Oleh: Novia Norma Yunita
(Kadiv Humas Dept. Nisa LDK KMM STKS Bandung)

Mediaoposisi.com- Kasus penistaan agama Islam kembali terulang. Setelah Ahok yang menistakan Al-Maidah ayat 51, kini Sukmawati Soekarno Putri melakukan penistaan agama Islam melalui pembacaan puisi dengan merendahkan hijab dan adzan.

Dalam puisi tersebut Sukmawati dengan bangganya menyatakan bahwa dirinya mengatakan tidak tahu syariat Islam, bahwa sari konde sesuci hijab dan kidungan ibu lebih merdu dari suara adzan.

 Puisi yang berjudul “Ibu Indonesia” dibacakan di  pagelaran Indonesian Fashion Week dalam segmen Sekarayu Sriwedari menyambut 29 tahun karya Anne Avantie ini membandingkan antara syariat Islam dan Indonesia. Tak pelak, isi puisi tersebut menjadi perbincangan khalayak ramai karena kontennya yang merendahkan ajaran Islam. Akibat atas perbuataannya tersebut, saat ini Sukmawati telah dilaporkan ke pihak kepolisian oleh umat islam yang terluka akibat pelecehan tersebut.

Seakan tak ada habisnya, ajaran Islam kian menjadi bahan olok-olok dan caci maki. Kondisi ini tentu harus menjadi perhatian bersama, penistaan agama yang dilakukan oleh Sukmawati merupakan kejadian lanjutan dari kasus lain yang pernah terjadi sebelumnya.

 Banyak masyarakat di luar sana yang  seperti Sukmawati (tak tahu dan tak paham syariat Islam) bisa jadi menjadi penyebab banyaknya penistaan agama yang terjadi di negeri ini. Disinilah kita perlu melihat bahwa peran dakwah sangatlah penting.

Dakwah adalah kegiatan yang bersifat menyeru, mengajak dan memanggil orang untuk beriman dan taat kepada Allah sesuai dengan garis aqidah, syariat dan akhlak islam. Dakwah bukan sekedar mengajak dan memanggil saja, tapi dakwah pun yang menjaga agar syariat islam tetap diterapkan.

Saat syariat Islam dijaga, kebaikannya bukan hanya dirasakan oleh umat muslim saja, tapi juga bagi non-muslim yang berada di dalamnya.

Syariat islam juga memperlihatkan bagaimana baiknya penjagaan terhadap non-muslim dan kesejahteraan yang merata baik muslim maupun non-muslim. Tetapi,  kondisi masyarakat Indonesia sekarang harusnya menjadikan dakwah amat penting di tengah-tengah umat.

Hal ini dapat kita indera dari meningkatnya penggunaan dan pengedaraan norkotika, kasus korupsi yang tidak pernah selesai, masalah seks bebas, hedonism dan lain-lain.

Hanya saja, nampaknya dakwah seakan dikriminalisasi dan dihalang-halangi dengan dalih dakwah membahayakan keutuhan negeri ini. Bahkan aktivisnya pun cenderung menjadi incaran polisi. Sungguh miris rasanya jika dibandingkan dengan fakta umat saat ini yang rusak dimana-mana.

 Disatu sisi syiar Islam yang menyeru manusia kepada kebaikan dibungkam, tetapi korupsi, kolusi, nepotisme, prostitusi, narkoba, seks bebas, kemiskinan dan penistaan agama yang tak pernah terselesaikan di negeri ini dibiarkan.

Hal ini terjadi tidak lain dan tidak bukan karena kurangnya pemahaman atas syariat Islam yang begitu sempurna dalam mengatur seluruh aspek kehidupan dan dibungkamnya dakwah  di tengah-tengah masyarakat. Maka, sangat wajar kasus-kasus seperti Sukmawati akan terus bermunculan tanpa henti.

Dakwah hari ini justru dianggap membahayakan persatuan negeri, padahal pada faktanya dakwah adalah seruan kebaikan kepada masyarakat dan bertujuan untuk menciptakan kebaikan negeri dengan tegaknya syariat Islam yang menjadi rahmat bagi seluruh alam.

Tetapi kebaikan negeri ini tentu tidak akan tercapai tanpa kerjasama semua pihak baik individu, masyarakat maupun pemerintah. Individu haruslah menyadari akan kewajiban berdakwah di tengah-tengah umat selain menuntut ilmu yang juga sama wajibnya.

Masyarakat pun sama pentingnya dalam menjaga agar syariat islam tetap diterapkan dalam kehidupannya dan menjaga agar tak terjadi penyimpangan di dalamnya. Terakhir adalah peran pemerintah selaku pelaksana syariat yang memastikan setiap individu, masyarakat dipastikan paham dan melaksanakan syariat islam.

Sesungguhnya, dakwah islam adalah sesuatu yang sangat vital yang harus terus digelorakan oleh umat Islam karena ini akan membuat masyarakat bisa merasakan keaguangan san kesempurnaan ajaran Islam meski tidak menjadi pemelukanya.

Selain itu, dengan adanya dakwah Islam ini membuat kasus-kasus seperti Sukmawati yang menistakan agama Islam tidak terjadi lagi.

Syariat Islam adalah ciri khas dari umat muslim. Bagaimana kita mengetahui keislaman seseorang jika tak melihat seseorang dalam menjalankan syariat Islam dalam kehidupannya.

Maka dapat dipastikan, muslim yang tak paham bahkan dengan bangga mengatakan tak tahu syariat islam adalah sebuah kecelakaan. Sungguh, Islam adalah pelita penerang dalam hidup setiap umat yang ada di seluruh Alam ini.

Jangan sampai dengan ditiinggalkan dan dihalang-halanginya dakwah di negeri ini, kasus penistaan agama akan terus bermunculan. Bukan tidak mungkin akan bermunculan Ahok dan Sukmawati berikutnya di masa yang akan datang.[MO]


Posting Komentar