Asyari Usman

Oleh: Nasrudin Joha

Mediaoposisi.com- Penulis bahagia ketika menerima broadcast artikel karya Asyari Usman di layar Gadget persegi panjang. Tulisan tentang Novanto dan sikap picik partisan metro TV, adalah dua artikel yang sempat penulis baca.

Dahulu kala, ketika zaman Jahiliah tulisan-tulisan Asyari Usman hadir sebagai pencerah. Namun sejak kasus pelaporan Romi, ulasan pencerah itu menghilang, cahaya itu meredup, petunjuk jalan itu punah.

Awalnya penulis menduga, Asyari Usman memutuskan diri mengurung diri didalam kamar. Membenamkan seluruh bongkahan pemikirannya pada lembar lembar khayal. Menepi dan bersemadi, ujlah dari hingar bingar politik yang menyesatkan.

Padahal, bagi seorang penulis menulis itu darah, detak jantung dan bukti eksistensi diri. Menulis itu menumpahkan gejolak dan amarah, menyalurkan rasa gundah,  dan membentengi umat dari kerusakan rezim dzalim.

Penulis berkeyakinan, Asyari Usman pasti menulis lagi. Dia tidak akan kuat menahan diri untuk menulis. Penulis tidak menulis itu berat, Asyari pasti tidak akan kuat, suatu saat dia pasti menulis.

Akhirnya jawaban itu datang, setelah sekian abad dalam penantian akhirnya tulisan Asyari Usman kembali menghiasi layar Gadget. Netizen akan kembali ramai berhairah, membahas diskursus opini yang ditelurkan artikel Asyari Usman.

Sisi yang menarik dari Asyari Usman, dia bukan penulis biasa. Dia wartawan senior dan pernah berbhakti di BBC. Gaya ferifikasi informasi yang ditelurkan akan lebih padat dan bernas, karena memenuhi standar jurnalisme.

Namun tetap saja pembaca tidak akan kehilangan gairah, tulisannya tetap renyah dan sangat mencerahkan. Tulisannya tetap kritis, meski rezim pernah berlaku bengis terhadapnya.

Tulisan Asyari Usman akan menjadi penyeimbang opini, ditengah arus media mainstream yang membangun opini untuk melindungi singgasana rezim. Hari gini jangan lugu memahami media. Media itu menghadirkan fakta yang ditafsirkan, bukan mengungkap fakta apa adanya.

Setiap media memiliki visi tersendiri. Ada kasus yang sama (misalnya aksi 212), beda pemberitaan antara kompas dan republika, viva dan detik, Jawa pos dan era muslim. Metro tivi saja sampai menyebutnya dengan istilah "perayaan intoleransi".

Asyari Usman memberi sudut pandang yang bebas mandiri, tidak terikat oleh kepentingan media. Sebab, siapapun penulis jika berani lancang melacurkan misi dia akan ditinggalkan netizen.

Faisal Assegaf telah merasakan betapa menyakitkan vonis netizen, ketika dirinya merubah haluan. Faisal asegaf sudah tamat, tulisannya tidak lagi dirindukan netizen. Dia berani mengubah haluan, yang itu membuat antipati netizen. Meskipun, mungkin perubahan posisi itu mendapat tepuk tangan ahoker dan para kecebong.

Akhir kata, Selamat datang Asyari Usman. Silahkan ambil posisi yang Anda sukai, menjadi penyerang atau gelandang.

Nasrudin Joha, dari sudut yang lain, dari arah yang tidak disangka dan dinyana, akan melambungkan bola dengan kecepatan kilat dan membobol gawang rezim tiran, menyudahi pertarungan dan mengembalikan keadilan dan kemaslahatan kepada umat, pihak yang selama ini didzalimi.

Saya tidak akan meminta Anda berhenti menulis, karena bagi penulis tidak menulis itu menyakitkan. Itu sulit sekali, itu sangat sadis. Saya yakin, tulisan-tulisan Anda dengan sudut kamera yang pas, pastilah akan selalu menjadi sesuatu yang booming. [MO/br].

Posting Komentar