Para Peserta Kajian Islam
Oleh: Ulfiatul Khomariah

Media Oposisi-“Beri aku seribu orang tua, niscaya akan kucabut Semeru dari akarnya. Beri aku sepuluh orang pemuda, niscaya akan ku guncangkan dunia!Bung Karno.

Perkataan Bung Karno tersebut merupakan gambaran tentang kedahsyatan pemuda sebagai agen perubahan. Tentu saja pemuda yang dimaksud adalah mereka yang berkualitas dan berprestasi.

Sebab upaya melakukan perubahan memang tidak pernah bisa dilepaskan dari karakter kalangan muda. Pemuda adalah tulang punggung peradaban.

Kemajuan dunia sangat erat berkaitan dengan sosok pemuda. Wajar bila kalangan tokoh dunia sangat mementingkan eksistensi pemuda, sebab mereka sadar bahwa potensi yang mereka miliki sangat sanggup mengubah jalan sejarah dunia. 

Secara fitrah, masa muda merupakan jenjang kehidupan manusia yang paling optimal.Dengan kematangan jasmani, perasaan dan akalnya, sangat wajar jika pemuda memiliki potensi yang besar dibandingkan dengan kelompok masyarakat lainnya.

Kepekaan yang tinggi terhadap lingkungan banyak dimiliki pemuda. Pemikiran kritis mereka sangat didambakan umat.Di mata umat dan masyarakat umumnya, mereka adalah agen perubahan jika masyarakat terkungkung oleh tirani kedzaliman dan kebodohan.

Mereka juga motor penggerak kemajuan ketika masyarakat melakukan proses pembangunan. Tongkat estafet peralihan suatu peradaban terletak di pundak mereka.

Baik buruknya nasib umat kelak, bergantung pada kondisi pemuda sekarang ini. Itulah sebabnya, begitu banyak contoh pemuda-mahasiswa yang berjasa menjadi pilar penentu kemajuan suatu peradaban.

Masih ingat dibalik peristiwa 1998? Peristiwa reformasi oleh kaum pemuda yang mampu menggulingkan rezim represif saat itu.

Gerakan 1998 menuntut reformasi dan dihapuskannya “KKN” (korupsi, kolusi dan nepotisme) pada 1997-1998, lewat pendudukan gedung DPR/MPR oleh ribuan mahasiswa, yang akhirnya memaksa Presiden Soeharto melepaskan jabatannya.


Sungguh begitu dahsyatnya potensi yang dimiliki oleh pemuda untuk perubahan dunia. Sehingga wajar ketika melihat permasalahan yang begitu pelik di negeri ini, pemuda mencoba mencari solusi untuk mengatasinya.

Misalkan masalah korupsi, kriminalitas, krisis identitas, kemiskinan, pendidikan tak layak, dan berbagai permasalahan lainnya mendorong kaum pemuda untuk melakukan sebuah perubahan. 

Namun, pergerakan Mahasiswa hari ini telah gagal memahami akar masalah yang sebenarnya hingga akhirnya mereka meraba-raba solusi yang tepat untuk mengatasi problema negeri ini, yakni mengambil solusi melalui demokrasi yang ditawarkan oleh pemerintah.

Sebagaimana lahirnya sebuah partai baru bernama PSI (Partai Solidaritas Indonesia) yang dimotori oleh kaum muda.

Menempa kualitas diri kemudian mencalonkan diri dalam politik demokrasi menjadi jalan perubahan mereka untuk Indonesia yang lebih baik.

Persoalannya disini adalah bukan karena siapa atau berapa umur yang memimpin, namun persoalannya terletak pada sistem demokrasi itu sendiri.

Mengapa permasalahannya adalah demokrasi? Karena pertahanan dan perjuangan dalam demokrasi membutuhkan biaya yang sangat besar.

Tidak mungkin sebuah parpol berdiri di atas kaki sendiri untuk bisa memenangkan pertarungan dalam sistem ini.

Hal ini selaras dengan biaya politik yang terus melangit, sebagaimana yang dijelaskan oleh Pramono Anung (Sekretaris Kabinet RI) dalam bukunya yang berjudul Mahalnya Demokrasi, Memudarkan Ideologi. Ia menjelaskan bahwa paling rendah biaya politik caleg itu Rp 300 juta sampai Rp 400 juta, pengurus partai bisa menghabiskan Rp 800 juta sampai Rp 1 miliar, TNI/Polri menghabiskan Rp 800 juta sampai 1,2 miliar, pengusaha sampai Rp 1,5 miliar sampai Rp 6 miliar, dan di luar itu ada yang menghabiskan Rp 22 miliar.

Bukan rahasia umum lagi jika para paslon yang akan berlaga didukung oleh para pengusaha untuk menyokong biaya demi pemenangan paslon. Tentu hal ini tidak diperoleh dengan percuma. Oleh karenanya terbentuklah simbisiosis mutualisme dengan hadirnya proyek pembangunan.

Keberadaan politik praktis telah melahirkan raja-raja kecil yang terus menggigit rakyat. Demokrasi tidak akan pernah membawa negeri ini menuju perubahan yang lebih baik.

Terdapat beberapa kesalahan paradigma politik dalam demokrasi yakni, pertama motif kekuasaan. Hal itu terwujud karena dalam demokrasi diajarkan intrik politik untuk meraih kekuasaan. Ketika sudah di kursi kekuasaan akan terjadi kongkalikong antara penguasa dan pengusaha. Karena pengusaha turut berperan menyukseskan pemenangan pilkada.

Motif kedua yakni untuk memperkaya diri. Hal lumrah dari sebuah pencapaian usaha menjadi penguasa. Kursi kekuasaan sangat erat dengan kekayaan. Maka tak ayal kasus korupsi sering hinggap pada penguasa dan anak buahnya.

Motif selanjutnya yaitu pencitraan. Selama ini rakyat yang memilih belum kenal dekat dengan pemimpinnya. Maka bisa dipastikan untuk meraih kekuasaan pemimpin akan menampilkan pencitraan dirinya. Pencitraan dirinya didukung dengan berbagai hal. Adakalanya melalui iklan, kegiatan amal sosial, dan aksi nyata kepada rakyat.

Hal ini dilakukan sesungguhnya untuk meraih simpati. Akibatnya ketika jadi pemimpin mereka sibuk melakukan pencitraan jika tersandung kasus. Pencitraan yang dibangun begitu positif seolah-oleh tidak ada cacat dalam memimpin. Tentu motif ini sangat berbahaya.

Jika demikian maka kesalahan paradigma berpolitik seperti ini sangat fatal. Fokus mereka bukan pada mengurusi rakyat. Rakyat hanya dijadikan batu loncatan dengan pemberian janji. Rakyat kadang merasa dikibuli.

Akibatnya rakyat makin apatis dan tak mau tahu siapa yang akan memimpin nanti. Maka tidak layak demokrasi dijadikan sebagai sistem hidup. Butuh sebuah perubahan yang mendasar. Yakni sistem yang berasal dari sang Pencipta. Itulah sistem Islam.

Oleh karena itu tidak ada pilihan lain bagi para pemuda untuk mewujudkan perubahan selain mengambil Islam sebagai jalan perjuangan yang hakiki dan solusi dari semua permasalahan yang bercokol di negeri ini. Segera campakkan demokrasi! Kini saatnya pemuda berdiri di garda terdepan dalam meraih perubahan yang hakiki. Mari guncangkan dunia! Salam perubahan! [MO]

Posting Komentar