Oleh; Tri Wahyuningsih

Mediaoposisi.com- Setiap tanggal 2 mei, dunia pendidikan Indonesia selalu memperingati hari pentingnya yakni Hari pendidikan Nasional (Hardiknas) dan rangkaian acara pun dibuat untuk menyemarakan hari perayaan ini, baik di pusat ibukota maupun di daerah-daerah nusantara.

Seperti tahun ini, Kemendikbud di bawah pimpinan Muhadjir Effendi tampaknya tak mau kalah dari para petinggi negeri dan remaja Indonesia tentang Film dilan 1990 yang beberapa waktu lalu menjadi buah bibir di masyarakat.

Ya, 5 Mei mendatang Kemendikbud akan menggelar nonton bareng (nobar) film Dilan 1990 dan film yowis Ben. Dilansir dari halaman detik.com "Mendikbud Muhadjir Effendi menggelar nonton bareng (nobar) film 'Dilan' dan 'Yowis Ben' dalam rangka memperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas). Acara nobar itu diharapkan dapat membuat masyarakat lebih mengapresiasi film nasional."(19/4/18).

Masih dikutip dari halaman yang sama, Kemendikbud juga mengatakan kalaulah rencana menonton film Dilan 1990 ini untuk menambah kecintaan remaja Indonesia dengan dunia perfilman tanah air.

"Memang benar ini sebagai salah satu rangkaian peringatan Hari Pendidikan Nasional tahun 2018, yaitu nonton bareng film Indonesia, untuk lebih mencintai dan menghargai film karya anak bangsa dengan cara nobar film Indonesia," kata Kasubbag Layanan Informasi Biro Komunikasi dan Layanan Masyarakat Kemendikbud Anandes Langguana dalam keterangannya, Kamis (19/4/2018).

Selain itu, manfaat dari menonton film remaja ini seperti yang disampikan kepala Kemendikbud ialah film 'Dilan' masih mempunyai relevansi dengan momentum Hardiknas dan ada pesan penting dalam film yang diperankan Iqbaal Ramadhan dan Vanesha Prescilla itu, yaitu sinergi semua elemen untuk membangun suasana pendidikan yang baik.

Jadi dengan adanya agenda nonton bareng film ini, nanti setelahnya diharapkan kepada masyarakat baik orang tua, guru, murid serta elemen pendidik lainnya dapat memiliki peran dalam membangun suasana pendidikan yang baik dan penuh keselarasan. Benarkah ?

Jika berbicara film Dilan 1990, tentulah masyarakat khususnya remaja akan mengatakan kisah cinta antara dilan dan milea yang sangat romantis dan meremaja sekali. Walau dilan berandal, milea tetap suka “cinta menerima apa adanya”. Tawuran, pacaran, bolos sekolah menjadi gambaran jelas dalam film yang meraih rekor penonton terbanyak tahun 2018 ini.

 Dan benarkah potret pendidikan seperti ini yang ingin ditanamkan ke dalam diri generasi muda negeri. Remaja bebas, gaul, aktif dan berandal inilah mungkin gelar yang hendak disematkan pemerintah melalui kemendikbud lewat acara nonton bareng film dilan 1990 dan ‘Yowis Ben’.

Film dilan 1990 dan ‘Yowis Ben’ adalah dua film yang sangat jauh dari semangat pendidikan, maka bila memang tujuan kemendikbud mengadakan acara nonton bareng dalam rangka memperingati Hardiknas 5 mei mendatang adalah untuk mengajak semua elemen masyarakat berpartisipasi aktif dalam dunia pendidikan, sesungguhnya ini salah dan akan menjadi sebuah lelucon semata.

Film yang amat sangat jauh dari semangat dan tujuan pendidikan tak akan memberikan relevansi ataupun sumbangsi apapun untuk kemajuan pendidikan apalagi pembentukan karakter generasi muda yang lebih baik. No sense.

Media Massa ; Wasilah Barat Menyerang Kaum Muslim
Media massa memiliki peran yang sangat strategis di tengah-tengah masyarakat, ia menjadi sarana efektif yang mampu menembus semua kelas social tanpa memandang tingkatan, mampu menjangkau ruang dan waktu serta mampu mendapatkan jumlah massa yang besar dalam satu waktu atau lebih. Media juga memberikan pengaruh besar terhadap dunia politik dan budaya masyarakat dimanapun berada.

Media massa di zaman era globalisasi telah berkembang dengan sangat pesatnya mengikuti perkembangan dunia teknologi yang kian canggih. Namun, hingga saat ini media massa bukanlah produk bebas nilai. Semua produk media akan selalu membawa nilai-nilai dan mengajarkan gaya hidup (life style) tertentu, termasuk salah satunya media film.

Setiap nilai dan gaya hidup yang dibawa oleh media adalah bersumber dari ideology Negara yang menjadi agen atau produsen dari keberadaan atau penyebaran produk media tersebut. Oleh karenanya, baik dan buruk produk media salah satunya film tergantung dengan kehendak dari produsen tersebut atau sesuai asas yang menjadi landasan tegaknya ideology Negara.

Dan kini, ideology Kapitalis-Sekuler yang menjadi dasar pemikiran untuk penyebaran produk-produk media massa. Ideology yang dibawa serta diemban oleh barat ini berhasil masuk dengan sempurna ke setiap lini kehidupan masyarakat melalui media massa salah satunya.

Acara hiburan baik di televisi maupun bioskop senantiasa menyuguhkan tayangan-tayangan abmoral yang tak ada nilai pendidikan untuk masyarakat, hanya hiburan yang membawa kesenangan sesaat dan menambah kecintaan kepada duniawi. Ironi.

Ideology yang mengedepankan aturan manusia daripada aturan sang pencipta ini, hanya berlandaskan keuntungan berupa materi (uang) dan kesenangan duniawi yang membawa kesengsaraan akhirat semata.

Masyarakat dengan ekonomi rendah diberikan hiburan ragawi berupa tontonan penuh pornografi, kekerasan dan kebebasan hingga membuat mereka lupa akan kewajiban Negara untuk mensejahterakan kehidupan mereka serta para generasi pembangun peradaban mereka dibiarkan rusak menjadi korban kerusakan media salah satunya film dan mendapatkan role model dari media dan tayangannya yang penuh racun.

Sistem Islam Mewujudkan Media Sehat Dan Cerdas
Dalam pandangan Islam, media massa merupakan media komunikasi massal yang berfungsi untuk menciptakan sebuah opini publik yang kemudian akan menjadi opini umum. Pembentukan opini umum adalah hal yang tidak bisa disepelekan dalam sistem Islam.

Syaikh Ziyad Ghazzal dalam kitab Masyrû’ Qânûn Wasâ’il al-I’lâm fî Dawlah al-Khilâfah (RUU Media Massa dalam Negara Khilafah) menjelaskan pendirian lembaga penyiaran swasta/publik yang dimiliki warga negara tidak memerlukan izin, cukup memberikan pemberitahuan dan kirimkan ke direktorat Penerangan, yaitu hanya memberitahukan dimana lembaga penyiaran didirikan.

Pemilik dan pemimpin redaksinya, bertanggung jawab terhadap semua isi informasi yang disebarkan dan ia akan diminta tanggung jawabnya terhadap setiap bentuk penyimpangan hukum-hukum syariat. Jika kemudian hak ini disalahgunakan untuk menyebarkan ‘kebatilan’ seperti konten pornografi, kekerasan atau ide-ide nasionalisme, demokrasi dan ide merusak lainnya akan diberi sanksi.

Hanya saja, dalam kaitannya dengan program siaran, setiap stasiun televisi hanya diperbolehkan membuat program-program siaran yang dibolehkan oleh syariat, seperti olah raga, hiburan-hiburan mubah, talk show, dan lain-lain.

Islam mengharamkan perkara-perkara yang mubah, kecuali jika perkara-perkara yang mubah tersebut mengandung bahaya (dlarar) atau bisa mengantarkan kepada bahaya.

Program media dilarang menayangkan hal-hal yang diharamkan oleh Islam, seperti infotainmen ghibah, pemujaan terhadap materi, penonjolan hal-hal yang berbau seksualitas, tabarruj, serta siaran-siaran yang merendahkan akhlak manusia, dan lain sebagainya.[MO]

Posting Komentar