Oleh : Ilma Kurnia . P 
(Mahasiswa)

Mediaoposisi.com- Beberapa hari yang lalu media digemparkan dengan adanya kasus penyerangan para ulama dilakukan oleh orang gila yang mengakibatkan banyak korban. Tak hanya itu, ternyata orang gila ini juga melakukan penyerangan terhadap ustadz, masjid dan pesantren diberbagai wilayah.

Kasus pertama menimpa Pimpinan Pesantren Al-Hidayah Cicalengka, Kabupaten Bandung, yakni KH. Umar Basri yang menjadi korban penganiayaan usai menjalankan sholat subuh di masjid pada Sabtu 27 Januari, Polisi lalu menangkap pelaku penganiayaan yang kemudian dilakukan introgasi di kantor kepolisian dan pelaku dinyatakan mengalami ganguan kejiwaan.

Dikutip dari republika.co.id, Kamis (1/2) muncul kasus lain yang menimpa Komando Brigade PP Persis, Ustadz Prawoto yang sempat menjalani perawatan dirumah sakit hingga akhirnya meningga dunia akibat dianiaya oleh seorang pria yang tak dikenal .

Di Jawa Timur dua pengasuh Pondok Pesantren Al-Falah, Ploso, Kediri, KH. Zainuddin Jazuli dan KH.Nurul Huda Jazuli, didatangi oleh orang tak dikenal dengan membawa pisau sambil berteriak-teria. Pelaku kemudian diamankan oleh Polres Kediri untuk diintrogasi. (JawaPos, 20/2018).

Masih banyak lagi kasus lainnya silih berganti dengan modus yang sama melakukan penyerangan terhadap Ulama, Ustadz, atau melakukan perusakan masjid, dan anehnya pelaku yang tertangkap ketika ditanya atau dilakukan introgasi oleh pihak polisi dinyatakan mengalami gangguan kejiwaan atau gila.

Sungguh kejadian ini sangatlah langka, karena orang gila yang menjadi tersangka hanya mengincar para ulama atau tokoh dan pemuka agama disetiap daerah. Tak jarang juga ada yang tertangkap dengan membawa selebaran kertas yang bertuliskan daftar nama para pemuka agama di daerah. Kejadian ini merupakan salah satu bentuk teror yang membuat masyarakat atau orang yang merima tanda-tanda pengncaran menjadi tidak nyaman dan terganggu.

Teror yang ditemukan seperti adanya tanda silang disekitar rumah, atau ada orang yang mondar mandir di depan rumah dengan pakaian compang camping, bahkan ada yang sampai membawa senjata tajam kemudian berteriak-teriak.

Pelaku Settingan?
Dari berbagai kasus tentu menimbulkan berbagai pertanyaan, mengapa kebanyakan tersangka yang ditangkap mengalami gangguan jiwa. Seharusnya berbagai kasus tersebut harus ditangani oleh pihak berwenang aparat negara secara serius, seksama dan transparan. Karena adanya banyak tuntutan dari masyarakat bermunculan diantaranya dari 300 ulama dari perwakilan Pondok Pesantren Priangan Timur yang mengatas namakan Forum Masyarakat Peduli Situasi (FMPS) yang menghadiri rapat di Ponpes An-Nur Jarnauziyyah, Rabu (14/2).

Forum tersebut mencurigai adanyanya rekayasa pada kasus serangan yang dilakukan oleh orang gila. Kejadian ini bagaikan jamur yang muncul dimusim penghujan, karena diberbagai tempat dan daerah hampir sama pelaku penyerangan adalah orang gila. Selain itu, adanya pernyataan dari pihak kepolisian yang langsung menyimpulkan dan memberikan pengakuan bahwa pelaku penyerangan mengalami gangguan kejiwaan.

Dilansir dari Republika.co.id, pernyataan ini menimbulkan kritikan keras, Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia Danardi Sosrosumihardjo menyatakan bahwa penyebutan pelaku penyerangan sebagai penyandang gangguan jiwa atau orang gila terlalu cepat. Untuk mengatakan hal itu perlu dilakukan pembuktian melalui diagnosis dokter.

“Itu rasanya perlu dikoreksi menurut saya” kata dokter  Danardi.

Pentingnya Menjaga Rasa Aman
Dari berbagai kasus ini hendaknya Negara amatlah berperan untuk menjaga keamanan dan kesejahteraan rakyat. Karena tanpa adanya rasa aman jiwa seseorang akan terancam. Terlebih yang diserang adalah para Ulama dan pemuka agama.

Dimana para Ulama dan pemuka agama sangatlah berperan dalam menjalankan amanah dan fungsinya sebagai penerang dan penunjuk umat kejalan Islam. Akan tetapi disisi lain mereka harus menghadapi teror yang begitu besar hingga mengakibatkan meninggal dunia.

Di dalam Islam Allah melarang berbuat keji termasuk membunuh, Allah berfirman yang artinya :

“Dan tidak layak bagi seorang mu'min membunuh seorang mu'min (yang lain), kecuali karena tersalah (tidak sengaja), dan barangsiapa membunuh seorang mu'min karena tersalah (hendaklah) ia memerdekakan seorang hamba sahaya yang beriman serta membayar diat yang diserahkan kepada keluarganya (si terbunuh itu), kecuali jika mereka (keluarga terbunuh) bersedekah. Jika ia (si terbunuh) dari kaum (kafir) yang ada perjanjian (damai) antara mereka dengan kamu, maka (hendaklah si pembunuh) membayar diat yang diserahkan kepada keluarganya (si terbunuh) serta memerdekakan hamba sahaya yang beriman. Barangsiapa yang tidak memperolehnya, maka hendaklah ia (si pembunuh) berpuasa dua bulan berturut-turut untuk penerimaan taubat dari pada Allah. Dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana”

“Dan barangsiapa yang membunuh seorang mu'min dengan sengaja maka balasannya ialah Jahannam, kekal ia di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan mengutukinya serta menyediakan azab yang besar baginya” (QS. An-Nisa : 92-93)

Para ulama adalah penyampai petunjuk dan hujjah Allah dimuka Bumi. Yang menunjukkan kebenaran dan menuntun ke jalan yang lurus. Jika ulama ini hilang maka hilanglah penerang kebaikan di tengah umat.

Untuk itu hendaknya kita menjaga dan melindungi para ulama, terutama para pemimpin Negara hendaknya memberikan rasa aman, menjaga dan haram memusui mereka, seperti Sabda Rosulullah SAW yang artinya :
“Siapa saja yang memusuhi waliku maka Aku memaklumkan perang kepada dirinya”. (HR. Al Bukhari). [MO]

Posting Komentar