Ilustrasi
Oleh: Afi
(Anggota Komunitas Masyarakat Tanpa Riba)

Mediaoposisi.com- Bank Indonesia (BI) melaporkan, utang luar negeri (ULN) Indonesia akhir November 2017 tercatat sebesar 347,3 miliar dollar AS atau sekitar Rp 4.636,455 triliun dengan kurs Rp 13.350 per dollar AS. Jumlah tersebut naik 9,1% secara tahunan. (Kompas.com; 16 Januari 2018).

Pernyataan BI di atas menjadi shocking news bagi rakyatnya. Kenaikan utang beserta bunganya tidak mengalami penurunan, justru naik tak terkendali.

Kabar-kabar lainnya, bagaimana wacana pemerintah untuk menutup hutang dengan berhutang lagi. Sungguh kabar itu teramat berat untuk didengar oleh rakyatnya. Diperparah, ULN itu berbunga fantastis. Dan sepertinya, tabiat buruk hutang sudah dialami bangsa ini.

Kecanduan hutang tak bisa dihindari, jumlahnya otomatis semakin bertambah, dan tabiat buruk lainnya.

Pemasukan Negara seakan tak ada sama sekali. Devisa ekspor tak seberapa dibanding meroketnya jumlah hutang dan bunganya. Sumber Daya Alam tak banyak diharapkan, melihat sejauh ini pengelolaan dan kepemilikannya oleh Asing atau swasta.

Beban hutang dilimpahkan pada rakyat dengan besaran nominal sejumlah pajak yang harus ditunaikan, itupun tidak memadai. Maka kelesuan ekonomi terjadi bertahun-tahun. Di tambah resiko terbesar adalah kedaulatan Negara yang tergadaikan.

Belum lagi, hutang dan bunga di tengah-tengah masyarakat menjadi trend kekinian. Marak sekali masyarakat berlomba-lomba membayar cicilan. Mulai dari Pegawai Negeri, pegawai swasta, pengusaha, petani, nelayan,  hingga rakyat biasa, baik tua ataupun muda banyak yang terjerat hutang bunga berbunga. Padahal itu bukan untuk memenuhi kebutuhan pokok hidup. Ada yang untuk modal usaha, rumah, kendaraan, fashion, perhiasan, dll.

Pemahaman Keliru Bunga

Allah SWT jelas menegaskan keharoman Riba dalam surat Al Baqoroh ayat 275 yang artinya "Allah menghalalkan jual beli dan mengharomkan riba." Sejatinya, masyarakat saat ini begitu terbiasa dengan aktivitas riba karena memiliki pemahaman yang salah terkait riba.

Banyak beredar istilah di masyarakat berkenaan dengan riba, yang akhirnya dipahami bahwa itu bukan riba. Seperti interest, bagi hasil, profit sharing, margin, nisbah, biaya adminiatrasi, dsj. Sungguh syariat Islam tidak menghukumi Istilah, melainkan fakta yang akan dihukumi.

Bunga utang oleh mayoritas masyarakat dianggap bukan riba. Padahal jelas itu adalah tambahan (ziyadah) atas utang piutang yang dilaksanakan. Riba terjadi pada dua kondisi:

1. Jual Beli Barang Ribawi

Yakni saat terjadi transaksi jual beli barang ribawi yang disebut dalam hadits (emas, perak, kurma, gandum, jawawut dan garam) haruslah yadan biyadin (cash and carry), mitslan bimitslin (seukuran/sama timbangannya). Jika pertukarannya dari jenis barang ribawi berbeda, boleh tidak mitslan bi mitslin, tapi tetap harus yadan biyadin.

2. Utang Piutang

Sungguh, utang piutang ini masuk ke ranah ta'awun, tolong menolong. Qimah atau nilai yang dicapai tentulah nilai kemanusiaan/sosial. Maka tak pantas ada pandangan, bahwa dalam utang piutang ini harus ada profit berupa tambahan finansial.

Utang piutang di sini, adalah utang piutang uang/alat tukar. Maka tidak boleh ada kelebihan sedikitpun, karena itu adalah riba. Banyak sekali hadits yang memberi peringatan tentang riba. Salah satunya, kita tidak boleh menerima seikat rumput dari orang yang kita pinjami uang. Maka seikat rumput itu adalah ribanya.

Sungguh, syariat Islam menghukumi fakta yang terjadi. Bukan istilah-istilah yang ada. Pemahaman yang keliru tadi menganggap bahwa istilah-istilah seperti interest, bunga, profit sharing, profit margin, biaya denda dsj itu bukan aktivitas Riba. Istilah yang popular di tengah-tengah masyarakat adalah bunga hutang.

Bunga sejatinya adalah riba itu sendiri. Maka sungguh, Riba dengan apapin istilahnya tetap menjadi dosa besar bagi pelakunya. Apakah pemberi hutang, pemakan/penerima hutang, pencatat dan saksinya sabda baginda Nabi "hum sawaun" alias mereka semua sama. Sangat menyesakkan dada mengingat masyarakat masih banyak yang terjerat hutang berbunga/hutang riba, termasuk negeri tercinta ini.

Sebagai anggota masyarakat dan warga negara yang baik, wajib aktif dalam penanggulangan Riba yang merajalela dalam sendi ekonomi bangsa dan masyarakat. Wajib amat makruf nahi mungkar kepada pemerintahan agar berhenti berhutang. Karena kebiasaan berhutang itu nantinya juga akan menghilangkan kedaulatan.

Selain amar makruf, harus ada perjuangan penerapan sistem Islam secara total termasuk sistem Ekonomi Islam yang berasal dari Allah SWT. Berasal dari wahyu bukan buah pikiran manusia. Sehingga, syariat Islam itu akan berperan sebagaimana mestinya.[MO]

Posting Komentar