Oleh: Riva Ummu Layyin, S.Pd
(Pembina Majelis Taklim Al Jannah)

Mediaoposisi.com- Muhadjir Efendi, Mentri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) menegaskan, istri pegawai negeri atau ibu-ibu Dharma Wanita harus ikut ambil bagian dalam pencegahan dan pemberantasan korupsi. Jangan membebani suami di luar kemampuannya.

Setiap keinginan harus terukur dengan kemampuan dan penghasilan suami. Sebaliknya, kalau suami membawa pulang satu karung uang yang bernilai ratusan juta Rupiah, istri harus berani tanya asal-usul uang sebanyak itu. “ini adalah salah satu metode pencegahan korupsi dimulai dari lingkungan keluarga,” kata Muhadjir dalam pidato  pengantar diskusi “Peran Perempuan Dalam Pemcegahan Korupsi di Lingkungan Kemendikbut”, Senin (19/3).

Menurut beliau, korupsi mencerminkan sifat orang yang rakus, tidak peduli nasib orang lain. Menghalalkan segala cara tanpa berpikir akibatnya.(suarasurabaya.net).

Memang benar pernyataan Bapak Mendikbud ini, bahwa rakus adalah satu sifat yang menghantarkan pada tindak korupsi. Mengapa sifat buruk ini muncul?

Jika sifat ini hanya dimiliki segelintir orang, pastilah orang tersebut saja yang bermasalah. Namun faktanya sifat ini terjadi menggurita di masyarakat.

Terbukti korupsi terus terjadi, dari kelas Teri hingga kelas Kakap. Semakin kesini semakin banyak terjadi, seakan tidak bisa dihentikan. Upaya sudah banyak dilakukan. Mulai dari forum-forum diskusi hingga Operasi Tanggap Tangan pun dilakukan. Namun korupsi tidak kunjung mereda.

Sejatinya sifat rakus ini muncul karena sistem kehidupan yang berlaku sekarang. Sistem kehidupan yang diadopsi dalam area publik saat ini adalah sistem hidup kapitalis sekuler (memisahkan agama dari kehidupan). Sistem  ini menjadikan materi sebagai tujuan hidup.

Akibatnya, tujuan itu memunculkan sifat rakus yang akan memberikan dorongan kuat untuk melakukan korupsi. Sistem tersebut juga memberi ruang bebas bagi gaya hidup hedonis.
 
Juga menstimulus keinginan untuk menikmati semua kesenangan yang ditawarkan dunia, bahkan bermegah-megahan dalam merasakan kemewahan dunia. Tentu ini semakin memperbesar dorongan untuk melakukan korupsi.

Dorongan itu makin tak terkendali dengan lemahnya keimanan terhadap kehidupan akhirat dan pertanggungjawaban kepada Allah. Kehidupan dunia saja yang diutamakan. Agama tidak boleh hadir di ruang publik. Agama hanya ada di ruang pribadi, yang hanya dibutuhkan dalam pernikahan dan  kematian saja.

Korupsi tidak akan terjadi jika keimanan seseorang kuat.  Keyakinannya bahwa segala perbuatan yang dilakukan di dunia akan dimintai pertanggungjawaban oleh Sang Pencipta, akan menjaganya untuk selalu berlaku jujur dan memperhatikan aspek kepemilikan.

Demikian juga keimanan akan adanya siksa di akherat jika melanggar syariat, akan menjaganya untuk selalu taat.  Semua ini hanya dapat terwujud jika seseorang memiliki kepribadian Islam yang kuat.
 
Di sisi lain, sistem hidup yang berlandaskan kepada akidah Islam akan menjadi pagar yang menjaga seseorang selalu berada dalam kejujuran, tidak berlaku curang dan amanah. Kesadaran bahwa Allah Maha Melihat dan Maha Mengetahui akan menjadi bentuk pengawasan melekat yang efektif. Penerapan sistem sanksi berdasarkan Islam, yang bersifat tegas dan tidak tebang pilih,  akan mencegah seseorang untuk berlaku curang.
 
Selanjutnya, sanksi sesuai syariat Islam mampu memberikan efek jera bagi orang lain, yang baru berniat melakukan korupsi.  Belum lagi budaya amar ma’ruf nahi munkar antar sesama manusia juga memberikan suasana yang positif untuk pencegahan korupsi pada siapa saja.

Semua keindahan itu bukan dongeng utopis, namun realitas yang telah diabadikan dalam sejarah.  Sepenggal kisah kehidupan Fathimah bin Abdul Malik bin Marwan, anak perempuan satu-satunya Abdul Malik, seorang Khalifah Bani Umayyah, dengan ikhlas menanggalkan dan meninggalkan kemewahan hidup sebagai putri orang nomor satu, hanya karena suaminya, Umar bin Abdul Aziz yang saat itu dinobatkan sebagai Khalifah memilih untuk hidup sederhana.

Usai dibai’at rakyatnya, Umar berkata kepadanya, “Isteriku sayang, aku harap engkau memilih satu di antar dua. Memilih antara perhiasan emas berlian yang kau pakai atau Umar bin Abdul Aziz yang mendampingimu.”

“Demi Allah,” kata Fatimah, “Aku tidak memilih pendamping lebih mulia daripadamu, ya Amirul Mukminin. Inilah emas permata dan seluruh perhiasanku.” Maka Fatimah, rela tidak merasakan kenikmatan dunia, ridlo mengikuti kebiasan suaminya  makan kacang bercampur bawang dan adas, sebagai makanan rakyat awam.

Kisah keluarga Umar bin Abdul Aziz hanyalah secuil kisah-kisah keteladanan pejabat publik muslim dan keluarganya, yang tidak tergiur dengan kenikmatan dunia yang berlebihan.  Semua keteladanan itu hanya dapat terwujud ketika Islam diterapkan secara kaffah.
 
Karena itu, jika ingin memberantas tuntas korupsi dengan segala bentuknya dan dalam seluruh lini kehidupan, kita harus mengganti sistem hidup kapitalis sekuler yang diterapkan saat ini, dengan sistem Islam, yang diterapkan secara menyeluruh dalam seluruh aspek kehidupan.[MO]




Posting Komentar