Illustrasi

Oleh :Hanifa Ulfa Safarini, S.Pd.

Mediaoposisi.com-Telah berlangsung aksi Women's March di Jakarta pada Sabtu (3/3) pagi dengan mengambil tema 'Perempuan Indonesia Bergerak Bersama: Hentikan Diskriminasi, Kekerasan, Intoleransi, dan Pemiskinan'.dalam memperingati Hari Perempuan Internasional.

Massa mengawali perjalanan dari Sari Pan Pacific, Sarinah. Mereka kemudian menyusuri jalan MH Thamrin,

Dan Medan Merdeka Barat menuju Taman Aspirasi Monas di depan Istana Negara. Aksi bertajuk "Lawan Bersama" itu menyuarakan setidaknya delapan tuntutan utama dan aspirasi yang katanya untuk keberpihakan pada kaum perempuan.

Adapun delapan tuntutan yang akan diusung para peserta aksi yakni,Pertama, negara harus segera mencabut beragam bentuk kebijakan dan peraturan yang diskriminatif baik terhadap perempuan, 

Kedua, hentikan persekusi, diskriminasi, kekerasan, dan pemidanaan terhadap kelompok LGBT, aliran kepercayaan, korban napza, masyarakat adat, kelompok kesenian, serta kelompok marginal lain di masyarakat. 

Ketiga, pemerintah untuk segera menyelesaikan kasus pelanggaran HAM berat masa lalu baik melalui mekanisme yudisial maupun nonyudisial.

Memperkuat UU Nomor 26 tahun 2000 tentang pengadilan HAM. Amandemen UU ini telah masuk dalam daftar Program Legislasi Nasional 2015-2016 dan menolak ketentuan pelanggaran HAM berat dalam RKUHP. 

Keempat, wujudkan segera UU untuk menghapus kekerasan seksual yang berpihak pada korban dan segera sahkan RUU tentang Keadilan dan Kesetaraan Gender (RUU KKG).

Kelima, segera sahkan UU Perlindungan Pekerja Rumah Tangga serta ratifikasi konvensi ILO 189. 

Keenam, wujudkan fasilitas layanan kesehatan, termasuk kesehatan reproduksi yang layak dan bebas diskriminasi pada korban napza, perempuan, kelompok difabel dan kelompok marginal lainnya.

Ketujuh, wujudkan kebebasan hak berorganisasi dan berserikat, jaminan kepastian kerja bagi buruh dan perlindungan terhadap pelaksanaan hak maternitas buruh. 

Kedelapan, wujudkan politik Pemilu dan Pilkada yang bebas dari politik SARA.

Jika kita cermati lagi kedelapan tuntutan yang mereka suarakan diatas tidak semuanya benar-benar hanya untuk menyuarakan hak-hak untuk wanita.

Namun juga terdapat point-point lain yang sangat mengekspose tuntutan liberalis. Mereka justru seperti ingin menyuarakan kebebasan bermaksiat. 

Melihat pada tuntutan kedua saja jelas sekali isi tuntutannya sangat tendensius terhadap pelaku yang sudah jelas seharusnya tidak untuk dibela, melainkan harus ditindak tegas.

Seperti pembelaan untuk kaum LGBT yang jelas menyimpang dalam ajaran Islam, serta perlindungan untuk para pengikut aliran kepercayaan yang sudah jelas adalah aliran sesat yang sepatutnya ditiadakan.

Sekilas peringatan untuk wanita ini seperti menunjukan bahwa para wanita adalah pelaku perbuatan yang tertera di point pertama sehingga mereka merasa perlu menuntut itu semua atau minimal menyetujui hal-hal tersebut. 

Apakah ini yang wanita inginkan?Kehancuran moral dan iman,Juga pada tuntutan-tuntutan lainnya yang bentuknya ingin melindungi wanita dari kekerasan dan pelecehan.

Ini sebenarnya bagus saja kalau kita lihat sekilas untuk dijaman yang semakin sekular ini. Namun ini bukanlah bentuk dari perlindungan yang hakiki untuk wanita.

Karena sejatinya mudah saja untuk melindungi wanita dari kekerasan dan pelecehan yaitu kembalikan saja hukumnya pada Islam, karena Islam punya segala solusi permasalahan hidup.

Kalau untuk menyelesaikan permasalahan wanita jika kita lihat kembali dalam Al-Quran wanita diwajibkan menutup auratnya seperti pada Surat An-Nur.

“Katakanlah kepada orang laki–laki yang beriman, “Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allâh maha mengatahui apa yang mereka perbuat.” Katakanlah kepada wanita yang beriman, “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya.” [an-Nûr/24:31]”

“Wahai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang Mukmin, “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka !” Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. dan Allâh adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” [al-Ahzâb/33:59]”

Maka apabila semua wanita muslim menaati ayat-ayat Allah niscaya wanita akan terlindungi dari bentuk pelecehan seksual.

Karena wanita yang menjaga auratnya maka akan Allah jaga pula dirinya. Apalagi didalam surat An-Nur ayat 31 sangat jelas Allah menyuruh hamba-Nya untuk menjaga pandangan dan kemaluannya, baik pria maupun wanita.

Allah tidak membeda-bedakannya. Dan juga pada surat Al-Ahzab ayat 59, dikatakan “karena itu mereka tidak di ganggu.

Allah sudah memberi tahu, agar tak diganggu, maka tutuplah auratmu. Bukankah sudah sangat jelas Islam sudah mengatur bagaimana cara melindungi perempuan agar terhindar dari berbagai indikasi pelecehan dan kekerasaan seksual.

Kita baru saja membahas satu aspek perlindungan yang diberikan solusinya dari Al-Quran, baru dua surat masing-masing satu ayat saja solusinya sudah nampak jelas, mudah, dan mencapai akarnya untuk satu permasalahan yang untuk saat ini tak kunjung usai.

Selalu saja terjadi dan selalu saja dicari-cari solusinya. Namun tak juga menyelesaikan permasalahan. Tapi hanya dengan merujuk kepada Al-Quran kita dapati pemecah masalahnya. 

Terbayang kah bila kita mengupas semua aspek kehidupan dan solusinya dari Al-Quran akan seperti apa jadinya, ya, yang terjadi adalah rahmatan lil’alamin.

Semua akan merasa betapa Allah sangat peduli pada hamba-Nya memberi solusi kehidupan secara tuntas dan hakiki.

Allah telah kirimkan pedoman hidup untuk manusia dimuka bumi yaitu berupa Al-Quran. Jadi, apakah kita siap untuk merasakan rahmat bagi seluruh alam tak hanya untuk wanita namun seluruh penduduk bumi? Kalua sudah siap maka caranya adalah menerapkan hukum Allah secara keseluruhan.[MO]

Posting Komentar