Oleh : Isna R. Retnaningsih, SST, MPH

(Anggota HELPS-Sharia, Peminat Kesehatan Ibu dan Anak)


Mediaoposisi.com- Dalam ilmu tumbuh kembang anak, dikenal istilah Early Child Development atau perkembangan anak sejak dini. Hal ini merupakan kunci utama untuk masa depan anak.

Dari masa inilah fase kritis dari perkembangan anak dibentuk, sangat berharga dan tak akan terulang. UNICEF menilai bahwa pemenuhan nutrisi adalah salah satu aspek penting untuk perkembangan anak yang optimal.

Menyadari hal ini, tak heran jika para orang tua saat ini berlomba-lomba memberikan nutrisi terbaik untuk anaknya. Sedari bayi mereka diberikan ASI Eksklusif, Makanan pendamping ASI yang terbaik, hingga usia balita dan menginjak Usia Sekolah tak jarang lidah anak-anak dimanjakan dengan makanan-makanan kesukaan. Betapa beruntungnya anak-anak kita yang bisa dimanja dengan nutrisi terbaik itu.

Namun tidak demikian yang dirasakan oleh anak-anak Ghouta, Suriah. Akibat krisis di wilayah Ghouta Timur sejak 2013, akses pangan ditutup, penyerangan bom setiap hari, dan Pelayanan Kesehatan pun dihabisi oleh Rezim Laknatullah, Bashar Assad dan Rusia.

Anak-anak sulit mendapatkan makanan. Jangankan memberikan nutrisi terbaik untuk perkembangannya. Para ibu di Ghouta bahkan tak bisa memberikan secuil pun roti kering untuk anaknya bertahan hidup.

Baru baru ini dalam kampanye global oleh ‘Women and Syariah’ dengan tajuk “Who will defend the children of Ghouta?” menampilkan sebuah video yang memilukan. Di video itu digambarkan bagaimana seorang ibu menangis berteriak histeris sembari berkata,

“Saya menunggu anak saya meninggal! Setidaknya dia dapat terbebas dari rasa sakitnya jika dia meninggal. Dan setidaknya di surga terdapat makanan!”

Sungguh menyayat hati. Naluri seorang ibu yang sangat menyayangi anaknya. Karena tak sanggup melihat anaknya menderita di “neraka dunia”, ibu ini lebih berharap anaknya –yang kondisinya sekarat- untuk mati saja. Karena di surga, anaknya lebih terjamin dan memperoleh makanan. MasyaaAllah! Begitu menderitanya kondisi anak-anak Ghouta.

Mereka dihadapkan pada dua pilihan

Pertama, terkena hujan bom dan mereguk nutrisi beracun dari gas sarin (senjata kimia yang menyasar pusat syaraf) kemudian mati perlahan dengan merasa kesakitan luar biasa.

Atau, kedua, mereka tetap hidup dalam ketakutan di lubang-lubang bawah tanah sambil menanti giliran mati kelaparan.

Sungguh jika dunia memandang, ini adalah sebuah penderitaan paling mengerikan untuk anak-anak. Mereka mati sia-sia bak boneka mainan manusia. Mereka tak mendapatkan hak pemenuhan nutrisi sama seperti anak-anak di luar Ghouta. Kelaparan, Malnutrisi, dan gangguan perkembangan telah menemani mereka selama kurun waktu 5 tahun terakhir ini.

Melalui rangkuman kantor berita Internasional Turki (www.trtworld.com), dilaporkan malnutrisi menjadi penyebab 50% kematian bayi dan anak di Ghouta Timur. Hal ini disebabkan karena sangat langkanya makanan dan akses pertolongan yang sulit menuju area ini.

Nutrisi dari Surga

Jika anak-anak di luar Ghouta dengan mudahnya memilih makanan terbaik di dunia untuk pemenuhan nutrisinya, anak-anak Ghouta pun sama. Bahkan mereka jauh lebih beruntung daripada anak-anak di Negeri Maju berkecukupan sekalipun.

Mengapa?

Karena Allah yang memenuhi nutrisi mereka dari surga dengan cuma-cuma. Anak anak surga itu dapat memilih buah-buahan terbaik dari taman-taman surga, susu terlezat yang tak pernah ada di dunia, menghapus tangis dengan tawa bahagia. Mereka tumbuh dengan pemeliharaan terbaik dari Sang Maha Adil.

Memang benar jika kita memakai kacamata dunia, melihat kondisi anak-anak Ghouta sungguh menyedihkan. Mereka lahir, hidup dan bertahan hidup dalam ketakutan di bayang bayang penyerangan tiap harinya. Mereka kedinginan, kelaparan dan tak bisa tumbuh berkembang selayaknya anak di luar Ghouta.

Berbeda dari kacamata dunia, para ibu dan penduduk sipil Suriah memandang ini adalah hal yang membahagiakan. Pandangan mata mereka yang masih jernih menilai : lebih mulia mereka mati sahid daripada harus tunduk, kompromi dengan rezim munafik.

 Sejak 2011, tak sedikitpun mereka mau berkompromi dengan rezim Al-Assad yang berlindung di balik ketiak Kapitalis Kafir Barat.

Para ibu dari anak-anak Suriah tetap bertahan bahkan ada yang mengangkat senjata memerangi kekejaman rezim tirani. Para ibu di sana melihat surga lebih dekat di depan mata mereka ketika pembantaian ini terjadi. Kelaparan dan penderitaan, mereka yakini hanyalah sebentar saja.

Sungguh tercium wangi surga di balik bau mayat yang menyengat.

Sungguh ada kegembiraan kekal di balik kesedihan kelaparan sesaat

Dan sungguh ada jiwa-jiwa yang hidup di balik kematian yang menyayat

Maka, benarlah Allah dalam firmannya :



وَلاَ تَحْسَبَنَّ الَّذِينَ قُتِلُواْ فِي سَبِيلِ اللّهِ أَمْوَاتاً بَلْ أَحْيَاء عِندَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُونَ فَرِحِينَ بِمَا آتَاهُمُ اللّهُ مِن فَضْلِهِ وَيَسْتَبْشِرُونَ بِالَّذِينَ لَمْ يَلْحَقُواْ بِهِم مِّنْ خَلْفِهِمْ أَلاَّ خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلاَ هُمْ يَحْزَنُونَ

“Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup disisi Tuhannya dengan mendapat rezki. Mereka dalam keadaan gembira disebabkan karunia Allah yang diberikan-Nya kepada mereka, dan mereka bergirang hati terhadap orang-orang yang masih tinggal di belakang yang belum menyusul mereka , bahwa tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (Qs. Ali Imron: 169-171)

Dalam ayat ini, Allah gambarkan kegembiraan para syuhada yang menghuni surga. Kegembiraan ini pulalah yang –insyaaAllah- didapatkan oleh anak-anak Ghouta karena mati membela Islam.

Meskipun surga sangat dekat dengan anak-anak Ghouta yang mati syahid, namun bolehkah Para pemimpin Negeri Muslim tinggal diam membiarkan Neraka dunia itu ada?

Jawabannya adalah : tidak!

Penyebab krisis di Suriah adalah ketiadaan pelindung hakiki. Pelindung yang hanya takut pada Allah ‘azza wa jalla. Bualan resolusi, kecaman ataupun bantuan kemanusiaan tak akan menuntaskan masalah Suriah.

Sudah seharusnya para pemimpin negeri-negeri Muslim mengerahkan pasukan militer terbaiknya untuk melawan Assad dan para sekutunya. Bukan sebaliknya, justru diam saja atau bahkan mendukung penyerangan rakyat Suriah. Namun sejauh ini, tak satu pun pemimpin Negeri-negeri Muslim bergeming untuk sekedar mengirimkan senjata atau tentara ke Suriah.

Mereka lebih sibuk dan asyik menikmati empuknya kursi kekuasaan semunya, jatuh dalam buaian racun nasionalisme dan lalai akan hadist Rasul, tentang sesama Umat Islam adalah satu tubuh.

Khalifah dengan menerapkan Islam kaffah : Hadirkan Nutrisi terbaik dan menghapus neraka bagi anak-anak Ghouta

Pelindung hakiki seluruh umat Islam yang gagah berani, hanyalah seorang khalifah. Dialah (dengan menerapkan islam secara kaffaah) akan menjadi perisai, menghapus semua derita umat dan menghadirkan nutrisi terbaik bagi anak-anak Ghouta. Karena hanya dengan menerapkan Islam kaffah, Allah janjikan rahmat bagi seluruh alam.[MO]

Posting Komentar