Oleh Susi Sukaeni 
(Anggota komunitas Revowriter)

Mediaoposisi.com- Sejak Senin, 1 April 2018 banyak puisi berseliweran di wall FB juga WA, rame-rame menggugat “Ibu Indonesia”.   Sebuah puisi karya putri proklamator yang dibawakannya di acara Pagelaran Indonesia Fashion Week 2018, pada 30 Maret 2018 di Jakarta Convention Centre.k Acara ini mengangkat tema  Cultural Identity.

 Banyak tokoh wanita yg hadir diantaranya menteri Susi Pujiastuti yang juga tampil heboh di panggung. Terlihat tokoh lainya Ibu Shinta Nuriah Abdurahman Wahid, Titik Puspa, dan sejumlah artis wanita papan atas.

Menista Islam
“Aku tak tahu Syariat islam. Yang kutahu, sari konde Ibu Indonesia sangatlah Indah. Lebih cantik dari cadar dirimu. Gerai tekukan rambutnya suci, sesuci kain pembungkus wujudmu.”.

“Aku tak tahu syariat Islam. Yang ku tahu suara kidung Ibu Indonesia, sangatlah elok. Lebih merdu dari alunan adzanmu”.

lItulah dua bait  puisi “Ibu kIdonesia” yang menuai protes dan kecaman dari hampir semua kalangan masyarakat. Kecaman dan gugatan terus membanjiri mulai dari tokoh masyarakat, tokoh agama, politikus, artis, budayawan, intelektual, dan tentu saja barisan emak militan (BEM) pejuang Syariat Islam. Walaupun dengan latar belakang dan sudut pandang berbeda, masyarakat kompak menilai puisi tersebut menyinggung SARA dan menista agama Islam.
 
Salah seorang tokoh masyarakat Kapitra Ampera Pengurus Persaudaraan Alumni 212. Kepada wartawan ia menjelaskanan ada dugaan kuat mendiskreditkan agama islam karena menyinggung soal cadar dan adzan yang tidak lebih merdu dari kidung Ibu Indonesia.

Ferdinan Hutahean, Kadiv Advokasi Hukum dan Demokrat mengungkapkan “ Saya berkesimpulan bahwa puisi itu mengandung kebencian setidaknya ketidaksukaan dan rasa permusuhan kepada cadar dan adzan. Ini masuk ranah ujaran kebencian berbau SARA.”. Adapun dari kalangan artis  Kartika Putri menanggapi puisi ini, “...Jika tidak tahu Syariat Islam lebih baik mencari tahu atau jauh lebih DIAM saya rasa itu lebih bijak.”. (kaltim.tribunnews.com).

Budayawan senior dan dosen Unsil Tasikmalaya, pendiri “Budaya Berabda 57” Bode Riswandi berkomentar, “Bahasa-bahasa yang  digunakan belum tanak. Tetapi jauh dari sekedar pendekatan kepada teks semata. Hal yang paling membuat saya tepok jidat ialah larik, “Yang kutahu suara kidung Ibu Indonesia sangatlah elok// lebih merdu dari suara adzanmu//, membuat puisi ini menjadi gagal paham.” .

Bode menilai wajarlah jika reaksi ummat Islam akan besar mengingat nuansa puisi ini jelas bernada SARA, karena sejatinya seorang budayawan harus bisa melihat ke arah mana tulisan atau puisi mereka dibuat. Jika bersinggungan dengan keyakinan, ini akan menjadi fenomena gunung es dan jelas akan mematikan karya seni di tengah kebhinekaan kita.

Masih banyak para budayawan sekelas WS Rendra, Taufik Ismail bahkan Wiji Tukul yang harus rela mengorbankan jiwanya demi sebuah kebenaran yang hakiki tapi tidak melupakan tuhannya


Kepedulian Umat 
Reaksi umat Islam khususnya dari kalangan muslimah sungguh luar biasa. Semua mendadak jago berpuisi baik tua-muda, karyawan-ibu rumah tangga, netizen-jurnalis, budayawati-penikmat seni.  Ya..puisi dibalas puisi biar fair sekaligus media curahan hati yang terluka dan kecewa. Jadilah wall FB dipenuhi puisi dan quotes menggugat “Ibu Indonesia” selama beberapa hari. Demikian pula banyak yang membagikan video pembacaan puisi balasan di WhatsApp.

Trenyuh hati ini menyaksikan pembelaan ummat yang luar biasa terhadap agamanya. Alhamdulillah kepedulian dan kecintaan ummat pada agamanya semakin hari semakin meningkat. Mereka tak rela agamanya dinista dan dijadikan bahan olok-olok. Bahkan setidaknya dua orang telah berhasil melaporkan kasus ini ke pihak kepolisian.   

Pertama, advokat Deni andrian Kusdayat melaporkan Sukmawati ke Polda metro Jaya melanggar pasal 156 a KUHP tentang penistaan agama dan pasal 16 undang-undang Nomor 40 2008 tentang penghapusan diskriminasi ras dan etnis. Kedua Amron Asyhari, politikus Hanura melaporkan Sukamawati karena puisinya dinilai telah menghina Islam Ia mendesak polisi menindak lanjuti laporannya(idntimes.com).
  
Permohonan Maaf
Kecaman dan gugatan yang terus menghujani tiada henti membuat Sukmawati meminta maaf kepada ummat Islam indonesia. Dalam  jumpa pers di kawasan Cikini Jakarta, Rabu  4 April 2018, Sukmawati meminta maaf sekaligus menegaskan dirinya tidak bermaksud menghina Islam.

 Bahkan ia  menyatakan bersyukur dan bangga menjadi seorang muslimah. Sukmawati menjelaskan puisi “Ibu Indonesia merupakan bentuk penghormatannya kepada ibu pertiwi Indonesia yang kaya akan kebudayaan yang begitu berbhineka namun tetap tunggal lka.

Walaupun Sukmawati sudah meminta maaf dan masyarakat sudah memaafkan, rupanya hukum harus tetap berjalan. Hingga hari kedelapan sejak dibacakan, sudah ada 10 laporan yang masuk ke beberapa kantor polisi.

 Dua laporan masuk ke Polda Metro Jaya atas nama advokat Deni Andrian dan Ketua DPP Hanura Amron Asyhar. Enam laporan lainnya masuk ke Bareskrim atas nama  Forum Anti Penodaan Agama (FAPA) yang diwakili oleh Mursal Fadhilah.[MO]


Posting Komentar