Ilustrasi

Oleh: Siti Rahmah

Mediaoposisi.com- Dalam rangka memperingati hari perempuan International atau di kenal dengan istilah women's march yang jatuh pada tanggal 8 maret 2018 Komunitas pena dan lensa (Kopel) mengelar beragam acara yang di pusatkan di kampus Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Wibawa Karta Raharja (STIE Wikara) Sabtu (10/3), di lanjutkan dengan deklarasi anti Kekerasan terhadap perempuan, Minggu (11/3).

Agenda serupa banyak di lakukan oleh kaum perempuan terutama mereka yang tergabung dalam gerakan feminisme atau bahkan penggiatnya. Kaum feminisme adalah sekelompok perempuan yang memperjuangkan kesetaraan gender.

Mereka menuding banyaknya kasus yang menimpa kaum perempuan diakibatkan lemahnya perlindungan untuk perempuan, sempitnya kesempatan perempuan untuk bergerak di ruang publik dan peran perempuan yang tidak maksimal mengakibatkan mereka tidak bisa menikmati kesejahteraan.

Tudingan - tudingan miring yang sengaja di lontarkan oleh kaum feminis tak elak membuat para perempuan merasa terdorong untuk membela haknya, mereka merasa perlu untuk ikut memperjuangkan kebebasannya untuk memperoleh haknya.

Sehingga arus kampanye terus dilakukan secara massif sehingga lancar bak gayung bersambut apa yang kaum peminis suarakan pun di sambut oleh para perempuan yang merasa tertindas dengan keadaan.

Akar Masalah Yang Menjerat Perempuan

Pada dasarnya apa yang menimpa kaum perempuan saat ini memang sungguh memiriskan hati, betapa tidak kasus demi kasus melanda kaum perempuan dan seolah tak ada yang peduli dengan kondisinya sehingga semua berlalu tanpa ada penyelesaian.

Hanya saja apa yang di gaungkan oleh kaum feminis dengan realita yang terjadi sungguh sangat jauh. Solusi yang mereka usung pada dasarnya itulah sumber masalah yang sesungguhnya.

Mereka berteriak - teriak meminta kebebasan untuk kaum perempuan sehingga bisa di sederajatkan dengan kaum laki - laki dalam segala bidang, tentu saja ini awal permasalahan yang sesungguhnya. Betapa tidak banyak masalah muncul dan berawal pada saat perempuan tidak memahami kodratnya, tidak memahami fungsinya dan tidak memahami hak dan kewajibannya.

Penggiringan kaum perempuan ke ranah publik secara bebas tanpa aturan yang menjadi acuan membuat kaum perempuan seperti melepaskan mereka diarena tanding, mereka harus mengeluarkan segenap kemampuan demi mendapatkan tempat dan menang dalam persaingin meski harus melanggar rambu - rambu dan berimbas melukainya. Itulah dampak logis yang harus di terima kaum perempuan ketika mereka termakan rayuan feminis bertarung di segala lini dengan laki - laki.

Dampak logis lainnya perempuan akhirnya di jadikan komoditas utama sebagai pemuas syahwat liar laki - laki dalam segala bidang.

Ketimpangan Peran

Pada dasarnya Islam telah memberikan pengaturan peran anatara laki - laki dan perempuan yang harmonis. Hanya saja ketimpangan peran akan menimbulkan masalah di keluarga, sebagai institusi pertahanan dan keamanan pertama.

Ketika seorang Istri tidak menjalankan perannya sebagi Istri bagi suaminya dan ibu bagi anak-anaknya maka kebahagian pertama lepas, kenyamanan terusik, keamanan pun tidak terjaga. Karena tidak di pungkiri sentralnya peran istri di dalam rumah tangga menjadikan hidup tidaknya sebuah rumah, memiliki corak tidaknya sebuah rumah dan penentuan bagi arah perjalanan biduk rumah tangga itu semua ada di tangan istri.

Islam telah menggariskan  الرجل قو من على النسا   laki lakilah sebagai pemimpin rumah tangga tapi Islam pun telah menempatkan kaum perempuan di tempat yang begitu agung dan tinggi yaitu sebagai pengatur rumah tangga. Sehingga di tangan Istrilah keberlangsungan berjalannya semua fungsi.

Dengan tugas pengaturannya Istri memiliki peran besar bagi kenyamanan dan kebahagian suaminya, begitupun istri memiliki peran agar semua berjalan sesuai dengan yang seharusnya, suami bisa menjalankan kewajibannya dan mendapatkan haknya begitupun dengan anak - anak, yang menjadikan terjaminnya semua kebutuhan anak, baik dari sisi pendidikan, asupan gizi dan seputar tumbuh kembangnya, semuanya itu tergantung perannya perempuan.

Ketika perempuan mampu memainkan peran strategisnya maka tujuan dari rumah tangga akan tercapai. Disinilah di uji kredibilitas perempuan, bukan untuk bersaing apalagi melebihi laki - laki, tapi kemampuan itu dia gunakan untuk menjalankan kewajiban - kewajibannya.

Perempuan di Simpang Jalan

Feminis selalu menjanjikan kebahagiaan itu di dapat ketika mereka bisa sejajar dengan kaum laki - laki. Merekapun berharap perlindungan di dapatkan ketika hak dan kewajiban mereka sama. Namun perlu kiranya kita flashback pada sejarah, apa yang mereka gaungkan pada dasarnya mereka sedang mengulang sejarah kelam kaum perempuan.

Betapa tidak sejarah di berbagai dunia bahkan peradaban entah itu di wilayah Barat ataupun Timur tidak ada yang mampu mengangkat derajat perempuan apalagi perlindungan dan jaminan bahagia, selain Islam.

Sejarah mengenal bagaimana posisi perempuam di anggap sebagai makluk yang tidak di inginkan oleh masyarakat arab jahiliyah. Sedangkan Islam hadir dengan segala keagungannya dan perlindungannya yang mampu menjadikan perempuan berada di posisi mulia dengan perannya.

Secara fitrah tidak di pungkiri seorang perempuan dengan segala keterbatasannya membutuhkan perlindungan dan Islam memberikan itu. kewajiban berpakaian, perwalian dan ketundukan terhadap suami merupakan bentuk penjagaan yang di berikan Islam yang akan menjamin terlindunginya para perempuan. Baik terlindungi secara fisik maupun kehormatan.

Begitupun dengan perannya yang di berikan sebagai ummun wa rabbah al bait menjadikan perempuan mampu mewujudkan kebahagiannya sebagai ibu bagi anak - anaknya dan juga pengatur dalam urusan rumah tangganya. Semua peran ini ketika di jalankan dengan baik maka akan menjadi sumber dari kebahagiannya. Perempuan mana yang tidak merindukan kehidupan rumah tangga yang nyaman dan bahagia?

Dan itu hanya bisa tercipta ketika semua peran di tempatkan pada posisnya bukan dengan beralih peran yang hanya akan menimbulkan kerusakan dan ketidak nyamanan.[MO]




Posting Komentar