Demokrasi
Oleh: Nasrudin Joha

Mediaoposisi.com- Nyanyian Novanto, adalah paduan seriosa yang suaranya melengking, paling nyaring, paling bikin pusing, pening-pening-pening, yang membuat banyak pihak panas dingin. Belum lama ini, Tuan Puteri berdeklamasi, pasti suaranya menentang nyanyian Novanto. Hanya saja, ekspresi tuan putri kurang full.

Coba saja tuan putri membuat lakon nangis bawang bombay, persis seperti Hasto yang menangisi Bupati Anas yang gagal Ikut Pilkada Jatim, tentulah suasananya lebih mengharu biru.

Deklamasinya kering, tanpa penghayatan, minim penjiwaan. Syair yang dilantunkan juga sajak-sajak lama yang mengulang. Weleh, air mengalir damai jauh, e KTP meluap ke seantero penjuru negeri. Nampaknya, sajak Gesang lebih dipercaya publik ketimbang pengakuan si Putri yang mengklaim kehilangan sepatu kaca.

Beda tuan putri beda Mas Pram. Meski dengan suara tenang, namun Mas Pram tegas mengancam. Mas Pram mau memperkarakan Papah, Klo mau ilang malu memang harus nyolot dulu. Meski kemudian baru disadari, Novanto itu terdakwa bukan saksi. Sehingga, keterangan Novanto tidak bisa diperkarakan sebagai memberi keterangan palsu yg bisa dipermasalahkan.

Secara hukum mudah saja merunutnya, konfrontir saja pihak-pihak terkait jika masih ragu atau menganggap pernyataan Novanto testimoni de auditu. KPK yang paling punya wewenang mengenai hal ini.

Tetapi tentu saja, jika seriosa ini dilanjutkan pada tahapan nada "KONFRONTASI", maka suara pihak-pihak yang dikonfrontasi justru akan menambah riuh dan bikin gaduh. Ini yang tidak diinginkan politisi yang terlibat e KTP.

Yasona dan Ganjar nampaknya cukup bijak, tidak terlalu melawan arus opini. Masalahnya, dibenak publik itu sudah muncul satu kesimpulan: semua garong yang terlibat jasa e KTP tidak mungkin jujur. Mana ada maling ngaku maling ?

Psikologi publik ini seharusnya dibaca oleh politisi yang tersandung e KTP. Jika tidak mampu meredam masalah, jangan memberi megaphohe pada masalah. Masalahnya, suara kecil di persidangan e KTP itu otomatis menjadi gaung dan gema di seluruh penjuru negeri.

Betapa tidak ? Sampai hari ini masih ada jutaan rakyat yang kecewa dan marah karena belum memiliki e KTP. Padahal, muncul isu maraknya KTP ilegal untuk pendatang ilegal. Para pemegang Suket (Surat Keterangan) pengganti e KTP juga masih memendam amarah, gara-gara kasus e KTP bukti identitas yang seharusnya bisa ditaruh dompet menjadi lebar seukuran folio.

Jika membutuhkan layanan administrasi dan layanan publik, Suket segede gaban ini perlu diboyong kemana-mana. Setiap melihat ukuran Suket yang gede, langsung saja benak pemegangnya teringat mega kasus korupsi e KTP.

Kebayang muka para pejabat dan penyelenggara negara, yang sibuk membagi jatah triliunan kepada kolega, hingga pecahan miliaran. Padahal, rakyat untuk mengais seperak dua perak harus berkeringat dan membanting tulang.

Mafioso e ketipu, hanya sibuk kongko dan lobi-lobi sambil tertawa cekikikan. Ini sungguh terlalu, betul kata Bung Rhoma, INI SUNGGUH TERLALU ! TERLALU ANI !

MasyaAllah, inilah wajah asli demokrasi. Wajahnya rusak, bopeng, penuh tipu daya dan intrik. Sulit sekali, menemui pemimpin sekelas Abu Bakar Asy Sidiq, Umar Bin Khatab, Ali Bin Abi Thalib, jika sistem pemerintahan yang digunakan masih menggunakan demokrasi.

Demokrasi telah memaksa siapapun yang terlibat didalamnya, untuk menjadi musang berbulu domba, menampakan seribu wajah untuk seribu kepentingan.

Ditahun politik ini, wajah-wajah politisi seragam menggunakan kostum merakyat, ramah, taat, berpeci dan berkerudung, mendekat masjid dan mushola.

Jika kekuasaan sudah diraih, niscaya wajah mafioso akan kembali mendominasi. Semua sibuk mencari lahan, cari proyek, cari fee, mengumpulkan seonggok sampah dunia untuk menuntaskan hasyrat durjana. Korupsi, adalah karakter baku sistem demokrasi.

Kembali ke tuan Puteri, wahai tuan putri nampaknya untuk yang kali ini tuan Puteri sulit untuk menghindari. Vonis pengadilan memang bisa dikesampingkan, tetapi vonis publik tentunya lebih menyakitkan. Semoga diberi kesabaran dan keikhlasan. Mungkin saja ada saat untuk NGUNDUH UWOHING PAKERTI. [MO].

Posting Komentar