang untuk tegakan Khilafah. Jangan ikut permainan politik mereka, politik yang mereka jalankan sadis. Kalian akan ikut jadi korban jika dipaksakan.

Fokuslah membina umat, agar kerinduan umat akan Khilafah bisa segera terobati. Sebab, hanya Khilafah saja yang bisa menghentikan seluruh huru hara politik di negeri ini. [MO/br].

Posting Komentar