Sukmawati menangis meminta maaf atas puisinya

Oleh: Nasrudin Joha


Mediaoposisi.com- Mencela, menghina, merendahkan, melecehkan, mengedarkan, menyebarluaskan, membuat marah, membuat bergolak, membuat panas, setelah terancam tiba-tiba menangis meminta maaf, air mata buaya !

Membuat gaduh, mencari musuh, menggelar penentangan, mengujar kesombongan, mencari pembenaran, setelah dilawan tiba-tiba nangis bawang bombay meminta maaf, air mata buaya !

Sukma telah lancang menista Agama, Sukma telah merendahkan syariat Islam, Sukma telah memperolok pakaian kemuliaan wanita Islam, Sukma telah menggunjing suara adzan. Ini tidak bisa diterima, Sukma harus di penjara !

Jika Sukma tulus meminta maaf, maka polisi harus segera menangkap dan menahannya. Agar penyesalan itu serius, bukan basa basi, bukan untuk lari dari pertanggungjawaban, bukan untuk memantik keprihatinan. Dalam penjara lima tahun, Silahkan setiap hari Sukma menulis puisi permintaan maaf kepada Allah SWT, dzat yang menurunkan syariat Islam.

Polisi harus memproses, polisi penegak hukum bukan juru runding. Mana ada kasus pidana di musyawarahkan? Kasus pidana itu disidik, dikumpulkan barang bukti, diambil keterangan saksi dan ahli, elaborasi unsur unsur pidana, setelah itu serahkan kepada jaksa untuk dituntut di pengadilan.

Karena prosesnya panjang, polisi harus menahan Sukma, agar tidak lari, agar tidak menghilangkan barang bukti, agar tidak berpuisi lagi. Puisi Sukma penuh ujaran kebencian pada syariat Islam, puisi Sukma telah menistakan agama Islam.

Polisi jangan hanya 'Gagah' mengejar ujaran kebencian pada PDIP, sementara ujaran kebencian kepada agama Islam di musyawarahkan. Saat kasus Alfian Tanjung, polisi bermusyawarah ? Saat kasus Asma Dewi, polisi bermusyawarah ? Saat kasus Rini Sulistiawati, polisi bermusyawarah ? Tidak ! Polisi langsung tangkap dan proses hukum !

Karenanya seluruh umat Islam meminta polisi laingsung tangkap Sukma. Biarkan Sukma berderai di pengadilan, biarkan hakim bermusyawarah untuk memvonis Sukma. Jangan sampai kasus sukma menjadi kasus Ahok kedua !

Barisan ahoker dan kecebong kembali meradang, mereka bersatu padu melindungi busukma. Karena itu kaum muslimin juga harus bersatu, tuntut Penista agama di penjara.

Wahai Rezim, mana pidatomu ? Mana ujaran intoleransimu ? Mana ungkapan "Negara harus hadir melindungi agama, negara harus hadir menentang intoleransi". Ujaran busukma adalah ujaran yang melukai hati umat Islam, menghina akidah dan keyakinan umat Islam.

Wahai kaum muslimin, persiapkan seluruh kekuatan, baik dari kuda yang ditambatkan sampai kudapan untuk persiapan aksi 212 jilid kedua. Kita siapkan diri untuk jihad suci, melindungi agama Islam dari ujaran penistaan busukma.

Wahai kaum muslimin, kerinduan Anda untuk bersatu dalam jutaan massa membela agama, sebentar lagi Allah SWT kabulkan. Tunggulah hingga rezim benar benar membuat kalian marah, karena mendiamkan Penista agama.

Wahai umat, waspada dan siaga lah. Tunggu komando ulama untuk mengadakan aksi besar membela agama. Tunggu saat, dimana Anda dan Nasrudin Joha berkumpul kembali di Monas untuk membela agama.

Wahai kaum muslimin, persiapkan bendera rasul sebagai panji kebesaran untuk turut dalam aksi bela agama. Putihkan Monas, putihkan Jakarta, kabarkan kepada dunia betapa besar dan berwibawa umat Islam !

Semoga Allah SWT menjaga Anda dan kita semua, hingga waktu yang ditetapkan. Hasbunallah Wani'mal wakil Ni'mal Maula WA Ni'man Nashier. [MO/br]

Posting Komentar