Oleh : Lita Lestiani
(Aktivis komunitas Ibu Hebat & Anggota Revowriter)

Mediaoposisi.com- Berbicara politik yang ada dalam benak masyarakat kita saat ini adalah kekuasaan, legislasi dan kontribusi dalam memilih pemimpin saja.  Bahkan ungkapan " Politik itu keras, kotor dan kejam" tidak asing di telinga.
 
Ini adalah konsekuensi yang lahir karena negara menganut faham demokrasi kapitalis dimana agama tidak diberi ruang dalam mengatur urusan kehidupan. Agama hanya sebatas ritual penghambaan,  hubungan antara  Tuhan dan pribadi manusia itu sendiri.

Hilangnya peran agama mengakibatkan  ihwal pengaturan masyarakat sering terabaikan karena banyak oknum politikusnya hanya memikirkan jabatan dan eksistensi kekuasaan demi kepentinganya sendiri.

Tetapi kesan negatif dari politik demokrasi tak lantas membuat orang enggan terjun di dalamnya. Bukan rahasia kursi kekuasaan  bisa menjadi sarana untuk memuluskan tujuan dengan berbagai kepentingan. Maka tak pelak jabatan dan kekuasaan menjadi magnet yang kuat hingga posisi ini tak pernah sepi peminat.

Daya tarik kekuasaan jugalah yang membuat kaum wanita, atas nama emansipasi berlomba-lomba masuk dalam kancah perpolitikan. Memegang kewenangan dianggap bisa menjadi solusi dari segala persoalan yang membelit kaum perempuan. Dengan kekuasaanlah segala kepentingan perempuan tidak akan terabaikan, begitulah kaum feminis memandang.

Tetapi faktanya kontribusi kaum hawa memegang tampuk kekuasaan tak menjamin segala permasalahan teratasi. Kasus-kasus kekerasan,  penganiayaan, pelecehan,perceraian dll justru semakin meningkat. Ini bisa terjadi karena akar permasalahan yang sebenarnya adalah tidak diterapkannya aturan Islam secara Kaffah , bukan karena siapa yang berkuasa.

Makna politik sendiri sejatinya tidak sebatas kekuasaan, legislasi dan pemilu saja . Menurut teori klasik Aristoteles politik adalah usaha yang ditempuh warga negara untuk mewujudkan kebaikan bersama. (Wikipedia Indonesia).

Dan ini selaras dengan definisi politik dalam Islam , menurut Syaikh Qadim Zallum dalam bukunya,  Al-Afkar as-siyasiy menegaskan bahwa politik atau as-siyasah adalah mengatur urusan umat , dengan negara sebagai institusi yang mengatur urusan tersebut secara praktis, sedangkan umat mengoreksi (melakukan muhasabah)  terhadap pemerintah dalam melakukan tugasnya.

Jika demikian untuk mengatur seluruh urusannya (sebagai individu, masyarakat atau negara) rakyat harus memahami strategi pengaturan  urusan yang benar agar mendatangkan kemaslahatan. Laki-laki dan perempuan merupakan bagian dari masyarakat yang tidak terpisahkan,  karenanya memahami strategi pengurusan (politik) yang benar merupakan kewajiban bagi keduanya.

Muslimah berpolitik
Allah SWT tidak membedakan kedudukan laki-laki dan perempuan di hadapan-Nya kecuali berdasarkan ketaqwaannya, tetapi ini bukan berarti sama dan setara dalam segala hal . Laki-laki dan perempuan berperan sesuai dengan fitrah yang telah Allah tetapkan.

Masing-masing diberikan hak istimewa , laki-laki menjadi imam di keluarganya ataupun pemimpin di masyarakat sedangkan perempuan menjadi ibu yang melahirkan, menyusui dan mengasuh anak.

Sebagai agama yang sempurna Islam telah mengatur dengan baik bagaimana seorang muslimah beraktivitas termasuk dalam bidang politik, kegiatan politik boleh dilakukan tetapi tetap dalam koridor syariat.

Suara muslimah juga diakui untuk berperan mengatasi masalah yang terjadi di masyarakat.tetapi bukan sebagai “ Pembuat Kebijakan” hanya memberikan pertimbangan bagi pembuat kebijakan.

Dan ini bukan bentuk driskrimanasi politik, karena Ibulah yang memikul beban di pundaknya sebagai pencetak generasi peradaban, hal kekuasaan dibebankan kepada laki-laki  untuk menjamin  perempuan fokus dalam perannya sebagai ibu dan pengatur rumah tangga.

Jika aturan islam diterapkan,  syariatlah yang memegang kedaulatan tertinggi. Seorang pemimpin dalam mengambil setiap keputusan harus di dasarkan pada ketentuan Allah dan Rasul-Nya,  bukan atas dasar keinginan sekelompok orang , partai atau golongan. Maka ketika syariat yang berdaulat, sekalipun laki-laki yang mengambil kebijakan jika terikat dengan hukum syara kepentingan perempuan tidak akan terabaikan.

Al ummi madrasatul ula " ibu adalah sekolah  utama bila engkau mempersiapkannya maka engkau telah mempersiapkan generasi terbaik. " dari seorang ibu anak belajar hal-hal baru dalam kehidupannya. Ibu adalah sumber pengetahuan terbaik bagi anak. Lahirnya generasi berkualitas sangat tergantung bagaimana seorang ibu mempersiapkannya.

Ini adalah zaman dimana pemikiran Islam mulai terasingkan, tsaqofah asing merajalela maka seorang muslimah (ibu) harus berwawasan luas (politik) dan peka mengenai hal-hal yang terjadi di sekitarnya agar dapat membentengi anak dari faham-faham yang tidak sejalan dengan pemikiran Islam.
 
Ibu dengan kesadaran politik Islam yang baik berpeluang lebih besar mencetak generasi cemerlang ataupun politisi handal dengan kepribadian (Islam)  yang unggul. Maka seorang ibu dengan wawasan politik islam yang mumpuni akan mampu menyiapkan generasi terbaik yang akan menjadi pembela dan pejuang Islam di masa depan.[MO]

Posting Komentar