Presiden Jokowi dan Megawati

Oleh: Nasrudin Joha

Mediaoposisi.com-Publik begitu jengah ketika diskursus pasangan Jokowi* mulai dilafadzkan berulang-ulang seperti merapal mantra-mantra ajian buluh perindu yang ingin mempengaruhi psikologi netizen. Nama yang disebut seolah dicokok cocokan. Dalam istilah Jawa, disebut gathuk mathuk asal kepethuk.

Ada yang menyodorkan diri dari kalangan militer, dengan argumen pasangan sipil militer akan saling melengkapi. Ada yang menyodorkan tokoh luar Jawa, agar pemerintahan tidak cenderung Jawa sentris.

Ada yang nyodok mengklaim diri dari kalangan santri, menawarkan argumen agar Jokowi disukai kalangan muslim. Ada yang menawarkan putra mahkotanya untuk mendampingi Jokowi.

Ada yg bergerilya melalui dunia maya, menawarkan diri sebagai calon yang pas mendampingi Jokowi. Sampai-sampai partai bintang mercy ikut meradang atas ikhtiar itu. Partai bintang mercy itu, bahkan tidak mengindahkan eksistensi si calon yang berasal dari partainya.

Sebenarnya, konsep mencari pasangan Jokowi itu harus memiliki kriteria sbb : 

Pertama, calon yang disodorkan harus melengkapi kekurangan Jokowi. Sehingga jika dipasangkan, calon tadi bisa menutupi apa yang menjadi kelurahan Jokowi.

Kedua, calon tadi bisa menarik publik untuk mendekat pada Jokowi. Mencari calon yang kontra publik, akan menjauhkan Jokowi dari ceruk pasar publik.

Ketiga, calon tersebut harus memiliki kekuatan finansial. Sebab, sudah jadi rahasia umum kunci utama segala urusan itu yang  modal.

Keempat, harus dipastikan calon tadi tidak memiliki konflik kepentingan dengan Jokowi.

Dari semua syarat diatas, tidak ada satupun nama calon yang digadang mendampingi Jokowi memenuhi kriteria. Karenanya, berdasarkan empat kriteria diatas, yang paling cocok mendampingi Jokowi adalah Vigour sbb :

Pertama, Pak Slamet, pedagang bubur ayam dari daerah Cirebon yang terkenal dengan bubur Cirebonnya.

Kedua, si Togar tukang tambal ban, ia paling piawai menambal ban di pinggiran jalan.

Ketiga, Mas Langkut pedagang mie ayam. MIE ayam Wonogiri nya sangat Mak nyus.

Keempat, Ce Piping tukang es keliling.

Empat nama tadi akan menjadi pasangan paling ideal untuk mendampingi Jokowi mengelola usaha mebelnya. Asal punya modal semua ya.

Unit usaha mebel yang ditopang usaha MIE ayam, bubur ayam, es dan tukang tambal ban, akan memberikan layanan tambahan pada costumer.

Usaha yang variatif ini akan saling mendukung dan melengkapi. Ceruk pasar akan semakin terbuka lebar, sebab orang bisa jadi cuma iseng beli Bubur ayam. Tetapi begitu melihat dipan bagus, segera ia membeli dipan di toko mebel Jokowi.

Begitu  juga, jika orang membeli mebel tiba-tiba ban mobilnya kempis, bengkel Togar segera menambalnya. Jadi, Jokowi tidak kehilangan potensi customer hanya karena urusan ban bocor.

Jadi menurut penulis, semua pengamat terlalu jauh ekspektasinya meneropong siapa pendamping Jokowi. Seharusnya semua pihak wajib menahan diri, dan tidak terlalu dini membuat kalkulasi politik. Tetapi begitulah, namanya juga ikhtiar, siapa tahu iseng iseng tapi berhadiah. [MO/br].


NB. Jokowi* adalah seorang pedagang mebel di bilangan pasar karang anyar, itupun konon saja, menurut hikayat lama yang dikutip dari sumber yang tidak dapat dipertangungjawabkan.

Posting Komentar