Illustrasi

Oleh: Dwi Rahayuningsih, S.Si

Mediaoposisi.com-Lagi, diskriminasi terhadap kaum Muslimin terjadi. Setelah pelarangan cadar di UIN Suka, kini Persatuan Gereja-gereja di kabupaten Jayapura (PGGJ) membuat sejumlah aturan yang menyudutkan umat Islam.

Diantaranya melarang adzan dikumandangkan dengan keras, melarang pembangunan Menara masjid lebih tinggi dari gereja dan bangunan sekitarnya (dalam hal ini masjid Al-aqsha), melarang siswi memakai kerudung ke sekolah, dan melarang berdakwah.

Di Papua umat Islam jumlahnya lebih sedikit dibanding yang lain. Sebagai minoritas, Islam seringkali mangalami diskriminasi. Bukan hanya kali ini saja, sebelumnya Islam juga pernah mengalami hal yang sama.

Hal ini membuktikan bahwa kondisi umat Islam di wilayah yang minoritas akan mendapatkan perlakuan yang berbeda dengan mayoritas.

Demokrasi Sistem Gagal

Indonesia sebagai negara yang menganut demokrasi liberal, dengan penduduk yang beragam seringkali mengalami masalah horizontal.

Persoalan yang menyangkut perbedaan agama kerap kali memicu konflik. Meski demokrasi menjamin adanya kebebasan individu, yakni kebebasan berpendapat, kebebasan berperilaku, kebebasan kepemilikan dan kebebasan beragama.

Namun faktanya jaminan kebebasan ini hanya berlaku bagi mereka yang mendukung sistem saat ini.
Islam sebagai agama terbesar di Indonesia tidak mendapatkan hak kebebasan tersebut.

Apalagi bagi umat Islam yang hendak melaksanakan ajaran Islam secara kaffah. Cap radikal, garis keras, teroris, dan intoleran disematkan demi untuk membuat kaum muslim phobia terhadap agamanya sendiri.

HAM tidak berlaku bagi Islam. Bukankah menganut agama Islam merupakan Ham dan dijamin dalam undang-undang? Lalu kenapa pemerintah tidak konsisten terhadap aturan yang dibuatnya sendiri?

Salah satu ide demokrasi adalah musyawarah untuk mufakat. Hal ini juga yang selama ini sering digembar-gemborkan.

Namun apakah pernah umat Islam diajak musyawarah pada saat hendak menerapkan aturan di negara ini? Tidak. Semua keputusan pemerintah bersifat mutlak.

Prinsip lain dari demokrasi adalah pengambilan keputusan dengan suara terbanyak. Namun faktanya banyaknya tuntutan umat Islam untuk menerapkan Islam kaffah juga tidak pernah di dengar. Yang ada umat Islam dianggap intoleran.

Jadi jelas bahwa demokrasi hanya memberikan ruang tolenransi pada non muslim. Sementara dengan Islam sama sekali tidak memihak.

Isu demokrasi sebagai sistem yang paling sempurna hanya isapan jempol semata. Sempurna bagi mereka yang pro liberal dan sebaliknya. 

Islam Sistem Yang Sempurna

Hanya Islam sistem kehidupan yang sempurna. Yakni sistem yang datang dari Zat yang Maha Sempurna Allah swt

Dalam Islam kekuasaan berada ditangan umat dan kedaulatan berada ditangan syara’. Artinya manusia tidak berhak untuk membuat aturan.

Hanya Allah yang berwenang untuk membuat hukum. Dan pemerintah sebagai palaksana hukum Allah. Karena aturan dibuat oleh sang pencipta, maka tidak ada satu aturanpun yang dapat merugikan manusia.

Pemerintahan Islam berbentuk Khilafah bukan yang lain. Sistem ini berjalan berdasarkan aqidah Islam, dimana aturan diambil dari Al Qur’an dan Sunnah.

Sebagai sistem yang sempurna, Islam juga tidak membeda-bedakan warga negaranya. Meski tidak memeluk Islam, setiap warga negara mendapatkan hak yang sama.

Mendapatkan riayah yang sama, baik Pendidikan, kesehatan, keamanan, dll.

Sejarah Islam telah membuktikan bahwa, umat non muslim bisa hidup damai dibawah pemerintahan Islam.

Selama 13 abad Islam mampu membuktikan kekuasaannya di muka bumi ini. Dengan ¾ bagian bumi ini hidup dibawah naungan Khilafah.

Kejayaan Islam ini belum ada yang mampu menandingi hingga saat ini. Bahkan negara-negara Eropa banyak yang belajar dari Islam.

Hingga kini belum ada satu ideologipun yang mampu menandingi kejayaan dan kemuliaan Khilafah Islamiyah.

Terbukti demokrasi kapitalis yang banyak diterapkan negeri-negeri muslim saat ini tidak mampu menyejahterakan umatnya.

Bahkan perdamaian yang sering dibicarakan juga tidak terbukti. Kaum muslim banyak yang terhinakan, diskriminasi terjadi dimana-mana.

Demokrasi telah gagal dalam memimpin umat. Demokrasi telah menampakkan sifat aslinya, yang hanya berpihak pada mereka yang pro demokrsi saja.
Untuk itu, saatnya mencampakkan demokrasi. Ganti dengan Islam kaffah, agar perdamaian dan kesejahteraan bisa terwujud.[MO]

Posting Komentar