ilustrasi
Oleh :Winda Sari 
(Mahasiswi Universitas Jember)

Mediaoposisi.com- Mahalnya pendidikan menjadikan orang kelas bawah tidak bisa menikmati manisnya dunia pendidikan. Banyak orang tua yang memutuskan untuk tidak menyekolahkan anaknya karena terhambat oleh biaya, sehingga lebih memilih untuk bekerja, mencari uang untuk menyambung hidup.

Pendidikan yang tak lepas dari komponen ekonomi

Ekonomi menjadi bagian penting dari sebuah institusi, termasuk Negara di dalamnya. Negara bertanggung jawab dalam menangani masalah perekonomian. Akan tetapi, perekonomian sekarang tidak bisa lepas dengan yang namanya sistem ekonomi kapitalis, yang di dalamnya terdapat riba.

Indonesia merupakan salah satu Negara dengan sistem ekonominya berpacu pada sistem ekonomi kapitalis. Dengan berpacu pada sistem ekonomi kapitalis, menjadikan riba sebagai hal utama untuk meraup keuntungan. Riba yang jelas-jelas dilarang oleh agama, nyatanya masih berlaku di Negara ini yang mayoritas peduduknya muslim.

Bukannya dijauhi, tetapi malah didekati dan disambut dengan tangan terbuka. Tidak jauh-jauh dari itu, riba sekarang ini muncul dalam bentuk pinjaman biaya pendidikan atau student loan. Student loan dikemas cantik, seolah-olah bisa menjadi harapan bagi yang tidak bisa melanjutkan sekolah. Mereka dipinjami alias utang kepada Negara dalam bentuk biaya pendidikan dan dikembalikan nanti jika sudah lulus atau sudah bekerja.

Student loan sendiri artinya pinjaman bagi siswa atau mahasiswa yang ingin melanjutkan studinya, dengan kata lain pinjaman yang ditawarkan kepada siswa atau mahasiswa sebagai biaya pendidikannya dan student loan ini memiliki bunga, dimana bunga dari student loan lebih rendah dari pinjaman yang lain. Bunga yang dimaksud itu sama dengan riba, walaupun demikian, tetap yang namanya riba itu haram, dan dosanya nge-riba-nget.

Dasar pemerintah Indonesia yang ingin mewujudkan student loan berkaca pada negara-negara Barat, salah satunya adalah Negara adidaya, Amerika Serikat (AS) yang sudah terbukti sukses dalam menyalurkan student loan hingga senilai US$1,3 triliun atau setara dengan Rp 17.888 triliun.

Akan tetapi, student loan di AS menyisakan masalah keuangan bagi peminjamnya, dimana dari jumlah peminjam, sekitar 11% menunggak pembayaran cicilan student loan ini, mulai dari menunggak 90 hari dan bahkan ada yang lebih lama dari itu.

Negara adidaya, super power, masih mengalami masalah terkait student loan, apalagi Indonesia. Di AS, student loan menjadi masalah sosial yang memunculkan dilema terkait kepastian pembayaran student loan setelah lulus nanti.

Jangan Ikuti Yang Salah

AS adalah Negara penganut sistem ekonomi kapitalis, dan sistem ekonomi ini telah dipakai oleh sebagian besar Negara di dunia, salah satunya Indonesia. Bukti dari sistem ekonomi ini adalah diberlakukannya riba.

Pendidikan yang seharusnya bisa dijangkau oleh anak bangsa, nyatanya masih ada yang putus sekolah lantaran biaya. Solusi student loan tidak akan menyelesaikan masalah, justru masalah akan tambah, peminjam tentu akan terbebani terkait pembayaran student loan ini, belum tentu setelah lulus bisa langsung diterima kerja atau diterima kerja tapi dengan gaji yang pas-pasan yang belum tentu cukup untuk menanggung cicilan student loan selama masa studi.

Kasus semacam ini memang harus melibatkan peran Negara. Negara harus ikut andil dalam mewujudkan pendidikan dengan tidak membebankan pada rakyatnya dan yang tidak kalah penting, jangan ada riba.[MO]

Posting Komentar